informatif dan inspiratir!
Bujur ras mejuah-juah
MUG
--- In [email protected], Martin Peranginangin <perkantongsamp...@...>
wrote:
>
> Ini Pesta Bung!
> Oleh Martin L Peranginangin
>
> Pemilihan umum, hingga saat ini masih dianggap proses yang terbaik untuk
> mengisi kepeminpinan suatu negara dan kelengkapan perangkat legeslatifnya,
> terutama di negara-negara demokrasi termasuk di Indonesia . Belum ada metode
> yang dianggap lebih ideal untuk bisa memberikan jalan keluar dalam kebuntuan
> perwakilan antara wakil dan rakyat semenjak domokrasi dikenal dalam ilmu
> ketata-negaraan.
>
> Pola kepeminpinan mengerucut seperti piramida, peminpin berada di atas dan
> rakyat berada di garis bawah. Ini dalam pengertian bahwa jumlah peminpin
> lebih sedikit jumlahnya. Jelas, posisinya tak mungkin dibuat menjadi piramida
> terbalik, meskipun napas dari demokrasi itu mengandung makna kepemininan dari
> rakyat. Rakyat memberikan hak pilihnya di bilik suara guna menentukan siapa
> yang akan menduduki pos-pos yang telah disiapkan.
>
> Kemudian, sering terjadi ironi karena konstituen merasa tidak merasa
> terwakili oleh orang-orang yang dipilihnya, sehingga angka golput cenderung
> naik. Walau seperti yang dilansir survey (Todays Dialog Metro TV) angka
> golput terjadi lebih banyak karena alasan administrative, karena tidak
> terdaftar misalnya, ketimbang alasan politis ataupun idiologis. Sikap apatis
> dari masyarakat memang disinyalir akibat ulah beberapa orang yang memperkeruh
> citra parlemen. Hanya saja persoalan itu tidak terhenti sampai di situ. Sebab
> para peminpin dan wakil rakyat itu dipilih langsung oleh rakyat, maka segala
> tindak tanduk mereka adalah representasi dari wajah masyarakat kita. Kita
> menuntut akan kualitas yang lebih baik juga seharusnya diimbangi dengan niat
> dan komitmen yang baik pula. Politikus buruk hanya mungkin terpilih karena
> ada masyarakat yang memilih mereka.
>
> Disisi lain dilema yang dihadapi kandidat (caleg) juga yang tak kalah besar
> yakni high cost politics menghantui sistem politik di negeri kita. Bayangkan,
> untuk menjadi peserta caleg, bupati, gubernur, maupun pilpres, jutaan bahkan
> milyaran dana harus dipertaruhkan. Dan itu pun belum tentu bisa meraih kursi.
> Ini semacam gambling yang mengerikan. Dan kemudian dapat dibayangkan soal
> keluhan masyarakat akan harapan mereka terhadap wakilnya jauh panggang dari
> api. Setelah mereka duduk langsung menghilang dari peredaran. Karena mereka
> telah letih dan berbeban berat dengan bermacam pengeluaran di awal kampanye,
> bagaimana pula mereka mampu memenuhi semua tuntutan konstituen terutama dalam
> bentuk sumbangan materi. Bukan saya mengamini hal ini, tapi kondisi tersebut
> realitas yang jamak terjadi.
>
> Terlepas dari soal materi tadi. Sejatinya fungsi dari peminpin dan wakil
> rakyat adalah menentukan kebijakan yang mengikat semua warga. Oleh karena
> itu, cukup disayangkan bila untuk memilih orang yang akan mengatur dan
> membuat kebijakan dalam bernegara masih ada sementara kita yang acuh. Itu
> sangat penting karena bisa memberikan kebebasan atau malah belenggu bagi
> warga. Segala keputusan di tentukan di tingkat legeslatif dan yudikatif.
> Meski golput juga dikategorikan tindakan politik, namun hal yang cukup
> realistis menurut saya, yakni membangun hubungan strategis dengan para
> kandidat atau partai. Itu jauh lebih berharga daripada sekedar golput. Toh,
> mau tidak mau, suka tidak suka sekalipun banyak yang golput peminpin dan
> wakil rakyat pasti akan terpilih.
>
> Pesta Demokrasi
>
> Setiap kita pasti pernah menghadiri sebuah pesta. Disana hadir bergam orang
> dengan beragam kepentingan. Penyelenggara pesta, keluarga, kerabat dekat,
> sampai tukang parkir hingga penjaja cendol juga ada di sana . Singkatnya,
> bila ada pesta tentu ada keramaian, kemeriahan umbul-umbul dan bermacam
> pernak-pernik dan lainnya. Dan pasti, setelah pesta usai akan menyisakan
> sampah. Karena itu tidak perlu alergi dengan sampah sebab sekarang lagi musim
> pesta, pemilu. Sampah akan banyak di mana-mana, di media-media, ruang
> terbuka, hingga di dunia maya.
>
> Layaknya seperti menghadiri sebuah pesta, diperlukan suatu persiapan. sebelum
> melenggang ke TPS ada beberapa tips yang mungkin bisa dipertimbangkan setiap
> pemilih yang akan memberikan hak suaranya. Pertama, pastikan kan didat
> (caleg) yang akan dipilih sebelum berangkat ke TPS jumlahnya 4 orang
> masing-masing satu calon DPD, DPR RI , DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.
> Sebab akan membutuhkan waktu lama bila akan menentukan pilihan di TPS. Oleh
> karena itu, ada masa kampanye yang dapat memberikan pertimbangan dalam
> penentuan pilihan. Kedua, kenali dan cari tahu lebih banyak tentang riwayat
> para caleg mungkin lewat situs pencari di internet. Misalkan Mr. X calon DPR
> RI dari Sumut I, masukkan namannya ke situs pencari seperti Google kemudian
> klik. Mengenali lebih jauh para kandidat secara rasional akan memberikan
> pilihan lebih baik daripada hanya mengetahui nama dan mengenal photo caleg
> tanpa mengetahui latar belakangnya. Ketiga, pastikan pilihan
> dicontreng dengan benar. Cukup sekali dikolom nama atau nomer caleg yang
> hendak dipilih. Keempat, bila memiliki waktu sebaiknya ikut mengawasi
> jalannya perhitungan terhadap suara yang diberikan. Bila terjadi kecurangan
> bisa melaporkan ke panwaslu atau petugas.
>
> Pemilihan umum merupakan pesta demokrasi. Ini adalah sebuah pesta terbesar di
> republik ini yang melibatkan jutaan jiwa. Persiapan panjang sudah dilalui
> sejak akhir Oktober tahun lalu dan kini mendekati hari H. Politisi, pakar
> politik, mahasiswa hingga yang buta huruf banyak berwacana tentang pemilu.
> Secara garis besar ada tiga golongan yang terlibat langsung dengan pemilu,
> yakni pemerintah cq Komisi Pemilihan Umum sebagai pelaksana, para kandidat
> (caleg) dan pemilih. Lebih jauh lagi, banyak pihak yang memiliki kepentingan
> dengan terlaksananya pemilu. Investor berharap pemilu berjalan dengan lancar,
> tim sukses dan lembaga survey semakin jeli melihat peluang, wartawan bisa
> sampai lembur meliput berita, akademisi dan lembaga independen ikut
> mengamati, sampai tukang sablon berharap order semakin banyak. Bagaimana
> dengan anda, mau ikut ke pesta? Ini pesta Bung!
>