Menurut saya, tulisan Martin Perangin-angin ini adalah sangat menghina
GBKP. Sebelum saya mengungkapkan bagaimana dia menghina GBKP, saya
mengharapkan dia menyadari sebelumnya apa yang saya maksud. Kalau dia
bersikukuh, saya bersedia berdebat di milis ini dengannya dan
membuktikan bahwa dia menghina GBKP dan menghina orang Karo.

Saya mengundang anda berdebat membuktikan bahwa anda menghina GBKP.
Siapkah anda?


Juara R. Ginting


--- In [email protected], Martin Peranginangin
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pawang Ternalem: Kisah Orang Terbuang
>  
> Oleh Martin L. Peranginangin
> www.perkantong- samping.blogspot .com 
> 
> Banyak jalan menuju Roma. Itu ungkapan diketahui oleh banyak orang.
Tapi tidak banyak yang tahu siapa yang mula-mula membangun kota Roma.
Kisahnya, kira-kira tahun 753 SM, Romulus dan saudaranya Remus
membangun permukiman Palatine di Italia. Dan itulah cikal bakal kota
Romawi. Bila saja mereka hidup sekarang, pastilah mereka takjub
melihat kemegahan kota Roma. Salah satu kota pusat peradaban dunia,
pusat pemerintahan, dan belakangan menjadi pusat perhatian dunia
berhubungan dengan Vatikan.
> 
> Menurut sejarah Romulus dan saudaranya adalah orang buangan. Mereka
dibuang ke hutan oleh ibunya, dan konon mereka disusui oleh serigala
sehingga akhirnya ditemukan dan diasuh oleh Faustulus seorang
penggembala sampai akhirnya mereka dewasa.
> 
> Kisah ini hampir sama dengan Pawang Ternalem, kisah anak buangan
yang kemudian menjadi pawang (orang hebat/tabib) versi drama Karo yang
dikarang seniman besar Karo tahun 1980-an, Hendri Bangun. Cerita ini
ternyata diangkat dari kisah nyata kehidupan masyarakat Karo tempo
doeloe. Cerita itu mengisahkan seorang bayi yang dibuang karena ibunya
meninggal ketika melahirkannya. Paradigma orang Karo kala itu, bayi
itu harus dibuang, karena bila diasuh maka akan membawa sial bagi
keluarganya. Seperti kisahnya Pawang Ternalem, kematian ibunya
kemudian disusul oleh ayahnya. Yang akhirnya ia dibuang di bawah
kolong rumah (teruh karang). Ia kemudian hidup dan menyusui pada
anjing dan babi.
> 
> Cerita rakyat Karo menunjukkan bahwa kelahiran bayi yang membawa
kematian ibunya adalah bayi sial. Bayi ini dianggap pembawa malapetaka
atau disebut tendi nunda Kebiasaan jaman dahulu, bayi-bayi seperti
Pawang Ternalem ditaruh disisi mayat ibunya seolah-olah menyusui pada
ibunya kemudian ditelungkupkan sehingga mayat ibu menindih si bayi
sehingga ia pun mati. Biasanya hal ini dilakukan secara diam-diam.
Atau biasa juga di taruh di pintu gerbang kampung sehingga meninggal
terinjak rubia-rubia. Bila pihak keluarga tidak tega melakukan hal
yang tergolong 'pelanggaran HAM' berat itu, paling-paling si bayi di
taruh di teruh karang.
> 
> Tragedi itu sudah berlalu ratusan tahun yang lalu, sebelum terjadi
pencerahan yang dimotori oleh para Missionaris yang datang ke Tanah
Karo. Suatu ketika, peristiwa ini dialami sendiri oleh Pendeta J.K.
Wijngaarden di daerah pelayanannya sekitar tahun 1920-an. Selain
sebagai seorang pendeta, ia juga seorang mantri yang sering mengobati
orang. Keahlian di bidang kesehatan adalah entry point baginya untuk
menarik minat masyarakat belajar tentang agama. Sebab dataran tinggi
Karo waktu itu sering sekali diserang wabah kolera dan kusta yang
tidak manjur diobati oleh Guru Mbelin. Dalam peristiwa itu, ia melihat
bagaimana pihak keluarga tidak mengharapkan kehadiran bayi 'sial' itu.
Lantas, atas persetujuan semua pihak, Wijngaarden kemudian mengadopsi
anak itu lalu ia beri nama Sangap. Akhirnya beberapa waktu kemudian
Sangap pun dibabtis, dan terakhir ia kemudian menjadi guru agama.
Untuk menanggulangi kasus seperti Sangap, tahun 1925 Rumah Sakit Zending
>  mendirikan panti penitipan bayi. Pada tahun 1926 terdapat lebih 100
orang bayi dirawat ditempat ini. Artinya, banyak sekali terjadi kasus
ibu yang meninggal di saat melahirkan.
> 
> Ketika Sangap sang pawang ternalem menjadi guru agama, ia tidak
menjadi berita besar seumpama Romulus dan adiknya. Tetapi ia telah
menjadi icon perubahan besar bagi orang Karo. Perubahan paradigma!
Bahwa ibu yang meninggal tidak ada hubungannya dengan takdir seseorang
melainkan faktor kesehatan. Pergolakan itu sangatlah besar.
Missionaris berperang dengan roh-roh para dukun, dan gunjingan orang
yang belum memahami tentang itu.
> 
> Suatu kali dalam kehidupan kita, mungkin bertemu dengan situasi yang
dialami Romulus atau Sangap dalam versi yang berbeda. Kita merasa
terbuang. Diabaikan. Merasa ditentang dari semua penjuru. Seperti lagu
Karo, layam-layam si tangke ndoli: "Naktak pe la lit si ngulihisa,
mombak pe la lit si nangkapsa". Hidup sepertinya tanpa makna. Namun
sebagai orang yang percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan perbuatan
tangannya. Kita ada di dunia karena Tuhan punya rencana yang besar.
Bila kita memiliki iman, rancangan Tuhan tidak pernah meleset. Kini
kita tidak mengerti, kelak kita disadarkan oleh kenyataan.
>  
> * Ditulis tahun 2004
>


Kirim email ke