Artikel:  Apakah Nasib Seseorang Bisa Berubah?  
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Kita percaya akan nasib baik, dan nasib buruk. Herannya, ketika roda kehidupan 
berada ’dibawah’ kita sering berkata ”Mau bagaimana lagi? Nasib kita memang 
seperti ini....” Tetapi, kalau segala sesuatunya sedang indah berbunga-bunga 
kita tidak pernah mengingat-ingat soal ’nasib’. Seolah-olah definisi kita 
tentang nasib selalu berkaitan dengan hal-hal buruk dalam hidup. Kita sering 
merasa bahwa semua pencapaian baik diperoleh dari jerih payah diri kita 
sendiri. Sedangkan keburukan dan kesialan semata-mata adalah nasib dari Tuhan. 
Terlebih lagi, kita sering mengira bahwa Tuhan terlalu diktator sehingga dia 
menentukan nasib seseorang tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Benarkah demikian?
 
Ditengah perjalanan saya berhenti untuk beristirahat disebuh Masjid. Kemudian, 
menuju ke ruang bersuci. Jika anda ingin membuka keran air, anda putar keran 
berlawanan dengan arah jarum jam, bukan? Dalam ilmu fisika, itu disebut 
’besaran vektor’, dimana usaha yang kita lakukan menghasilkan suatu gaya yang 
memiliki arah. Aplikasinya, untuk menutup keran air kita memutarnya searah 
jarum jam, sedangkan untuk membukanya kita memutar kearah berlawanan. 
 
Saya sudah memutar keran sesuai dengan hukum fisika itu. Tetapi, usaha saya 
tidak berhasil. Saya pikir kerannya macet sehingga membutuhkan tenaga lebih 
besar. Namun, sekuat apapun saya memutarnya, keran itu tidak hendak bergerak. 
Dalam situasi yang nyaris membuat frustrasi itu, secara tidak sengaja saya 
melakukan putaran kearah sebaliknya. Dan tiba-tiba saja air dalam keran itu 
meluncur keluar.  Ternyata, ada keran air yang untuk membukanya kita tidak 
memutar kekiri seperti yang diajarkan oleh ilmu fisika, melainkan kearah yang 
berlawanan. Hebatnya lagi, setelah pengalaman pertama itu, saya menjadi sering 
menemukan keran air ’nyeleneh’ seperti itu.
 
Keran air aneh itu seolah mengingatkan kita bahwa paradigma-paradigma yang 
selama ini kita yakini benar itu belum tentu benar-benar ’benar’. Tanpa 
disadari, dalam hidup kita juga sering mengira bahwa nasib kita sudah dikunci 
oleh takdir. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima apa adanya. 
Terserah kemana nasib membawa diri kita. Makanya, kalau hidup kita kurang 
beruntung kita boleh menoleh kepada Tuhan. Karena, Dia-lah yang telah 
menentukan takdir kita. Jadi, Dia-lah juga yang harus bertanggungjawab atas 
baik atau buruknya nasib kita. Sehingga, tidak heran jika kita sering 
menyalahkan Tuhan atas kegagalan-kegagalan yang kita derita.
 
Bayangkan seandainya anda menemukan keran air seperti itu, lalu anda bersikeras 
untuk membukanya dengan memutar kearah kiri. Sekuat apapun anda, tidak akan 
bisa membuat keran itu mengalirkan air. Barangkali, hidup kita juga demikian. 
Bisa jadi setiap kegagalan yang kita alami itu bukan karena nasib semata. 
Melainkan karena kita terlampu keras kepala untuk melakukan segala sesuatunya 
dengan cara-cara yang kita anggap benar. Kita memaksakan diri agar orang lain 
atau lingkungan melakukan segala sesuatunya sesuai keinginan kita. Padahal, 
bahkan keran air pun memiliki aturannya sendiri. Sehingga supaya airnya keluar, 
kita harus bersedia mengalah. Dan meletakkan dogma dalam pelajaran ilmu fisika. 
Lalu, mengikuti aturan keran itu untuk memutarnya kearah yang bertolak belakang 
dengan nilai-nilai yang selama ini kita anggap benar. Dan ketika kita mengalah; 
keran terbuka. Lalu air mengalir untuk kita.
 
Maka pelajaran yang kita dapatkan dari keran air aneh itu berbunyi; ”Merdekakan 
dirimu dari egoisme, dan perasaan benar sendiri. Lalu beranjaklah kealam 
toleransi dan saling memahami.”  Coba kita perhatikan; bukankah sumber segala 
pertengkaran kita selama ini adalah sikap kita yang keras kepala? Atau nafsu 
kita untuk memaksakan kehendak kepada orang lain? Atau keangkuhan karena kita 
merasa kamu salah, dan saya benar? Oleh karena itu, mungkin segala permasalahan 
hidup yang kita hadapi ini sebenarnya bisa kita atasi dengan cara mengubah diri 
kita sendiri. Bukan menunggu orang lain yang mengubah diri mereka untuk kita. 
Karena, seperti keran air itu, ketika kita bersedia mengikuti iramanya; dia 
bersedia mengalirkan airnya.
 
Ketika gagal membuka keran aneh itu saya sempat mengira bahwa sudah nasib saya 
untuk tidak kebagian air. Namun, ketika saya memutar dengan cara yang 
merontokkan semua paradigma saya tentang ’besaran vektor’ ilmu fisika itu, saya 
menemukan bahwa ternyata nasib saya bukanlah ’tidak mendapatkan air’. Nasib 
saya justru adalah; ”mendapatkan air”. Perhatikanlah; betapa mudahnya nasib 
berganti.
 
Fenomena itu menunjukkan betapa tipisnya dinding pemisah antara ’nasib 
mendapatkan air’ dan ’nasib tidak mendapatkan air’. Keduanya hanya dipisahkan 
oleh ’usaha’ yang didasari oleh rontoknnya paradigma lama kita. Usaha yang 
kelihatannya mustahil, namun dengan tenaga yang kecil; bisa menunjukkan hasil 
yang sesuai dengan keinginan kita. 
 
Dalam hidup juga barangkali demikian. Ada sebuah dinding tipis antara ’nasib 
kita untuk gagal’, dengan ’nasib kita untuk berhasil’. Memang, selama ini kita 
sudah bekerja keras. Berusaha semaksimal mungkin untuk meraih ’nasib berhasil’ 
itu. Namun, mengapa kita selalu dihadapkan kepada ’nasib gagal’? Lantas kita 
berkata;”Tuhan, sudah aku lakukan semua yang bisa kulakukan. Tapi, mengapa aku 
masih gagal juga?”
 
Mungkin memang benar kita sudah berusaha maksimal. Namun, apakah dalam usaha 
keras itu kita sudah terbebas dari egosentisme dan paradigma-paradigma yang 
keliru? Bisa jadi hidup kita membutuhkan cara yang bahkan 180 derajat bertolak 
belakang dengan apa yang kita kira benar itu.
 
Mungkin, inilah sebenarnya inti pelajaran dari guru ngaji saya tentang mengubah 
nasib. Beliau bilang Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku tidak akan mengubah 
nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah dengan dirinya sendiri.” 
 
Selama ini saya memahaminya sebagai janji Tuhan untuk membantu kita mengubah 
nasib, kalau kita bersedia untuk berusaha.  Namun, keran air aneh itu 
mengenalkan saya pada kemungkinan lain bahwa yang dimaksudkan Tuhan mungkin 
bukanlah sekedar bersedia melakukannya sendiri. Melainkan bersedia ’mengubah 
diri sendiri’. Karena, ketika kita bersedia mengubah diri, maka kita akan mampu 
menyesuaikan diri. Dan ketika kita mampu menyesuaikan diri, maka kita mempunyai 
peluang yang lebih besar untuk berhasil. Maka, logislah jika Tuhan menginginkan 
kita untuk mengubah diri sendiri. Setelah itu, barulah Dia berkenan untuk 
mengubah nasib kita, menjadi lebih baik.  
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Perubahan didalam diri seseorang, menentukan kemampuannya untuk mengubah 
keadaan diluar dirinya sendiri.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke