Mejuah-juah permilis sirulo Jadi semacam renungan ka kubahan sitik reply posting Moses Sitepu. Sada kejadin biasa ibas soal interaksi sesama etnis bas sada negeri multi-etnis. Gia ijenda lit ka sitik istimewana, pertama tetangga, interaksi sudah lama terjalin dengan semua suka-dukanya sebagai akibat dari kelebihan dan kekurangan dikedua pihak. Bahkan pernah juga perang etnis (1946) dimana sampai sekarang juga semua pada saling berusaha menutupi. Tidak ada pelajaran dari situ, kita tidak suka belajar soal ini, karena dianggap tabu. Walaupun era sekarang tabupun sudah mulai dipelajari. Dari satu segi barangkali tidak perlu dipelajari, perlu hanya diakui dari pengalaman etnis-etnis dunia sejak zaman bahola sampai sekarang yaitu adanya atau tak terhindarkannya perjuangan abadi antar etnis, atau ethnicgroups self-assertion and struggling for power (state or regional), dan dalam hal ini yang paling sering menimbulkan perang ialah rebutan rezeki berupa tanah/daerah subur atau SDA lainnya. Dari situ perlu atau diperlukan power dalam evaluasi soal-soal diatas. Perlu 'legal power' salin kata Weber. Dan ini kita lihat sampai sekarang dan mungkin juga sudah mengakuinya. Mengakui atau tak mengakui tapi sudah bercokol tirani mayoritas di Sumut. Karo tersingkir dari kekuasaan dan daerahnya masih diasak terus, terakhir Bangunpurba. Th 50-an Dairi Karo diasak total dengan legal power dimasukkan ke Taput. Sebelumnya telah dimulai dengan perang etnis seperti diatas saya sebutkan. Penduduk Sukandebi (3-4 km dari Tigalingga) banyak yang terbunuh. Tahun 50- 60-an pengasakan ke daerah Laubaleng-Mardingding, dan yang paling menonjol dalam taktiknya diikutkan juga Masri Singarimbun, dipukau dengan 'dana pusat' untuk daerah tertinggal. Bim salabim, tanah hilang. Beliau kemudian melihat, tetapi intelektual Karo lainnya masih juga belum menaruh perhatian seperti seharusnya. Ibas kelanjutan revival tiap etnis selalu dibutuhkan peranan menentukan kaum intelektualnya. Enda la teraguken, terutama gundari lanai bo bedil dan tombak alat perangta tapi 'ngerana' ras lobbi. Siapa yang bikin ini? Peranan tukang tempel ban sangat perlu, kita sudah bisa lihat dan kita rasakan, tetapi peranan kaum intelektutal harus ada sehingga efeknya sangat menonjol. Enda ka sitik refleksi minggu enda Selamat week end MUG --- In [email protected], Moses S <moshe_...@...> wrote: Jenderal Kalak Karo? Mejuah-juah,
Ibas sada paksa i Jakarta, Mama Nguda edenga tambal ban nari, ceda ka motorna. Cerita me kap ia.. Bageka kapko nda nina, uga? ningku. Ku tambal ban ia ras enggo me si eteh kalak kai sibiasana tukang tambal ban i Jakarta. Janahna nambal ban ngerana ia ras si tukang tambal e.. Tukang Tambal: "Ada juga ya orang Karo jadi Jenderal?'. Mama Nguda: "Kebetulan saja itu bah". Kalak Karo belum pernah jadi Jenderal Bintang 4, memalukan! Jenderal penuh adalah jabatan politis, setahu saya Presiden harus menyetujui pengangkatanya. Setiap masa di Indonesia hanya ada 5 Jenderal Penuh. Pangab, KSAD, KSAL, KSAU dan Kapolri. Amir Sembiring pernah jadi calon kuat KSAD, me enggo siangka ale?. Djamin Ginting ade la 'pelawes' Suharto lakin jadi Pangab nge mindai?. Suharto memang ahli strategi yang hebat terlepas dari dia memang ngga punya moral, hal itu bisa dilihat sejak pangkatnya Letkol di Pangdam Diponegoro (menurut informasi teman saya, yang bapaknya Jenderal Marinir), tapi jika ada dukungan yang kuat belum tentu Letjend Djamin Ginting kalah, belum lagi kalau didukung sama ahlinya strategi yang pernah ada Brigjend Selamat Ginting apalagi kalau di dukung oleh belasan perwira perang Karo seperti Brigjend Ulung Sitepu, Brigjend Nelang Sembiring, Kolonel T. Sebayang, Letkol AR. Surbakti, Letkol K. Karo-Karo, Mayor P. Bangun, Mayor M. Sitepu dan ditambah Jenderal non Karo yang lain (ula sitek pe arapkan arah 'juma diher jumanta ah', e kang biasana leben nipak kita!). Seru nge mindai.. Enda daftar kalak Karo si pernah jadi Jenderal bagepe si aktif denga.. Bujur Kopral Jono Sitepu
