Mjj man banta karina,

 

Dulu juga Mantan Kapolri Sutanto ngomong begitu, tapi kenyataannya laen.

 

Mudah2 ini Pak Susno Duadji konsistent dengan ucapan dia dan tidak takut
dengan tekanan dari sekitarnya,

Karena sering seseorang pejabat daerah dapat dipindahkan atau siturunkan
oleh raja2kecil/pengusaha daerah.

 

Jangan2 bapak ini juga pengen jadi kapolri  ? karena dalam waktu dekat
kayaknya kapolri akan mau diganti juga.

 

 

Cheers,

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Alexander Firdaust
Sent: Tuesday, February 19, 2008 5:08 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [tanahkaro] Ini Bacaan Bermutu. Ini Baru Hebat.

 

Semoga saja apa yang diwacanakan oleh bapak Susno Duaji ini bukan semata
sebagai ajang tebar pesona, namun memang benar sesuai dengan
implementasi dan penerapanya kelak dilapangan.

 

Semoga.............

Gintings <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

        
        Dari milist sebelah..
        
        Andre Ginting
        Bogor - Jawa Barat

        Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,
        "Jangan Pernah setori Saya"

        Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008

         

        RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji,
S.H., M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai
tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke
Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu
baru dimulai pukul 16.00 WIB.

         

        Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10
menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak"
dan "menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua
kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

         

        Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik
di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan
lainnya). "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya.
Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi
pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah
ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.

         

        Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai
dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta
kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat
biaya.

         

        Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah,
menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih
ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny.
Herawati itu.

         

        Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli
di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir
ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno
tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil
Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK
adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.

         

        Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy
Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk
belajar menguak korupsi.

         

        Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau
korupsi?

         

        Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja
sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan.
Terbayang 'kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang
pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena
gratis.

         

        Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman.
Beberapa di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat.
Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat.
Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini
dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat
bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK.
Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa
menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan
uang rakyat. Ada kepuasan batin.

         

        Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang
perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?

         

        Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli.
Kalau pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar
adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung?
Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika
aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa
memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.

         

        Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di
dalam, baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap
bupati, direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari
korupsi. Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.

         

        Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan
tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu
pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan
seterusnya.

         

        Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi
di Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi
yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang
ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran..
Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.

         

        Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya
macam-macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari
pengusaha-pengusaha , mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil
anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari
dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran
mereka, atau uang bensin mereka.

         

        Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan
karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja.
Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.

         

        Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target
sampai kapan?

         

        Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana
kita menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut
nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak
akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi
berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.

         

        Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika
memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya
saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.

         

        Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi.
Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa
lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak
korupsi.

         

        Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus
korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor
Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan
perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?

         

        Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu
jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap
kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak
kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan
beberapa kemungkinan lainnya.

         

        Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat.
Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari
ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak.
Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek,
dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak
ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan
yang kuat. Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena
korupsi itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.

         

        Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi
kapolda. Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung
datang. Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi).
Kalau saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk
apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya
saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang
tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah
kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya. 

         

        Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat
mengungkap kasus korupsi?

         

        Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika
sudah bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan
menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus
korupsi biar Jabar bergetar.

         

        Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut
kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti
mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga
bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain"
bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka
banyak kasus yang masuk.

         

        Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi
digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib
administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara
berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa?
Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.

         

        Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui
jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana
tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya
ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil,
polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal
lapor boleh di mana saja.

         

        Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor
dengan mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh
penyidik ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini
akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui
semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling
tidak suka yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang,
pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu
paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?

         

        Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar
kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan
anggaran yang minim. Menurut Anda?

         

        Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya.
Kalau anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk
menyidik. Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di
tempat lain. Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita
sudah habis untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.

         

        Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak
perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu
kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk
melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya
putus agar tidak ada lagi sistem setoran.

         

        Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil
bangga karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya
kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti
pengusaha judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya
hanya Rp 5-6 juta.

         

        Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya,
ingin kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah
pengusaha.

         

        Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di
lingkungan kepolisian?

         

        Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas
mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas
dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan.
Titik.

         

        Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan
kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan,
serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan
petantang-petenteng , tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan
memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita
lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , sementara rakyat
macet. Itu juga korupsi.

         

        Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau
saya korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya
dengan pelacur. ***

        
        
        
        

         

        _,_._,___ 







Kirim email ke