Action speaks louder than thousands of words. Prihatin saja tidak mengubah 
keadaan. 

RGM

--- On Thu, 2/18/10, MU Ginting <[email protected]> wrote:

From: MU Ginting <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] prihatin masih prihatin, busuk masih busuk
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Thursday, February 18, 2010, 10:07 PM







 



  


    
      
      
      DPRDSU Prihatin Buah Jeruk di Karo Dibiarkan Busuk di Batangnya 
 Februari 19th, 2010 
Medan (SIB)
Kalangan DPRD Sumut prihatin melihat buah jeruk di Kabupaten Karo terpaksa 
dibiarkan petani membusuk di batangnya, karena harganya sangat murah hanya 
Rp500-1000/Kg, sehingga para petani di “Bumi Turang” itu menjerit dan sangat 
mengharapkan perhatian dari pemerintah.
Hal itu diungkapkan anggota DPRD Sumut Dapil (daerah pemilihan) X Karo, Dairi 
dan Pakpak Bharat Richard Eddy M Lingga SE dan Dk Drs Darmawan Sembiring kepada 
wartawan, Kamis (18/2) di DPRD Sumut menanggapi jeritan para petani jeruk di 
Karo yang terkesan diabaikan pemerintah akan nasib mereka.
“Sangat memprihatinkan nasib petani jeruk di Karo, akibat harga jeruk sangat 
anjlok. Mereka terpaksa membiarkan buah jeruknya membusuk di ladangnya, 
walaupun mengalami kerugian yang sangat besar. Sebab dengan harga Rp500 – 
Rp1000/Kg, untuk upah kutip sajapun sangat tidak mencukupi,” jelas
 Richard.
Padahal, tambah Richard, untuk biaya pestisida dan pupuk dalam perawatan pohon 
jeruk membutuhkan modal yang cukup besar dan pantasnya harga jeruk di pasaran 
minimal Rp7.000/Kg, tapi kenyataannya saat ini, harganya sangat jauh dari 
harapan, sehingga petani mengalami kerugian yang sangat besar.
“Sekarang faktanya di lapangan, harga jeruk sangat anjlok. Bahkan, jika kita 
melihat di pusat-pusat pasar sayur-mayur di Karo, buah jeruk terus banjir, 
tidak laku, petani sangat sedih,” ujar Wakil Bendahara DPD Partai Golkar Sumut 
itu dengan dana prihatin.
Yang paling disesalkan petani jeruk, jelas Darmawan, Pemkab maupun Pempropsu 
seolah-olah “lepas tangan” dan tidak pernah mencari solusi mengantisipasi harga 
jeruk di setiap musim panen. Padahal, kasus seperti ini hampir setiap tahun 
terjadi.
“Masyarakat saat ini sudah apatis terhadap Pemkab Karo dan menganggap 
pemerintahan antara ada dan tiada, karena tidak pernah menyahuti jeritan
 para petani,” ujar Darmawan Sembiring sembari berharap agar Pemkab Karo segera 
mencari solusi atas anjloknya harga jeruk dimaksud.
Misalnya, kata Wakil Ketua DPW PDS Sumut itu, Pemkab Karo melakukan penjajakan 
kerjasama dengan investor luar yang bersedia membangun pabrik juice jeruk di 
Karo atau dengan pengusaha hotel menjadikan jeruk oleh-oleh utama untuk turis, 
sehingga hasil jeruk bisa tertampung dan beban petani semakin berkurang.
“Atau bisa juga melakukan kerjasama dengan negara-negara luar dalam ekspor 
jeruk maupun sayur-mayur lainnya,” jelas Darmawan sembari mengingatkan Pemkab 
Karo jangan hanya berpangku tangan di belakang meja dengan membiarkan petani 
jeruk menderita setiap musim panen tiba tanpa ada solusinya. (M10/q) 
  
 
____________ _________ _________ _________ _________ __
Använder du Yahoo!?
Är du trött på spam?  Yahoo! E-post har det bästa spamskyddet som finns 
http://se.mail. yahoo.com 

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke