Employee Engagement dalam beberapa tahun menjadi marak dan sering terdengar 
dalam wacara manajemen SDM. Konsep ini diperkenalkan sebagai prediktor 
kesuksesan pada level individu maupun organisasi.  Apabila seorang karyawan 
engage terhadap pekerjaan dan perusahaan maka kinerjanya akan unggul. Apabila 
tingkat employee engagement tinggi, maka kinerja perusahaan itu akan unggul. 
Bahkan, hasil employee engagement survey yang dilakukan oleh konsultan 
eksternal telah menjadi prasyarat untuk mendapatkan Malcolm Badridge.
Ada pertanyaan, apa bedanya employee engagement dengan job satisfaction? Toh 
selama ini, banyak organisasi yang sudah mengadakan job satisfaction survey.  
Bagaimana dengan tempat kerja anda? Apakah sudah mengadakan job satisfaction 
survey? Apakah hasil job satisfaction survey tersebut cukup memuaskan untuk 
menjelaskan kinerja karyawan anda? Kalau sudah dilakukan, mengapa perlu 
employee engagement survey? Toh itu kan sama-sama mengukur sikap karyawan?!
Diskusi dengan tim kami mendapatkan analogi yang provokatif untuk membedakan 
antara job satisfaction dengan employee engagement. Bisa jadi seseorang 
berulang-ulang berkunjung ke Dolly dan merasakan sangat puas atas “pelayanan” 
yang didapatkan, tetapi belum tentu orang tersebut akan mengajak menikah 
“pelayan” yang memberikan pelayanan itu. Apa artinya? Bisa jadi orang puas, 
tetapi belum tentu bersedia mengikatkan diri dengan orang yang memberikan 
kepuasan kepadanya.
Begitu pula dalam konteks bekerja.  Bisa jadi karyawan kita puas terhadap 
organisasi tempat kerjanya, tetapi kepuasan ini belum memastikan kecenderungan 
untuk tetap bertahan di tempat kerjanya.  Lalu apa bedanya? Mari kita kupas 
bersama
        1. Kepuasan itu berkaitan dengan sikap positif atau negatif seseorang 
terhadap suatu perlakuan.
        2. Kepuasan itu memperlakukan karyawan sebagai orang yang kekurangan 
atau punya kebutuhan yang harus dipenuhi organisasi
        3. Ada lagi?
Lalu bagaimana dengan employee engagement?
        1. Engagement itu berkaitan dengan perilaku seseorang untuk mengikatkan 
diri atau melepaskan diri dari suatu organisasi
        2. Engagement itu memperlakukan karyawan sebagai orang yang aktif 
mencari memenuhi kebutuhan personalnya
        3. Ada lagi?
Gallup mengnalogikan employee engagement sebagai orang yang mendaki gunung, 
dimana sepanjang jalan pendakian itu seseorang melewati 4 kamp.  Semakin tinggi 
pendakian maka semakin tinggi pula kamp yang dicapai, semakin tinggi pula 
keterikatan karyawan terhadap organisasi. Apa saja kamp itu?
        1. What do I get?  Bayangkan seorang karyawan baru pada hari pertama 
kerja. Dia akan bertanya-tanya, apa tugas yang saya dapatkan? Apa yang harus 
saya kerjakan? Apa yang saya bisa gunakan untuk mengerjakan tugas tersebut? 
Apabila program orientasinya efektif maka karyawan baru itu sudah jelas dan 
bisa mengerjakan tugas secara efektif. Tapi apabila karyawan itu masih mambawa 
semua pertanyaan pada hari pertama, percayalah dia akan merasa bingung dan 
ambigu.
        2. What do I give? Setelah mulai bekerja, karyawan baru itu mulai 
merasakan berbagai kesempatan yang didapatkannya. Ia mulai memikirkan mana 
kesempatan yang sesuai dengan kekuatan dirinya. Apabila karyawan itu merasa 
mendapatkan kesempatan untuk memberikan konstribusi terbaik pada organisasi 
maka ia akan nyaman (enjoy) bekerja di organisasi itu.  Ia akan mencari umpan 
balik terhadap cara dan hasil kerjanya. Apabila ia merasa konstribusi 
terbaiknya dihargai, maka ia akan nyaman berada dalam perusahaan itu.
        3. Do I belong? Setelah karyawan itu merasa nyaman bekerja, ia akan 
menilai aspek yang lebih luas dari pekerjaannya. Ia menilai bagaimana 
pendapatnya di didengarkan di tempat kerja. Apakah ia merasa selaras dengan 
misi perusahaan? Apakah ia merasa mempunyai spirit yang sama dalam bekerja? 
Sehingga, ia akan memutuskan apakah ia harus merasa memiliki tempat kerjanya 
tersebut.
        4. How can we grow? Setelah merasa memiliki, karyawan tersebut akan 
memandang ke depan, memandang prospek organisasi di masa yang akan datang. 
Apakaah ada sebuah mekanisme yang memantau perkembangan individu dan organisasi 
dari waktu ke waktu? Apabila ia merasa jelas bahwa organisasi akan terus 
bergerak maju, maka ia akan mengikatkan diri pada perusahaan itu.
Hebatnya, Gallup cukup dengan 12 pertanyaan sederhana untuk membedakan karyawan 
yang engaged, not engaged dan actively disengaged.

Ingin mendapatkan employee engagement survey versi Gallup? Klik saja 
disini.Employee Engagement Survey Bukik.com. Survey ini layak dicoba karena 
hasilnya bisa membedakan kinerja karyawan. Secara common sense, saya melihat 
bagaimana hasil ini bisa membedakan tetapi saya tidak melakukan riset untuk 
skala ini. 
(http://appreciativeorganization.files.wordpress.com/2010/05/employee-engagement-survey-bukik-com.pdf)
 

Lebih keren lagi, 12 pertanyaan dari Gallup itu bisa jadi panduan praktis bagi 
diri kita untuk berkembang menjadi manajer yang hebat (the great manager). 
Berani?

Saya bersama tim telah mengambangkan survey tersebut dengan membangun 
dimensi/lereng dari gunung engagement yang didaki. Survey yang kami sebut 
sebagai E2 survey ini telah di uji di beberapa perusahaan yang melibatkan 
ribuan karyawan dan telah kuat validitas – reliabilitasnya. Mau?

Reliablitas E2 Survey
Faktor Reliabilitas 
Camp 1 0,610 
Camp 2 0,728 
Camp 3 0,719 
Camp 4 0.742 
Total 0,897 

Validitas E2 Survey
Faktor Validitas 
Camp 1 0,877 
Camp 2 0,808 
Camp 3 0,789 
Camp 4 0,825 

Untuk mendapatkan E2 Survey anda bisa menghubungi saya
Saya akan berikan discount besar buat mereka yang menjadi peserta Konferensi 
APIO IV (Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi) pada Nopember 2010



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke