Tahun baru hijriah mengingatkan kita pada kejadian spektakuler dalam sejarah 
Islam, Hijrah. Secara harfiah dia berarti berpindah dari satu titik ke titik 
yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain. Secara historis, hijrah adalah 
berpindahnya Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dari Makkah menuju Madinah, 
dan beliau berhasil mempersatukan kaum anshar dan muhajirin, yang dari dulunya 
tak mampu dipersatukan. Tahun baru hijriah mulai diberlakukan pada masa 
khalifah Umar Bin Khatab. Namun Tahun baru hijriah tidak mengambil nama “Tahun 
Muhammad” atau “Tahun Umar”, sehingga tidak mengandung unsur pengagungan/ 
pengkultusan terhadap nama seseorang. Tidak seperti tahun masehi yang 
mengandung unsur pemujaan dan penonjolan personifikasi dari gelarnya Nabi Isa 
as, atau orang kristen sekarang menyebutnya dengan Yesus (Padahal sebenarnya 
tidak sama juga, Yesus yang disalib bukanlah Nabi Isa). Gelar itu adalah 
Al-masih (Bahasa Arab) atau Mesiah (Ibrani).
 Oleh karena tahun itu disebut tahun masehi, sebelum kelahiran Yesus disebut 
sebelum masehi (SM) dan setelah kelahiran Yesus, disebut masehi (M).
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tanggal 1 Januari dirayakan sebagai hari 
tahun baru. Tepatnya tanggal 1 Januari tahun 45 Sebelum Masehi (SM). Tak lama 
setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, dia memutuskan untuk 
mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 
SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, 
ahli astronomi dari Aleksandria, yang menyarankan agar penanggalan baru itu 
dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan 
orang-orang Mesir.
Sementara kalender sekarang yang banyak dicari di akhir tahun adalah Kalender 
Gregorian atau kalender Masehi. Kalender ini yang dinobatkan sebagai standard 
penghitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk 
menentukan jadwal kebaktian gereja-gereja Katolik dan Protestan. Termasuk untuk 
menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.
Orang brazil contohnya, mereka berbondong-bondong ke pantai dengan pakaian 
serba putih, mereka menabur bunga di laut, mengubur pepaya, mangga dll di pasir 
pantai sebagai pemujaan terhadap sang dewa lemanja, dewa laut oleh rakyat 
brazil. Tak berbeda dengan orang romawi kuno, merekapun pun saling memberikan 
hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, 
mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa 
pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama 
dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap 
ke belakang). Orang Jerman memiliki kepercayaan bahwa siapa yang memakan sisa 
hidangan pesta 1 januari, maka dia tidak akan kekurangan pangan selama 1 tahun 
penuh.Masuk akalkah ini?
Masehi, 1 Januari, kita merasa sedih, banyak diantara kita yang tak sadar bahwa 
sebenarnya itu adalah bagian dari perayaan hari suci umat kristen. Semoga kita 
dilindungi Allah dari segala bentuk euforia akhir tahun masehi ini. Momentum 
pertengahan Desember 2009, ada peringatan Natal, ada peringatan Tahun Baru 
Masehi. Semua kita tahu. Tapi tahukah kita Tahun Baru kita kapan??? Tahukah 
kapan kita dilahirkan ke dunia dalam bulan hijriah?? Saya yakin tak banyak 
diantara kita yang tahu.
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 Hijriyah, kali ini diapit dua hari besar 
internasional, yakni Hari Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tentu saja ini 
merupakan fenomena alam yang lumrah, mengingat perhitungan tarikh Hijriyah 
dengan tarikh Masehi, memiliki selisih sebelas hari setiap tahunnya. Ini 
lantaran masing-masing tarikh, menggunakan patokan yang berbeda. Tahun Masehi 
dihitung berdasarkan peredaran matahari (solar system) sedangkan tahun Hijriyah 
diukur berdasarkan peredaran bulan (lunar system).

Peredaran matahari dan bulan yang tidak berbarengan, menyebabkan jumlah hari 
dalam tahun Masehi dan Hijriyah, memiliki perbedaan. Tahun Masehi berjumlah 365 
hari, tahun Hijriyah 354 hari. Itu pula sebabnya, pada kurun-kurun tertentu, 
tahun baru Hijriyah akan berdekatan dengan tahun baru Masehi. Bahkan pada tahun 
2008 ini, kita mengalami dua kali tahun baru Hijriyah. 

Ini adalah fenomena alam yang lumrah. Namun, di balik fenomena alam yang lazim 
ini kita bisa menyibak hikmah. Diapitnya Tahun Baru Hijriyah, oleh Hari Natal 
dan Tahun Baru Masehi, semakin mengingatkan kita bahwa kehidupan di atas 
semesta, tidak bisa dilepaskan dari kemajemukan alias keberagaman. Seperti 
majemuknya unsur-unsur alam yang kita tempati ini. Ada matahari, bulan, 
bintang, awan, angin, hujan, laut, daratan, pepohonan, rerumputan, hewan dan 
manusia, yang masing-masing memiliki ciri khas berbeda. Namun kerjasama atau 
kebersamaan semua unsur alam ini, akan membuat alam ciptaan Tuhan berada dalam 
keseimbangan alias harmoni. Jika satu saja unsur alam tersebut berjalan sendiri 
dan tidak mau berbagi, maka semesta ini akan dilanda disharmoni.

