Kabar Duka dari Jalan Tridarma
Hasan Al Banna
Di Medan (Sumatera Utara), tidak
mudah menemukan seorang akademisi yang tekun mengutati dunia sastra.
Kepergian Prof. Ahmad Samin Siregar menghadap Sang Khalik, Rabu 19 Mei
2010, menggoreskan rasa kehilangan yang dalam.
Samin dikenal tidak hanya ilmuwan yang setia pada dunia sastra
Indonesia, juga sudi menoleh pada kekayaan sastra daerah. Hampir
sepertiga masa hidupnya beliau serahkan untuk ‘mengurusi’ ranah
sastra-juga kebahasaan. Paling tidak, sudah diungkap Rosliani dan
kawan-kawan, dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia di Sumatera Utara
(Balai Bahasa Medan, 2007).
Samin
mulai bersinggungan dengan sastra secara karib sejak kuliah dalam
proses meraih titel Sarjana Muda di Fakultas Sastra USU Medan. Di USU
pula dia merampungkan Program Sarjana Sastra Indonesia (1973). Selepas
itu, Samin (pada usia 28 tahun) langsung dinobatkan menjadi dosen tetap
di almamaternya.
Seiring waktu, Samin juga didaulat untuk
mengajar sebagai dosen tak tetap di sejumlah perguruan tinggi di Medan,
seperti pada Pendidikan Teknik Kimia Industri (PTKI) Departemen
Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara, Universitas Islam
Sumatera Utara (UISU), Universitas Amir Hamzah, Universitas HKBP
Nomensen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), Universitas Harapan dan
Sekolah Tinggi Ilmu Kominikasi Pembangunan (STKI-P) Medan.
Alhasil,
berkat ketekunannya menjadi pengajar, mengantar Samin meraih gelar Guru
Besar Tetap dalam Ilmu Kesastraan Modern di Fakultas Sastra USU tahun
1998. Dia dikukuhkan sebagai profesor dengan pidato Sastra Indonesia,
Budaya Daerah dan Pembangunan Bangsa: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa
Mendatang.
Tak ayal pula (sebelum dan sesudah meraih gelar
Guru Besar), Samin pun pernah termasuk dalam jajaran pucuk pimpinan di
Fakultas Sastra USU dalam rentang waktu yang cukup lama. Beliau pernah
menjabat sebagai sebagai Pembantu Dekan III, Pembantu Dekan II dan
Dekan. Samin juga salah satu dosen Sekolah Pascasarjana USU pada
Program Studi Magister Linguistik dengan Konsentrasi Wacana
Kesusastraan.
Aktif Organisasi
Riwayat
karier Samin di bidang kebahasaan dan kesusastraan kian lengkap, ketika
beliau aktif berorganisasi. Samin pernah menjadi tenaga peneliti Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Lantas, beliau juga pernah
duduk dalam Komite Sastra Dewan Kesenian Medan (DKM), menjadi anggota
Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) cabang Medan, anggota
Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia (MSPI), anggota Asosiasi Tradisi
Lisan (ATL) Indonesia, anggota Masyarakat Kajian Melayu (MAS Society)
Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu-Universitas Riau-Pekan
Baru, serta anggota Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI).
Di
samping itu, Samin pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Sarjana
Kesusastraan Indonesia (HISKI) cabang Sumatera Utara, Ketua II Pengurus
Pusat HISKI, Koordinator Asosiasi Studi Jepang di Indonesia (ASJI)
wilayah Sumatera Bagian Utara, Kepala Pusat Kajian Malaysia, Ketua
Masyarakat Penaskahan Nusantara (MANASSA) cabang Medan, Kepala Sudut
Brunei Darussalam Fakultas Sastra USU, Ketua Gerakan Masyarakat Budaya
(GEMAYA) Medan, Penasihat Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU), Dewan
Pertimbangan Presidium Forum Komunikasi Antara Lembaga Adat (FORKALA)
Provinsi Sumatera Utara dan Sekertaris Badan Pertimbangan Seni Budaya
(BATIM SEBUD) Sumatera Utara.
Pergaulan Samin di dunia luar
kampus menuntun Samin untuk tidak hanya menyodorkan ilmunya dalam
kampus, tetapi mencakup ranah yang lebih luas. Beliau banyak menulis
artikel budaya, kritik dan esei di harian-harian terbitan Medan seperti
Pos Utara, Sinar Indonesia Baru, Analisa, Waspada, Sinar Pembangunan,
Bukit Barisan, Mimbar Umum dan Media FORKALA.
