Nenek moyang kami dari Empat Teran dari dulu menggunakan jalur ini untuk saling 
mengunjungi..

Taneh Karo memang sudah terlalu lama terisolir, terutama Kab. Langkat ini (Karo 
Jahe). Syukur kini jalan ini diperhatikan, demikian juga saya kira jalan 
penghubung lainnya (Kab. Karo - Deli Serdang via Bandar Baru ke kiri). Dengan 
adanya jalan penghubung ini (Jalan Propinsi) maka banyak sekali keuntungan buat 
masyarakat Karo. Setiap sistem transportasi yang baik selalu dibarengi dengan 
peningkatan ekonomi yang baik dan tentu saja hubungan masyarakat Karo..

Bujur


--- Pada Kam, 1/7/10, kontan tarigan <[email protected]> menulis:

Dari: kontan tarigan <[email protected]>
Judul: [tanahkaro] Jalan Tembus Langkat-Karo
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 1 Juli, 2010, 5:06 PM







 



  


    
      
      
      



Jalan
Tembus Langkat-Karo 

Oleh Kontan Tarigan 

   




Jalan tembus Langkat – Karo  merangkai kampung-kampung Karo di tiga kabupaten
(Deli Serdang, Langkat dan Karo), dari 
Medan – Pancur Batu  - Kaban Jahe
– Kutarayat – Telagah (Bekancan) – Binjai – Medan  lagi. Pada tahun 1982-1985,  
jalan ini sesungguhnya pernah bagus, diaspal  sampai Telagah (Bekancan) tetapi 
kini rusak
parah karena minim pemeliharaan.   



   

Jalan Perlanja sira dan Penggalas 

   

Pada mulanya jalan ini mempunyai dua jalur.
Pertama,  jalur Pamah Simelir (jalan
sekarang) yang menghubungkan Namo Ukur-Telagah- Pamah Simelir-Kutarayat.  Jalan 
ini mengakses kampung Seberaya dan
Pamahsimelir sebelum tiba di Kutarakyat. 
Kedua, jalur  Liang Lebah yang
menghubungkan Namo Ukur-Telagah (Bekancan)-Liang Lebah-Kutarayat. Jalur ini
lebih popular karena mengakses banyak kampung yaitu Lau Gambir, Pinang Tonggal,
Bere Pelawi, Periasen, Penusunen dan Liang Lebah.  Kedua jalur ini pada umumnya 
dulu dilintasi
oleh perlanja sira (broker garam). Kedua jalur bertemu di perbatasan
Langkat-Karo, di sekitar  Tugu AMD. 

   

Pada tahun 1960-an, jalan Telagah
(Bekancan) –Namo Ukur digunakan penggalas (pedagang kampung) mengangkut cabai
dan gula aren pada umumnya.  Mereka
berangkat dari Telagah ± Pkl. 08.00 untuk mengejar bus di Simpang Sukaramai ±
Pkl. 17.00, sekitar 10 jam perjalanan. Barang-barang diangkut oleh kereta
kerbau/kuda secara bergerombol. Dari Simpang Sukaramai, barang-barang diangkut
oleh bus ke Binjai dan  Medan. Saat
penggalas ke Binjai atau Medan, kerbau/kuda diasuh di Simpang Sukaramai oleh
penduduk setempat (upahan) hingga penggalas kembali. Seperti datang dari
Telagah, saat kembali juga mereka membawa barang kebutuhan masyarakat seperti 
garam,
minyak, gula putih, atap rumbia, dll. Para penggalas pergi ke Binjai atau Medan
setiap minggu. Ketika itu angkutan manusia belum ada tetapi mesti jalan kaki,
seperti penulis alami. 

   

Pembangunan jalan Lintas
Langkat-Karo 

   

Pembangunan jalan lintas Langkat-Karo
dimulai tahun 1968. Jika jalan sampai Pamah Simelir sudah bisa dilalui oleh 
kuda,  lain halnya dari Pamah Simelir ke Kutarayat
yang harus membuat jalan baru sama sekali lewat hutan yang menembus Gunung 
Timbang
(gugus bukit barisan).  

   

Saat gajah kuning sampai di Telagah
untuk pertama kalinya,  jalan itu hanya
bisa dilalui oleh kereta kerbau dan kuda untuk mengangkut barang masyarakat. 
Ketika
gajah kurning bekerja di Telagah, sebagian halaman sekolah kami (SDN Bekancan) 
terkena
pelebaran jalan. Murid-murid dipersilahkan oleh guru menonton satu gajah kuning
beraksi di halaman sekolah. Para guru pun memberi contoh pentingnya penguasaan
teknologi, membedakan kinerja cangkul dengan gajah kuning. Melihat kerja gajah
kuning dan penggunaan dinamit ketika itu, kami sangat yakin jalan itu sebentar
lagi akan menjadi kenyataan. Namun, kenyataan yang terjadi adalah pekerjaan
gajah kuning itu hanya sampai di Gunung Timbang, kira-kira setengah dari jarak
Telagah ke Kutarayat. Keadaan itu terbengkalai sampai masuknya program AMD
tahun 1986. 

   

Tahun 1976, jalan dari jembatan
Launjahong ke Sampecita mulai disusun batu. Angkutan bis pun mulai masuk sampai
jalan yang memungkinkan setiap Selasa (pekan Rumah galoh). Selama pembatuan itu,
sepeda juga menjadi pengangkut barang hasil bumi karena angkutan bus belum
rutin. Pengendara akan berhenti sampai ketemu bus. Pada priode itu tidak ada
kepastian sampai di mana penggalas berhenti mengayuh sepeda. Jika tidak ada bus
ketemu di tengah jalan, bisa jadi terus mengayuh sepeda yang bermuatan hasil
bumi itu ke Namo  ukur atau Simpang Durin
Mulo. Satu hal yang menarik pada priode saat jalan disusun batu  ini adalah 
hasil bumi itu dijual tidak
terfokus hanya pada hari pekan saja, tetapi bisa saja pada hari-hari biasa. 

   

Pada 1982, jalan mulai diaspal hingga
Telagah secara bertahap. Saya kira, priode 1982-1985 adalah kondisi terbaik
jalan ini. Setelah itu, pemeliharaannya kurang sekali. Memang ada perbaikan
tambal sulam sesekali. Jalan mulai tanpa perbaikan sejak 1990. Kalau pun ada
perbaikan, hanyalah perbaikan minor dan swadaya  masyarakat. 

   

Program ABRI Masuk Desa 

   

Pada 1986 program ABRI Masuk Desa (AMD)
dan Latihan Satuan Integritas Taruna Dewasa (Lasitarda) melanjutkan jalan
tembus yang terbengkalai secara gotong-royong selama hampir dua bulan. Pelaku
sejarah gotong royong itu adalah Taruna AKABRI tingkat akhir, TNI, mahasiswa
USU dan warga Telagah/Pamah Simelir. Akhir dari program itu, untuk pertama
kalinya kenderaan bisa melalui jalan tembus Karo-Langkat itu.  

   

Jalan itu kini 

   

Pada saat ini, jalan itu sangat
memprihatinkan, Telagah ke Binjai yang jaraknya sekitar 35 km ditempuh oleh
kendaraan umum memakan waktu 3-4 jam. Ongkos angkut Rp 10 ribu/orang dan barang
seperti beras Rp 10 ribu/ goni (30 kg). Tentu saja ongkos angkut seperti itu
sangat berpengaruh terhadap harga hasil bumi dan barang yang dibutuhkan oleh 
masyarakat.
  

   

Lain lagi dengan jalan
Telagah-Kutarayat yang jaraknya 10 km, ditempuh  selama 2 jam dengan ongkos Rp 
15 ribu/orang. Akibat
beratnya medan, pada titik tertentu penumpang pun diturunkan dari angkutan untuk
sementara waktu. Namun, warga Kutarakyat sedikit lebih beruntung dari warga 
sekitar
Telagah karena mereka punya jalan alternatif Kutarayat-Berastagi /Kabanjahe.  

   

Satu hal yang perlu menjadi perhatian
bersama,  daerah itu pada  saat ini sudah menjadi daerah terisolasi.
Siapa pun juga mikir berkali-kali datang dan pergi ke daerah itu jika tidak
sangat perlu. Banyak pengalaman teman-teman yang mencoba datang ke sana
membutuhkan istirahat yang panjang sepulang dari sana.   

   

Upaya mengatasi keadaan 

   

Berdasarkan berapa kali berita media
massa, pemerintah merencanakan perbaikan jalan itu mulai tahun 2011 walau
tanggal pastinya belum ada. Tentu saja masyarakat sangat menyambut positip
rencana itu, ada harapan peningkatan perekonomian masyarakat.  

   

Satu hal yang perlu diperhatikan akibat
jalan rusak yang berlangsung begitu lama adalah mengusik rasa bangga kita
sebagai warga Negara. Apa ia WNI itu terlampau bodoh sehingga jalan sepanjang
40 km tidak bisa diselesaikan dalam waktu lebih dari 40 tahun.   

   

Bagaimana pun juga sebagai warga negara
yang baik mesti merubah keadaan menjadi lebih baik. Sebagai sumbangsih untuk
mengatasi keadaan, telah muncul satu kelompok face book, kelompok masyarakat
pemerhati perkembangan jalan tembus Langkat-Karo itu. Kelompok itu mencoba
menggali potensi yang ada di tengah-tengah masyarakat setempat atau perantau
dari daerah itu. Namun tidak tertutup kemungkinan partisipasi masyarakat
simpatisan. Kita sangat respek dengan pemikiran apa yang bisa mereka
sumbangkan.  Tentu saja kita sangat
berharap akan peranan kelompok face book ini karena beberapa anggotanya adalah
orang yang terlibat langsung dalam kebijakan pembangunan jalan itu, seperti
Bupati Langkat, Ketua DPRD Karo, beberapa calon bupati karo, dll. 

   

Melalui tulisan ini juga kami sebagai
inisiator kelompok face book itu dapat bergabung untuk menyumbangkan
pemikirannya, klik : http://www.facebook .com/#!/group. php?gid=10670561 
2692538&ref=ts. Asumsi kita bahwa jalan itu akan diperbaiki pada
2011.  Namun, satu hal yang patut kita renungkan,  meski pun jalan itu sudah 
sempat bagus namun
pada akhirnya rusak juga. Oleh karena itu patut kita antisipasi agar pengalaman
buruk itu tidak berulang kembali, bagaimana melibatkan potensi pemerintah dan
masyarakat secara efektif. Akhirnya, jalan tembus Langkat-Karo dapat menjadi
jalan alternatif bagi jalan Medan-Berastagi yang akhir-akhir ini telah
dirasakan terlampau padat pada hari-hari libur. 

   

(Penulis adalah WNI yang tinggal di LN) 

   





      

    
     

    
    


 



  





Kirim email ke