Gaya penuturan  yang hebat dari penulis....

RGM

--- On Mon, 4/19/10, Alexander Firdaust <[email protected]> wrote:

From: Alexander Firdaust <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Menari di Desa Karo
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Monday, April 19, 2010, 3:38 AM







 



  


    
      
      
      "Ini rupanya Berastagi, ramai sekali. Meriah," begitu pikirku saat 
melongokkan kepala dari jendela bus kecil yang membawaku dari Medan. Hawa 
dingin menyergap. Sementara Sinabung berwarna cerah itu melaju ugal-ugalan, 
teriakan sopir dalam bahasa Batak di kananku memekakkan telinga. Dia heboh 
benar mencari penumpang.

Sinabung melaju, melalui areal pertanian yang subur. Kadang terhampar kebun 
jeruk yang buahnya bergelantungan siap dipanen, kadang kebun kubis, asparagus, 
bahkan juga kebun bunga. Sesekali kudapati para petani berjalan menuju 
kebunnya. Yang perempuan mengenakan tudung, kain yang diletakkan di atas kepala 
dengan bentuk kas. Yang lelaki memikul sabit dan keranjang dari bambu.

Satu dua gereja dengan arsitektur tradisional bermunculan. "Elok nian tempat 
ini," pujiku dalam hati. Sudah subur tanahnya asri pula pemandangannya. Nampak
 kuat  penduduknya memegang tradisi. Tak lama kemudian kami memasuki Kota 
Kabanjahe. Aku turun di depan Masjid Agung sambil menunggu saudara si naga 
bonar, Edhie Surbakti, datang menjemput.

Begitu tiba, sejenak Edhie menemaniku berkeliling, motret sana-sini, lalu 
menerangkan seluk-beluk Budaya Karo di sebuah warnet yang dikelolanya. Soal 
Budaya Karo ini akan kutulis lain hari saja. Tak berapa lama dia memperkenalkan 
seorang lelaki tinggi besar dan hitam. Bangun Tarigan namanya. Bersama Edhie, 
alumni etnomusikologi ini sedang melestarikan kembali budaya Karo, baik musik 
maupun tari.

Bertiga kami lalu menuju Desa Wisata Lingga naik angkot. Ada latihan menari 
sore itu. “Besok kami mau pentas di sebuah hotel. Hari ini latihan terakhir,” 
tutur Bangun bersemangat. Tak dihiraukannya mendung menggantung di langit. 
Gerimis turun tipis tipis.

Lingga terletak di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut, masuk dalam 
Kecamatan Simpang
 Empat, Kabupaten Tanah Karo. Lingga merupakan satu dari sedikit desa di Karo 
yang menyisakan rumah adat Karo. Desa lainnya adalah Dokan, Peceren, Serdang, 
Barus Jahe, Juhar, Gurusinga dan Cingkes.

Banyak rumah adat yang dirusak dan dibakar orang karo sendiri pada Revolusi 
Sosial tahun 1946. Ketakutan akan datangnya Belanda kembali, dan kebencian pada 
Sibayak, menjadi penyebabnya. “Sibayak adalah raja kecil yang diangkat Belanda. 
Mereka dianggap kaki tangan penjajah, makanya rumahnya dibakar,” jelas Edhie.

Tak berapa lama angkot berhenti di depan bangunan semacam pendopo, Djambur 
Lingga namanya. Jambur merupakan tempat berkumpulnya para tetua adat dan 
lelaki. Sore itu jambur yang luas itu nampak sunyi, hanya diisi dua tiga 
penjaja baju dan dagangannya.

Kami lalu berjalan menuju rumah tempat latihan menari, melewati beberapa waluh 
jabu atau rumah adat yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Biasanya dihuni 
lebih dari dua keluarga.
 Dinding waluh jabu terbuat dari kayu, sementara atapnya dari rumbia. Banyak 
atap rumbia itu berlumut tebal, menunjukkan betapa tua umurnya. Di bagian atas 
rumah terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga yang disebut ayo.

