Artikel: Paku Yang Berserakan Di Jalan
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Salah satu ucapan yang tidak terasa sering kita ungkapkan adalah frase ’tidak 
terasa, ya’. Sehingga, diakhir pekan kita kerap mengatakan; ”Duh, tidak terasa 
ya, sudah hari jum’at lagi”. Dan diakhir bulan kita mengatakan;”Tidak terasa 
ya, kok sudah akhir bulan lagi”. Lalu diakhir tahun, kita bilang; ”Tidak terasa 
ya, sebentar lagi tahun baru.....”  Waktu yang didepan seolah terlihat berat 
untuk dijalani, ternyata ’tidak terasa’ sudah kita lalui tanpa kendala yang 
berarti. Sekarang, mari diingat lagi; berapa tahun usia anda saat ini? Bukankah 
kita telah menjalani tahun demi tahun kehidupan kita itu, nyaris ’tidak 
terasa’  juga?
 
Kalau sedang berjalan kaki, saya sering menemukan paku di jalan. Demikian pula 
halnya ketika tengah bersepeda. Kehadiran paku dijalan menarik perhatian saya. 
Karena, saya merasa bahwa jalan bukanlah tempat dimana paku seharusnya berada. 
Pernah suatu kali kepalan tangan saya tidak lagi bisa dimuati oleh apapun 
karena didalamnya terdapat segenggam penuh paku yang saya punguti di jalan yang 
saya lintasi. Sehingga saya harus menyediakan wadah khusus untuk menampung 
paku-paku itu. Dalam hati saya berbisik;’seandainya semua paku di seluruh jalan 
di negeri kita dipunguti, berapa ton paku yang bisa dikumpulkan?’
 
Mungkin saya agak berlebihan soal ’berapa ton’ itu, kalau diartikan sebagai 
satuan berat ’seribu kiloan’. Tapi, kalau ’ton’ dalam pengertian satuan jumlah 
’seribuan’, saya yakin ungkapan ’berapa ton’ itu tidak berlebihan. Artinya, ada 
ribuan buah paku yang berserakan di jalan. Ketika saya membayangkan beribu-ribu 
paku yang menghadang kita dijalan, saya juga membayangkan; betapa ban kendaraan 
kita berada pada situasi yang sangat kritis saat melintasi jalan-jalan itu. 
Karena, setiap kali kita melintas, maka ada peluang ban kendaraan kita tertusuk 
paku-paku itu. Anehnya, mengapa tidak semua kendaraan yang melintasi jalan itu 
bannya bocor terkena paku? Bahkan, dalam setahun saya lalu lalang disana, belum 
tentu ban kendaraan saya kena paku barang sekalipun. Padahal kita tahu, disana 
banyak paku berserakan.
 
Mengingat itu, hati saya sering menjadi lebih terhibur. Mengapa? Karena, 
seperti jalanan yang berpaku disana-sini itu; kadang-kadang saya melihat jalan 
hidup ini juga sedemikian beresikonya untuk dilalui. Resiko kehilangan 
pekerjaan, resiko ditolak oleh pelanggan, resiko dilecehkan teman, resiko 
disepelekan atasan, resiko tidak memperoleh pendapatan yang sepadan, resiko 
kebangkrutan, resiko ini, dan resiko itu. Rasanya, kita tidak perlu memungkiri 
bahwa semua kemungkinan itu sering membuat hati kita ciut. Namun, membayangkan 
bahwa setiap hari kendaraan kita melintasi jalan yang berpaku; maka setiap hari 
kita berpeluang untuk mengalami bocor ban di jalan. Anehnya, kita tidak setiap 
hari mengalami bocor ban. 
 
Menerima fakta itu membantu hati saya untuk menyadari bahwa; meskipun setiap 
hari kita melintasi jalan kehidupan yang penuh resiko, tapi ternyata kita tidak 
selamanya mengalami kejadian ’semengerikan’ itu. Mari kita tengok kebelakang 
barang sejenak. Lima tahun yang lalu, misalnya, kita tidak bisa membayangkan 
bagaimana caranya menjalani kehidupan selama lima tahun kedepan. Namun, 
kenyataannya adalah; kita sudah menjalani waktu lima tahun terakhir ini hingga 
saat ini, dengan ’tanpa terasa’. Hebatnya lagi, ternyata kita baik-baik saja. 
 
Sekarang, mari kita berdiri disebuah titik yang kita sebut sebagai ’saat ini’, 
lalu memandang jauh kemasa depan. Apakah kita merasakan kegalauan itu? Kita 
galau karena tidak ada kepastian akan masa depan kita. Tetapi, mari kita tengok 
beberapa tahun lalu ke belakang ketika kita merasakan kegalauan yang sama. Kita 
bisa sampai di titik ini, dengan selamat. Oleh karena itu, meski saat ini kita 
didera galau yang sama ketika memandang masa depan; semoga kita masih memiliki 
kekuatan untuk meyakini bahwa kita akan berhasil melewati masa depan itu 
seperti halnya kita telah berhasil melampaui masa lalu kita. 
 