Di luar Medan
Samin juga aktif menyebarkan tulisan-tulisannya, seperti di lembaran
Majalah Diksi terbitan IKIP Yogyakarta, Lembaran Sastra-jurnal terbitan
Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, Majalah Sastra
Bandung, Jurnal Pelangi Sastra terbitan FKIP Universitas Syah Kuala
Banda Aceh, Jurnal Seni yang terbitan Institusi Seni Indonesia
Yogyakarta dan Jurnal Warta ATL-Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta.
Selain
itu beliau juga menulis dalam jurnal ilmiah terbitan Brunei Darussalam
dalam Jurnal Bahana, Beriga, dan Pangsura. Di Malaysia, Samin menulis
di Majalah Dewan Budaya, Dewan Sastera, Jurnal Dewan Bahasa, Jurnal
Pengajian Melayu, Jurnal Persuratan Melayu, dan Jurnal Puisi-Perisa.
Sepantar
dengan perjalanan publikasi tulisan-tulisannya, Samin termasuk aktif
terlibat dalam berbagai seminar, penataran, pertemuan ilmiah, lokakarya
dan diskusi terkait bahasa dan sastra, baik bersifat regional,
nasional, maupun internasional. Selain di tanah Sumatera, Jawa dan
Bali, Samin sampai juga ke Pulau Penang, Melaka, Kuala Lumpur,
Selangor, Serawak, Kedah, Perlis, Thailand, Singapura, Cina, bahkan
Afrika Selatan.
Seorang Penyair
Sesungguhnya,
kesetiaan Samin terhadap sastra bukan hanya berkutat pada jalur ilmiah.
Meski tidak termasuk produktif, beliau juga menghasilkan karya kreatif,
terutama puisi. Samin mulai menyiarkan hasil “coba-coba”nya ke media
tiga tahun selepas menikahi Zahniar di Medan pada tahun 1973. Ya, Samin
adalah seorang penyair! Urat nadi Samin dialiri darah penyair.
Agaknya
tidak banyak yang mengetahui, beliau adalah keponakan kontan Mansur
Samin. Mansur Samin adalah seorang penyair, teaterawan, juga beberapa
kali terlibat dunia film. Mansur merupakan adik kandung H. Ali Husin
Samin Siregar -ayah Ahmad Samin Siregar. Samin merupakan nama kakek
Ahmad Samin Siregar.
Samin lahir di Batangtoru, Tapanuli Selatan
pada 14 Mei 1945. Beliau pergi meninggalkan banyak torehan karya yang
termaktub pada sejumlah buku, antara lain Kamus Bahasa
Angkola/Mandailing-Indonesia (1978), Kumpulan Terjemahan Sastra
Angkola/Mandailing (1992), Morfologi dan Sintaksis Bahasa Nias (1984),
Kamus Istilah Seni Drama (1985), Kamus Karo-Indonesia (1985), Khazanah,
Biografi Sastrawan Sumatera Utara (1986). Struktur Sastra Lisan Melayu
Serdang (1990) dan Sastra Lisan Karo (1993), Apresiasi Puisi (1994) dan
Genta, Guru Besar dan Sarjana USU Baca Puisi: Kumpulan Puisi dan Esai
(1997).
Demikianlah, beberapa hari setelah ‘merayakan’ ulang
tahun yang ke-65, Samin pergi sebagai ayah dari tiga putra dan tiga
putri: Ameilia Zuliyanti, Akhdiat Leksi, Alfian Zunaidi, Aslinda
Zuwita, Afiati Zuriah, dan Adlin Zulkhairi. Mudah-mudahan lapang dan
benderang jalan Samin sejak dari Jalan Tridarma (kediamannya) di Padang
Bulan menuju rumah baka -untuk kemudian bermukim kekal di surga.
Penulis; sastrawan, staf Balai Bahasa Medan dan dosen luar biasa di FBS
Universitas Negeri Medan (Unimed)
Sumber:
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=56488:kabar-duka-dari-jalan-tridarma&catid=127:artikel&Itemid=150
Salam Mejuah Juah
Karo Cyber Community