Hari ini kota Jakarta tidak seperti biasanya. Panas, tidak ada hujan sama
sekali...
Kebetulan satu harian ini saya menghabiskan waktu di kantor salah satu 'tokoh'
Karo di bilangan Jakarta Pusat. Saya berani sebut dia 'tokoh' karena di kantor
miliknya itu dia banyak memperkerjakan orang-orang Karo. Dia sudah banyak
membantu orang-orang dalam mencari pekerjaan. Termasuk kali ini saya datang ke
kantornya dengan maksud bersilaturahmi sekaligus berbisnis dengannya.
Saya kabarkan sebuah 'gosip' padanya. 'Gosip' ini datang dari seorang senina
sipemeren saya semalam sebelumnya. Kebetulan kami sama-sama bebere Sitepu.
'Tokoh" ini begitu terkejut ketika mendengar 'gosip' itu. Dia menganggap saya
bercanda. Karena terkadang cara bicara saya yang blak-blakan sering dibumbui
dengan canda tawa, agar lawan bicara saya tidak jenuh mendengar omongan saya.
Untuk memastikan itu bukan 'gosip' saya menelepon seseorang yang menjadi salah
satu 'partner' saya di satu kepengurusan. Orang itu terpercaya. Yang pasti dia
tidak pernah berkata dusta.
Melalui speaker dari handphone kami semua mendengar konfirmasi kebenaran
'gosip' itu. Akhirnya kami berdua 'gerah' juga mendengarnya. Bukan apa-apa ini
adalah keputusan sepihak dan menguntungkan beberapa 'oknum' saja. Ini bukan
kepentingan orang banyak.
Tiba-tiba saja handphone 'tokoh' itu berdering tak henti-henti. Ada telepon
dari 'tokoh' Karo lain. Ada juga yang selama ini merasa 'tokoh'. Ada juga dari
tukang 'tokoh'.
Semua menanyakan kebenaran berita itu. Dan beberapa mengancam akan melakukan
tindakan cepat. Sms itu beredar begitu cepat. Saya tahu jelas siapa yang
mengirimnya. Dia seorang aktifis pemuda di salah satu organisasi yang dilarang
di zaman orde baru. Perkenalan saya dengannya begitu singkat beberapa waktu
lalu.
Saya sempat berpikir, apa maksudnya semuanya ini. Bukan apa-apa, bagaimana jika
calon-calon yang didukung orang-orang itu malah tidak menang? Dan apa yang
dilakukan oleh calon yang menang terhadap Tanah Karo. Bukan tidak mungkin suku
Karo akan dianggap kaum minoritas olehnya karena selama ini tidak ada dukungan
dari salah satu suku disegani di Sumut itu selama pemilihannya. Bukan tidak
mungkin pula Tanah Karo akan tertinggal dibanding daerah lainnya di Sumut.
dipertaruhan? atau...... dikorbankan?
Dari dulu saya paling anti bicara politik. Karena seni dalam politik tidak
pernah bisa disatukan. Seperti layaknya air dengan minyak. Justru dunia politik
sering mengilhami para seniman membuat berbagai maha karya. Dalam dunia seni
dua kata ini tidak dikenal ketika berkarya. Seni adalah seni. Seni untuk semua.
Seni adalah apresiasi manusia yang tidak menuntut pertaruhan ataupun
pengorbanan.
dipertaruhan? atau...... dikorbankan?
Sekali lagi hati-hati dengan kata-kata ini. Sebuah kejadian yang mengubah
peradaban manusia pernah terjadi karena dua kata ini. ISA AL MASIH harus
tergantung di bukit tengkorak karena perbuatan seorang muridnya berinisial J
alias Iskariot karena dua kata itu.
dipertaruhan? atau...... dikorbankan?
Itulah yang terjadi sekarang. Apakah dukungan itu memenuhi apresiasi masyarakat
Karo? Itu masih dipertanyakan. Yang jelas sebuah pemilihan yang benar,
datangnya dari hati nurani bukan dari pemaksaan, atau karena kepentingan
kelompok ataupun golongan. Yang jelas dua kata di atas akan berakibat fatal
bagi kelangsungan masyarakat Karo.
Mungkin sudah muncul Iskariot-Iskariot baru... hati-hati!
Joey Bangun
Bukan siapa-siapa, hanya seorang yang rela diinterogasi selama 2,5 jam di
kantor Polda Metro Jaya dalam kasus Senayan 13 Januari lalu, agar acara untuk
masyarakat Karo itu tidak dihentikan dan tetap berlangsung. Kemudian kecewa
karena dibaliknya ternyata ada keterkaitannya dengan kasus narkoba.
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping