Rabu, 31/03/2010 10:39 WIB
Kolom Didik Supriyanto
Tiada Kontras PDIP dan PD
Didik Supriyanto – detikNews
Jakarta - Hari-hari ini kita sedang menyaksikan kontras dua partai besar: 
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrat (PD). Meski 
sama-sama hendak menggelar kongres, dinamika internal masing-masing berbeda. 

Menjelang Kongres PDIP di Bali, wacana koalisi-oposisi terasa memanaskan 
suasana. Kubu Taufiq Kiemas bersikap pragmatis: menerima tawaran PD untuk 
berkoalisi dalam pemerintahan SBY. Sedang kubu Megawati bersikeras meneruskan 
jalan oposisi. 

Prokontra koalisi-opoisi membuat ketegangan internal PDIP meningkat pesat. 
Tarik menarik antarkubu meninggi, sehingga kongres sulit mengambil kata 
mufakat. Jika menengok keseriusan Taufiq Kiemas dalam memperjuangkan 
keinginannya, sangat mungkin kongres akan voting dalam memutus isu itu. 

Namun dalam satu hal, PDIP sudah menyelesaikan masalah, pemilihan ketua umum 
partai. Megawati sudah pasti terpilih kembali menjadi Ketua Umum PDIP. Tinggal 
jabatan wakil ketua umum dan sekretaris jenderal saja yang diperebutkan. 

Orang luar bisa saja menilai terpilihnya kembali Megawati, sebagai tanda tidak 
ada demokrasi di partai tersebut. Feodalisme dan nepotisme demikian kuat, 
sehingga selama 20 tahun terakhir partai itu dipimpin hanya oleh satu orang. 
(Ingat Megawati terpilih menjadi Ketua Umum PDI dalam Kongres PDI 1993 di 
Surabaya). Tetapi jika para pengurus partai daerah memang menghendaki demikian, 
apa boleh buat. 

Sementara menjelang kongres PD, kita menyaksikan suasana yang lain. Sebagai 
partai pemenang pemilu dan memegang pemerintahan bersama beberapa partai lain, 
PD tidak memiliki pilihan politik sepelik PDIP. Namun dalam soal pemilihan 
calon ketua umum partai, PD memiliki dinamika internal yang kental. 

Pada saat Andi Mallarangeng mendeklarasikan diri menjadi calon ketua umum PD di 
Tugu Proklamasi, akhir pekan lalu, di tempat yang berbeda, Anas Urbaningrum 
bertemu dengan pimpinan cabang dan daerah se-Indonesia. Sementara tanpa 
menggelar acara ini itu, Marzuki Alie dan Agus Hermanto terus berusaha 
meyakinkan para pengurus daerah dan cabang yang memilih hak memilih ketua umum. 

Berbekal kedekatannya dengan SBY, Andi percaya dirinya satu-satunya orang yang 
bisa meneruskan perjuangan PD sebagaimana diinginkan oleh SBY selaku pendiri 
dan pembina partai itu. Sementara para pendukung Anas meyakini, dialah 
satu-satunya kader demokrat yang mewarisi  pikiran dan laku politik SBY. 

Sebagai Ketua DPR, Marzuki merasa dirinya paling pas jadi ketua umum partai, 
karena dia bisa membawakan amanah partai lewat jalur parlemen untuk mendukung 
SBY yang memimpin eksekutif. Sedang kekuatan Agus adalah kedekatannya dengan 
petinggi PD. Dia adalah adik dari ketua umum sekarang, yang tidak lain adalah 
adik ipar SBY. 

Betulkah dinamika internal perebutan jabatan ketua umum PD mencerminkan 
mekanisme dan perilaku demokratis, yang mana hal ini tidak ada dalam internal 
PDIP? Betulkah PD lebih mempraktekkan demokrasi dalam memilih ketua partai, 
jika dibandingkan PDIP? 

Tampaknya seperti itu. Dan ketampakan itulah yang memang sengaja ditonjolkan 
oleh PD. Tapi, jika Anda tanyakan wartawan politik, maka mereka tidak merasakan 
adanya persaingan sengit untuk memperebutkan kursi ketua umum di antara para 
calon. Yang ada adalah upacara, membikin even dan adu pernyataan. Tidak ada 
pertarungan sejati. 

Inilah politik pencitraan. Seakan terjadi kompetisi yang demokratis dalam 
memperebutkan kursi ketua umum partai. Padahal yang terpilih nanti adalah siapa 
yang paling disukai SBY. Sederhana saja, sebagai zoon politicon, SBY tentu 
tidak mau kehilangan pengaruh sedikit atas partai yang didirikannya.

 

*Didik Supriyanto: wartawan detikcom

(diks/iy)

__________________________________________________
Använder du Yahoo!?
Är du trött på spam?  Yahoo! E-post har det bästa spamskyddet som finns 
http://se.mail.yahoo.com 

Kirim email ke