Biasanya sebuah waluh jabu di Lingga memiliki dua atau empat ayo, menghadap ke 
arah yang berlawanan. Di atas ayo baru diletakkan kepala kerbau yang berfungsi 
untuk menolak bala. Sayang banyak rumah adat yang rusak atau kurang perawatan. 
Umurnya pun sudah tua, puluhan hingga ratusan tahun. Rumah adat paling tua 
berumur 250 tahun.

Tiba-tiba perjalanan kami dihadang oleh ribuan lebah. Rupanya pasukan penghasil 
madu ini sedang berpindah tempat dari atap sebuah waluh jabu menuju ke rumah 
baru. Kami pun berjalan memutar, hingga masuk ke halaman sebuah rumah.

Tiga pasang muda-mudi menunggu. Irama musik karo mengalun dari sebuah DVD 
player. Irama yang lahir dari sarune, gendang singanaki, gendang singindungi, 
gendang
 penganak, dan gung, alat musik tradisional Suku Karo. Sepintas suaranya mirip 
gamelan Sunda. Setelah berbincang sejenak, tiga pasang muda-mudi pun mulai 
menari. Kedua tangannya berayun menggerakkan uis gara, selendang Karo, sedang 
pinggang mereka dililit abit, semacam kain atau sarung.

Gerakan tari mereka amat perlahan. Tidak sedinamis Tari Kecak di Bali, 
misalnya, atau segemulai Tari Gambyong di Jawa. Namun gerakan lambat itu tentu 
membutuhkan keseimbangan tubuh yang mumpuni. Pantas begitu mengakhiri sebuah 
tarian, seorang penari mengaku kelelahan. “Istirahat dulu Bang, capek,” katanya.

Lepas melihat latihan menari, kami berjalan keliling Lingga. Ada beberapa jenis 
rumah adat di sini. Ada jambur, waluh jabu, geriten, lesung, dan sapo page. 
Geriten adalah tempat menyimpan tulang belulang, biasanya bentuknya tertutup. 
Sedang lesung merupakan tempat menyimpan lesung yang akan digunakan untuk 
menumbuk padi. Padi disimpan di lumbung yang
 disebut sapo page.

Seorang lelaki asyik menganyam bambu, membuat keranjang. Pengrajin sagak dia 
rupanya. Tekun dia duduk di depan waluh jabu miliknya. Seorang bocah perempuan 
muncul dari ujung tangga. Tersenyum dia memanggil abangnya yang masih di dalam. 
Tak jauh dari situ dua nenek asyik mengobrol sambil duduk di tanah memandang 
ayam-ayam. Tak dihiraukannya dua cucunya yang datang. Senja terlalu indah untuk 
dilewatkan begitu saja.

Di tempat lain seorang lelaki juga menganyam bambu. Keranjang bambu tinggi 
berjajar di dekatnya. Selain berkebun, menjadi pengrajin sagak menjadi sumber 
penghidupan penduduk Lingga. Kami  lalu berjalan melewati satu dua toko 
kelontong yang menjual aneka kebutuhan hidup mulai mie instan, roti, hingga isi 
pulsa. Parabola menyembul di antara waluh jabu, menandakan bahwa tak semua 
saluran teve nasional bisa ditangkap di sini.

Puas berkeliling, Edhie mengajakku mengunjungi Museum Karo Lingga. Museum
 mungil berbentuk rumah adat Karo itu dijaga oleh anak kelas 5 SD. Rupanya dia 
menggantikan ibunya yang sedang ke ladang. Tak banyak koleksi museum. Hanya 
pakaian adat Karo, alat musik tradisional, perangkat rumah tangga, dan aneka 
topeng yang digunakan dalam perayaan tradisional.

Hari mulai gelap ketika kami meninggalkan museum. Berjalan melalui Gereja St 
Petrus, lumbung padi Ginting, dan kompleks kuburan Sibayak lama. Akhirnya kami 
keluar dari gapura bertuliskan "Terimakasih Anda Telah Mengunjungi Desa Wisata 
Lingga", lalu naik angkot  menuju Kabanjahe. Sebelum berpisah, sempat kami 
menikmati kopi susu di sebuah warung kopi sambil memandang hujan turun.

Sumber: http://travel. kompas.com/ read/2010/ 04/17/1650197/ Menari.di. 
Desa.Karo

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke