[Resensi] Beratnya Jadi Perempuan 
 
Judul Buku            : Wanita, Karier, dan Rumah Tangga
Penulis : Nagiga dan Dian Ipung, Psi
Genre                    : Kisah Nyata (True Story)
Penerbit        : Elex Media Komputindo (Gramedia Group)
Tahun Terbit    : 2009
Harga   : Rp 37.800,-


Beratnya Jadi Perempuan 
Oleh : Titiana Adinda (Penulis dan Aktivis Perempuan)

Membaca buku ini sungguh menyenangkan karena penulisnya cukup pandai menyusun 
kalimat. Tidak terasa jika membaca 15 kisah nyata dalam buku ini. Format buku 
ini yang dimulai dengan penggambaran kasus atau permasalahan yang terjadi 
sangat apik ditulis oleh Nagiga. Begitu juga dengan pembahasan alternatif 
solusinya oleh Dian Ipung, Psi.
Mencari buku `saran' terhadap permasalahan yang dihadapi oleh perempuan memang 
susah-susah gampang. Baca saja rubrik konsultasi psikologis yang bertebaran di 
berbagai media massa. Tidak semuanya memiliki perspektif ramah terhadap 
perempuan. Yang terjadi justru sebaliknya yaitu psikolog menyalahkan perempuan 
tersebut. Banyak psikolog yang terjebak pada peran domestik perempuan. Yang 
hanya menilai perempuan hanya punya kewajiban di dapur, sumur dan kasur saja.

Permasalahan perempuan didalam buku ini sungguh sangat kentara dikisahkan. Dari 
mulai karier, jodoh dan rumah tangga. Misalnya pada kisah yang berjudul 
"Menunggu Jodoh " terlihat sekali bagaimana perempuan telah ditempatkan oleh 
masyarakat kita untuk lebih memilih laki-laki ketimbang memajukan kariernya. 
Topik tentang perempuan sebagai pemimpin di kantor (istilahnya bos) juga 
dikisahkan dengan sangat baik oleh penulisnya. Ketika membaca buku ini. Kita 
seolah-olah melihat permasalahan itu lekat dengan kita sebagai perempuan jadi 
kita seakan-akan larut dalam kisah yang diceritan, seperti diri kita yang 
menjadi subyek kisah tersebut.

Tetapi sangat disayangkan pemilihan kata wanita lebih banyak dipakai daripada 
perempuan. Buat para aktivis perempuan pemilihan kata menentukan nilai 
ideologis politik seseorang. Kata wanita yang dipahami berasal dari kata 
wani-ditata (berani ditata) menempatkan perempuan sebagai subyek nomer dua. 
Sedangkan kata perempuan yang berasal dari kata pere dan empu yang berarti 
orang yang pandai dinilai lebih menempatkan perempuan sebagai subyek sejajar 
dengan laki-laki. Saya tidak mengetahui mengapa didalam buku ini ada yang 
menggunakan kata perempuan dan kata wanita bahkan dalam pemilihan judulnya 
menggunakan kata wanita. Mudah-mudahan pemilihan kata wanita pada judul dan 
penuturan kisah di dalamnya bukan karena alasan politis ideologis tetapi karena 
tren pasar saja. 

===
http://titiana-adinda.blogspot.com
http://buku-buku-dinda.blogspot.com








Kirim email ke