Bangun terlambat pagi ini. Badan masih letih dari perjalanan pulang Munte-Medan kemarin malam (9 Juli). Letih bukan saja karena diguncang lobang-lobang jalanan tiada henti di antara Singgamanik-Kabanjahe. Keletihan kami terutama oleh ketegangan mempersiapkan pertunjukan Sanggar Seni SIRULO di acara guro-guro aron Kerja Tahun Munte malam 7 Juli lalu.
Siapa tak tegang menghadapi penonton yang memadati losd dan jalanan sekitar losd desa itu, sedangkan aku kelupaan membawa minuman "Lau Simalem-malem Lau Meciho" yang kubawa dari Belanda. Para artis Sirulo sudah merepetiku karena lupa membawanya dari Medan. Namun, kepercayaan diri semakin menguat ketika tepuk tangan gemuruh menyambut penampilan kami yang pertama berjudul Tang Cek (peniruan bunyi tempo gendang yg dalam hal ini tempo Simalungun Rayat). Selain dihadiahi tepuk tangan gemuruh, satu per satu penonton berdatangan memberi sumbangan koin ke raga dayang yang telah kami sediakan. Sebelumnya kami telah mengumumkan gerakan Koin untuk Rumah Adat Karo sambil membagikan brosur yang mengajak orang-orang untuk berperanserta. Brosur yang dicetak sebanyak 6.000 eksemplar ini telah dibagikan sebanyak 400 eks di desa Munte. Jumlah koin yg terkumpul akan diupdate di Tabloid Sora Sirulo dan www.sorasirulo.net, www.koinrumahadat.wordpress.com dan www.koinrumahadat.multiply.com. Aku sebagai sutradara pertunjukan mendadak terkejut ketika musik memasuki intro pada pertunjukan ke 3. Tiba-tiba kudengar suara perempuan-perempuan bernyanyi. "Hei, ini masih intro kok kalian sudah bernyanyi?" pikirku dalam hati. Dan aku menjadi heran ketika kulihat tak satupun artis Sirulo membuka mulut kecuali memainkan ketteng-ketteng dengan riangnya. Ternyata suara bernyanyi datang dari ibu-ibu penonton yang makin lama makin keras dan diikuti seisi losd Munte. "Lit lenna Perjuma Deleng, suanna taruk njoler ku kudin, lit senna la atena keleng, gawah-gawah la erdahin ...." begitu mereka menyanyikan lagu yang berjudul Lit Lenna (atau disebut juga Anak Imbo) ini. Mereka baru berhenti bernyanyi ketika 4 artis jelita Sirulo bernyanyi sambil menari. Lagu yang dikumandangkan Ita Apulina bersama 4 artis Sirulo ini sangat mengena bagi penonton yang tinggal di desa, terutama para ibu. Sepertinya penonton-penonton yang datang dari kota kurang memahami makna dan nostalgia lagu ini. Para penonton kampung, terutama ibu-ibu dan anak-anak, ketawa terbahak-bahak ketika 3 artis laki menyambut lagu ini dengan teriakan: "Anak imbo kena ranjo, e pengindo lalap la empo!!!!" Lagu itu ternyata mengiang sampai esok harinya. Ketika kami berjalan dari rumah tempat menginap ke rumah tempat sarapan pagi, berpapasan kami dengan segerombolan ibu-ibu di jalan. Mereka langsung mengejar kami sambil menari dan bernyanyi: "Lit lenna perjuma deleng, suanna taruk njoler ku kudin ...." Lalu mereka menyalami kami dan menanyakan merga/beru, bebere dan asal kami. Itulah yang mengharuskan aku menulis pagi ini, meski bangun pagi agak kesiangan. Kenangan kemarin itu mengiang. Ada hawa sejuk mengalir di dada dan kemudian di nadi-nadiku. Kami ternyata berhasil memasuki dunia perempuan Karo yang terabaikan selama ini, terutama oleh suasana politik dan ekonomi sekarang ini di mana suara laki-laki lebih dominan dan suara perempuan dianggap sibodoh-bodoh. Anak Imbo kena ranjo, e pengindo lalap la empo ...... Salam dari Medan Juara R. Ginting