Celakanya, manusialah yang terkadang tidak mau berbagi dengan sesama manusia 
lainnya. Seakan lupa bahwa manusia itu terdiri atas berbagai ragam, baik secara 
fisik maupun pikiran. Secara fisik, muncul rasisme. Dari segi pikiran, muncul 
orang-orang yang menganggap pendapat dan keyakinannyalah yang paling benar. 
Pendapat dan keyakinan yang berbeda dianggap sesat dan perlu diberantas. 
Fenomena seperti ini sangat menggejala di tahun 1430 Hijriyah atau tahun 2009 
Masehi.

Padahal, jika kita simak kembali perjalanan Hijrah Rasulullah Muhammad SAW, 
yang menjadi “titimangsa” diletakkannya penghitungan tarikh Hijriyah oleh 
Khalifah Umar ibnu Khattab, kita bisa menemukan banyak sekali keteladanan 
Rasulullah dalam menghargai dan menghormati keberagaman. Di Madinah, tempat 
Sang Nabi dan para pengikutnya berhijrah, Nabi mengakui keberadaan semua unsur 
masyarakat yang telah lama hidup di kota yang sebelumnya bernama Yastrib itu. 
Ada kelompok suku Aus dan Khajraj. Ada kaum Yahudi. Ada umat Nasrani. Belum 
lagi para pendatang dari Makkah yang disebut Muhajirin (orang-orang yang 
berhijrah) dan penduduk asli yang masuk Islam atau kaum Anshor (para penolong 
orang-orang yang berhijrah).

Kesemua unsur masyarakat Madinah tersebut, memperoleh hak yang sama. Nabi 
memerintahkan agar semua kelompok saling menghargai dan menghormati asal-usul 
serta keyakinan masing-masing. Ada salah satu peristiwa, yang mungkin bisa 
dijadikan contoh bagaimana Rasulullah sangat menghormati kemajemukan itu. Pada 
suatu hari lewatlah serombongan pengantar jenazah di hadapan beliau, yang 
ketika itu tengah duduk berbincang dengan beberapa sahabatnya. Jenazah dan para 
pengantarnya itu adalah orang-orang Yahudi. Seketika Sang Nabi berdiri dengan 
takzim, menghormati jenazah yang lewat.

“Mengapa Anda melakukan itu Ya Rasul. Bukankah itu jenazah orang Yahudi? 
Haruskah Anda menghormatinya?” Tanya salah seorang sahabat. “Dia adalah manusia 
juga, seperti kita, yang berpulang ke Rahmatullah. Kita pun akan kembali 
padaNya,” ujar Rasulullah. Serempak para sahabat itu pun berdiri, mengikuti 
Sang Nabi, menghormati jenazah orang Yahudi.

Pun, jangan lupa. Sebelum berhijrah ke Madinah, para pengikut Rasulullah pernah 
pula berhijrah dalam dua gelombang ke sebuah negeri bernama Abessinia 
(Ethiopia). Penguasa negeri itu, Kaisar Najasyi (Negus) adalah seorang penganut 
Kristen. Begitu pula sebagian besar rakyatnya. Orang-orang Muslim yang 
berhijrah ke Abessinia mendapat perlindungan keamanan dari Sang Kaisar, 
sehingga terbebas dari orang-orang Quraisy yang berniat membunuh mereka.

Rasulullah sangat berterima kasih kepada Sang Kaisar, yang telah memberikan 
tempat terhormat dan melindungi para penganut ajaran Islam. Sehingga 
bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, ketika Nabi Muhammad SAW mendengar 
kabar duka bahwa Kaisar Negus telah mangkat, beliau menangis. Lalu mendo’akan 
arwah Sang Kaisar, agar diterima di sisiNya.

Tarikh Hijriyah, kini telah mencapai bilangan 1431 tahun. Ini berarti sudah 
hampir 15 abad, secara turun temurun, umat Islam di seluruh dunia memperingati 
peristiwa Hijrah Rasulullah. Peristiwa yang mengandung banyak hikmah, terutama 
yang berhubungan dengan interaksi antar-manusia (hablumminannas). Dan, tahun 
ini, secara kebetulan tanggal 1 Muharram 1430 Hijriyah, berada sangat 
berdekatan dengan Hari Natal dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tidakkah ini 
mengingatkan kita akan kemajemukan kita yang merupakan fitrah atau sunnatullah? 
Tidakkah kita ingat akan keteladanan Rasululah dalam menghargai keberagaman dan 
perbedaan? Bahkan Sang Kekasih Allah itu selalu menganggap perbedaan sebagai 
hikmah.

Mari kita berhijrah meninggalkan ketertutupan (eksklusivisme) menuju 
keterbukaan (inklusivisme). Meninggalkan kesempitan pikiran menuju keluasan 
pandangan. Sehingga kita pun tidak selalu merasa diri kita paling benar, karena 
kebenaran ada di mana-mana. Wallahu ‘alam bisshawab. Hanya Allah yang tahu.

Add Facebook Anti NII KW9 pesantren alzaytun yang sesat dan menyesatkan 

[email protected]


      Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke