Selamat jalan pak Sutradara Ginting. Mendengar nama Sutradara Ginting, teringat 
pula saya Pilkada Kab. Karo 2005. Saat itu, Sutradara Ginting merupakan salah 
satu pemegang kunci  inti, perihal menentukan siapa calon bupati Kabupaten Karo 
dari PDI-P. Kalau saya tidak salah ingat, dulunya, dua orang yang bertarung 
hingga detik-detik terakhir adalah Inget Sembiring dan Kena Ukur Surbakti. 
 
Azis Angkat, Ketua DPRD Sumut yang telah almarhum. Teringat saya bagaimana 
mimik wajahnya beberapa bulan yang lalu, ketika mengusir kelompok pendamping 
masyarakat Tapteng-Sibolga yang bertarung dengan PT Nauli Sawit, terkait 
penguasaan tanah sekitar 6600 hektar. Andai, bila ingin menyelesaikan masalah 
secara bersih dan terbuka, rasanya, tidaklah perlu khawatir berhadapan dengan 
siapa saja. 
 
Seperti-seperti  saat itu, dengan lantang Azis mengusir Marlon Purba Ketua 
Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Sumut dari ruangan dengar pendapat di DPRD SU. 
Seketika terdengar kalimat gemuruh dari yang hadir; 
ini baru seru, centeng  jumpa centeng.
 
Sekedar catatan, Marlon Purba ini ketika sedang getol-getolnya di OKP PBB 
beberapa tahun lalu, dia pernah menantang Olo Pangabean (Ketua IPK) secara 
terbuka. Tantangan ini terkait dengan pengelolaan perjudian di Sumut. 
  
Eh, bila teringat Azis Angkat, teringat pula GM Pangabean dan Chandra 
Pangabean. Semasa kekuasaan Rezim Soeharto, klan GM Pangabean dinilai, secara 
sepihak telah menguasai pertanahan milik warga Gongsol-Desa Merdeka, Kabupaten 
Karo.
 
 Buntutnya, setelah Soeharto jatuh pada Mei 1998, perlawanan warga Gongsol – 
Desa Merdeka berkobar secara terbuka. Berkat kekompakan masyarakat pejuang dan 
solidaritas yang tinggi dari warga sekitar, maka penghadangan dari  
centeng-centeng bayaran yang berlindung di balik seragam OKP, berhasil 
dipatahkan.
 
Pada 2002 lalu, meski secara administrasi belumlah final, namun de fakto, 
tanah-tanah tesebut telah kembali dimiliki oleh rakyat tersebut. 
 
Dewasa ini, tak jarang terdengar ujaran, bahwa masa-masa rezim Soeharto lebih 
enak dibanding masa sekarang. Namun rasanya, ujaran tersebut tidak akan berlaku 
bagi warga Gongsol-Desa Merdeka. 
 
Andai kekuasaan Soeharto masih bercokol di tanah air ini, mungkinkah kita akan 
seenak sekarang ini bercuap-cuap ria di milis ini ?
 
Mungkinkah presiden/wakil, gubernur/wakil, bupati/wakil, beserta 
caleg-calegnya, akan langsung di pilih oleh rakyatnya? 
 
Mungkinkah jenderal-jenderal dan PNS-PNS yang korupsi itu bakalan di seret ke 
pengadilan kemudian dipenjara…?
 
 
Salam hari Minggu,
 
MJS
 
 
 
 
 
 
 


      

Kirim email ke