Ngomong-ngomong, menurut pendapat anda; mengapa ban mobil kita jarang bocor 
meskipun setiap hari melintasi jalan yang berpaku? Mungkinkah itu karena Tuhan 
melindungi agar ban mobil kita tidak terlampau sering terkena paku? Kalau 
begitu, menurut pendapat anda; mengapa hidup kita jarang bahkan tidak pernah 
mengalami peristiwa mengerikan, meskipun setiap saat kita melintasi jalan hidup 
yang berpeluang untuk mengalami peristiwa-peristiwa mengerikan? Mungkinkah itu 
karena Tuhan tiada henti-hentinya menjaga diri kita agar tidak mengalami 
hal-hal mengerikan yang melampaui batas kemampuan kita?
 
Lebih dari itu, Tuhan telah menjagakan kita agar tidak semua peluang tak 
menyenangkan itu benar-benar menjadi kenyataan. Memang, kita menghadapi begitu 
banyak peluang buruk yang tidak kita sukai. Namun, Tuhan telah menebarkan 
peluang baik jauh lebih banyak dari hal-hal buruk yang mungkin menimpa diri 
kita. Dan itu cukup untuk membuktikan bahwa sebenarnya Tuhan berpihak kepada 
kita. Sebab, ketika Dia memberi peluang baik lebih banyak dari peluang buruk, 
maka sesungguhnya Dia ingin agar kita berkesempatan untuk mendapatkan peluang 
baik itu.  
 
Jika sampai sekarang hidup kita baik-baik saja; tidak berarti bahwa kita tidak 
pernah mengalami cobaan, bukan? Kita mengalami banyak cobaan, namun sejauh ini 
semua cobaan itu masih dalam batas-batas kemampuan kita. Ini cocok dengan 
penjelasan guru ngaji saya bahwa; ”Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada 
seseorang, melainkan dalam batas kemampuan dirinya.”
 
Peluang buruk itu seperti paku yang berserakan dijalan. Jika kita memilih untuk 
memarkir kendaraan dirumah karena khawatir bannya akan kempes tertusuk paku 
yang berserakan; maka kita tidak akan pergi kemana-mana. Sebaliknya, jika kita 
bersedia mengambil resiko itu, maka kita akan mengeluarkan kendaraan dari 
garasi. Lalu kita melintasi jalan yang seharusnya kita lalui. Meskipun itu 
berarti bahwa kita menghadapi resiko ban bocor. Namun, kenyataannya ban kita 
tidak terlampau sering bocor. Bahkan, sekalipun kita melintasi jalan berpaku  
setiap hari. 
 
Barangkali, jalan hidup kita juga memang demikian. Meskipun banyak resiko yang 
kita hadapi saat melintasinya; namun, tampaknya kita akan baik-baik saja saat 
menjalaninya setiap hari. Sehingga, memilih untuk menyingsingkan lengan baju 
lalu bangkit berdiri, kemudian melangkah menjalani hidup ini; adalah pilihan 
yang jauh lebih baik daripada menyerah dan berdiam diri. Sebab, saat kita 
menyerah; kita melewatkan beribu kesempatan dan kemungkinan untuk memperoleh 
anugerah yang kita sendiri tidak pernah tahu sebesar apa. Sebaliknya, saat kita 
berserah diri kepada keberpihakan Tuhan terhadap kesuksesan kita, lalu kita 
memohon ijin kepada-Nya untuk berikhtiar; maka kita memiliki harapan untuk 
berhasil melintasi perjalanan hidup ini dengan baik. Dan, tanpa terasa; kita 
bisa tiba diakhir perjalanan yang telah Tuhan tentukan untuk kita. Lalu saat 
itu kita boleh kerkata; ”Tuhan, telah kutunaikan seluruh panggilan-Mu. Dengan 
segala kurang dan lebihku. Dan kini,
 ijinkan aku untuk menyerahkan penilaian akhir kepada-Mu....”
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Sepertiga dari kengerian yang terpampang dimasa depan adalah ilusi kita. 
Sepertiganya lagi adalah alat untuk meningkatkan ketangguhan kita. Dan 
sepertiganya lagi adalah pengingat agar kita tidak terlampau sombong dihadapan 
Tuhan.
 
Sekarang, cuplikan-cuplikan video saya sudah bisa diakses di Youtube. Search 
disana dengan key word ’dadang kadarusman’.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke