Menafsir Ulang Gajah Mada
Kamis, 19 Agustus 2010 | 23:05 WIB
istimewa
Oleh: Abimardha Kurniawan*
Tidak sulit menemukan nama Gajah Mada (GM) dalam buku pelajaran sejarah.
Muhammad Yamin, sastrawan sekaligus tokoh pergerakan itu, menyebut sang
mahapatih sebagai “pahlawan persatuan Nusantara” yang kemudian ditabal sebagai
judul buku biografi GM gubahannya (1945). Saking terkenalnya, nama GM pun
dipakai sebagai nama jalan, perguruan tinggi, bahkan nama restoran! Juga tak
lupa, beberapa tahun lalu, Langit Kresna Hariadi menerbitkan 8 jilid biografi
tokoh ini dalam bingkai fiksi. Meski banyak kalangan menganggap GM punya peran
penting dalam sejarah bangsa ini, namun sosok GM masih diliputi misteri dan
kerap mengundang polemik nan pelik.
Pertengahan tahun 2009, Viddy AD Daery pernah membuat sebuah pernyataan
sensaional. Ia menyatakan bahwa GM putra asli Lamongan. Pernyataan ini bukan
tanpa dasar. Sebagai orang yang berasal dari daerah Lamongan, juga tentunya
sebagai orang yang mahfum betul tentang sosok GM, Viddy mengaitkan beberapa
ansair folklor dalam kultur lokal masyarakat Lamongan dengan pribadi GM yang ia
pahami. Salah satunya, toponimi sebuah daerah di Lamongan mirip dengan nama GM,
yaitu Kecamatan Modo. Sebagai respon, Pemkab Lamongan kemudian membentuk tim
pencari fakta untuk menguak kebenarannya. Namun, hingga kini belum terdengar
kabar, apakah pencarian itu masih berlanjut atau berbuah hasil...
Untuk menandai bahwa ikhtiar mencari gambaran eksistensi sosok GM belum menemui
titik yang pasti, melalui buku ini. Agus Aris Munandar, coba mengungkap
tafsiran
baru atas biografi sang tokoh melalui telaah arkeologis terhadap Prasasti Gajah
Mada dan dua arca perwujudan. Teks-teks sastra sejarah, seperti
N?garakr?t?gama,
Pararaton, Kidung Sunda, Kidung Sundayana, Babad Gajah Mada, dan Babad Arung
Bondhan, dipakai sebagai pembanding untuk menghasilkan interpretasi yang
kredibel dalam telaah ini. Sebab, antara prasasti, arca, dan teks sastra
sejarah
(naskah kuno) memiliki kuantitas informasi yang berbeda-beda.
Tidak semua bagian teks sastra sejarah tersebut dijadikan acuan, hanya yang
dianggap punya fakta historis menyangkut sosok GM dan lingkungan sosialnya. Hal
ini untuk menghindari bercampurnya peristiwa sejarah dengan peristiwa mitologis
yang berlebihan dan irasional. Terlebih, teks-teks yang diacu punya ciri
historiografi tradisional yang penarasiannya tiada batas antara fantasi dan
kenyataan. Hanya N?garakr?t?gama sebagai perkecualian.
Prasasti Gajah Mada ditemukan di pelataran Candi Singhasari (sekarang di
Kecamatan Singosari, Malang) dan kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
Prasasti yang berangka tahun 1273 ? (1351 M) ini dikeluarkan GM, yang menyebut
diri “rakryan mapatih Mpu Mada”, pada masa pemerintahan ?ri
Tribhuwanottunggadewi, raja ke-3 Majapahit. Sebagai sang mahâmatrimukya, GM
punya hak untuk mengeluarkan prasastinya sendiri. Mungkin inilah alasan penulis
lebih memilih nama Prasasti Gajah Mada dan memakainya secara konsisten dalam
buku ini, daripada Prasasti Singhasari yang sudah lazim dikenal.
Dalam prasasti tersebut, tersirat motif yang melatarbelakangi Sumpah Palapa
(tan
amukti palapa) yang legendaris itu. Disebutkan, GM punya hak untuk
memerintahkan
pembangunan caitya (bangunan suci) bagi tokoh yang telah meninggal. Karena
prasasti ini ditemukan di pelataran Candi Singhasari yang notabenenya tempat
pendharmaan Kertanagara, bisa ditengarai GM hendak mempersembahkan caitya
kepada
raja Singhasari terakhir itu. Dalam kultur Jawa Kuna, lazimnya caitya
dipersembahakan oleh kerabat atau keturunan langsung tokoh yang didharmakan.
Jadi, tak lain tak bukan, GM adalah keturunan Kertanagara, tepatnya dari jalur
selir.
GM juga menjuluki diri Jirnnodhara, artinya ‘pembangun sesuatu yang baru’ atau
‘pemugar sesuatu yang telah runtuh’. Selain berkaitan dengan pembangunan Candi
Singhasari, julukan ini membuktikan—GM ingin meneruskan gagasan Dwipantara
mandala, yaitu pengembangan pengaruh hingga ke wilayah luar Jawa, yang semasa
Kertanaga hidup terlaksana dalam ekspedisi Pamalayu (1197 ? / 1275 M). Setelah
sang raja mangkat, gagasan ini meredup dan kehilangan penerus karena Jawa silih
berganti mengalami huru-hara. Pembangunan Candi Singhasari jadi semacam “ngalap
berkah” yang dilakukan GM kepada leluhurnya sebelum mengajukan Sumpah Palapa.
GM
sadar tentang konstelasi politik kawasan Asia Tenggara. Ia ingin membendung
pengaruh kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara daratan agar jangan sampai masuk ke
wilayah Kepulauan Nusantara.
Selain itu yang menarik, dan tak terduga sebelumnya, adalah pengarcaan sosok GM
dalam perwujudannya sebagai Bima dengan karakter lingga (phallus) menonjol. Ini
bukti adanya unsur Siwaisme dan diduga berasal dari masa akhir Majapahit. Arca
ini berasal dari Trenggalek, Jawa Timur. Pada patung tersebut juga terdapat
inskripsi dengan karakter tulisan yang mirip dengan Prasasti Gajah Mada.
Sayangnya, inskripsi hanya terbaca sebagaian karena kondisinya cukup rusak.
Banyak yang berspekulasi, antara arca perwujudan Bima dan Prasasti Gajah Mada
dibuat oleh seorang citralekha (pemahat batu) yang sama. Pendapat ini masih
perlu ditinjau ulang, walaupun kemiripan karakter tulisan bisa dikatakan sangat
jarang terjadi antara dua inskripsi. Dari segi isi, khususnya dari nama yang
disebut, tidak ada hubungan antara keduanya. Mpu Wirata yang mempersembahkan
arca ini, tidak pernah ada di Prasasti Gajah Mada, begitu juga sebaliknya.
Berkaitan dengan tokoh Bima, penulis menghubungkannya dengan konsep
astadikpalaka (delapan dewa penjaga arah mata angin) yang mengelilingi Siwa.
Bima merupakan perwujudan Siwa di arah barat daya. Dalam konsep India Kuna,
arah
barat daya dipandang sebagai yang terburuk. Pengarcaan itu merupakan bentuk
kerinduan masyarakat Majapahit saat itu kepada sosok GM yang tangguh dan dapat
memulihkan stabilitas politik yang terus merosot akibat peperangan. Penemuan
arca Bima di situs-situs tempat suci, juga menjadi tanda—GM seorang menguasai
ilmu keagamaan.
Pada masa sebelum GM lazim diwujudkan sebagai arca Bima, GM diwujudkan sebagai
Brajanata, tokoh pendamping Panji, dengan karakter phallus yang juga menonjol
menonjol. Ada kesinambungan konsep antara keduanya. Sebab, siklus cerita Panji
merupakan penuturan simbolis kehidupan Majapahit di masa Hayam Wuruk. Tak lain
tak bukan, tokoh Panji adalah figur simbolis sang raja Rajasanagara (Hayam
Wuruk). Selain menjawab polemik seputar siapa sebenarnya tokoh Panji, pendapat
ini juga mencuatkan gambaran lain tentang bentuk fisik GM. Jika Brajanata
merupakan ikon GM, maka gambaran wajah GM sungguh sangat berbeda dengan yang
dipahami selama ini. Gambaran itu muncul dalam cover buku ini.
Banyak tafsiran baru tentang GM dalam buku ini, mulai dari pengertian nama GM
secara etimologis-terminologis dan kaitannya dengan Gan?e?a (h. 12), siapa
orang
tuanya serta perkiraan tempat kelahiran (h. 10, lantas bandingkan dengan
pernyatan Viddy di atas), muasal nama kota Bima di Sumbawa yang berkaitan
dengan
“penebusan dosa” GM pasca perang Bubat (h. 99), hingga senjata apa yang
dipegang
saat mengucapkan Sumpah Palapa (h. 51). Tak jarang, tafsiran itu membuat
tercengang karena belum pernah terdengar dan terduga sebelumnya.
Namun demikian, sebagaimana judul buku ini, sebagian besar substansi biografi
mengungkap sepak terjang sang patih di ranah politik. Ini bisa dimaklumi.
Sumber-sumber tentang profil GM dan yang bersifat rasional sebagain besar
merekam sepak terjang sang tokoh di ranah itu. Agaknya GM lebih dikenal sebagai
tokoh publik yang tangguh dan punya kredibilitas tinggi. Mungkin karena itulah,
dan karena GM dikenal ketika berkiprah di ranah politik, kehidupan pribadi
serta
kelahirannya tersamar dan sering diliputi hal-hal fantastis. Dan penulis buku
ini ingin menempatkan GM dalam proporsinya sebagai manusia biasa yang tak luput
dari khilaf, bukan sebagai superhuman.
Buku ini punya kedudukan penting dalam kajian tentang biografi GM, sejarah
Majapahit, dan sejarah Nusantara kuna umumnya. Buku ini bukan simpulan final
atas siapa sebenarnya GM. Bagaimanapun, dalam buku ini biografi GM ditampilkan
sebagai “realitas tafsir”. Lebih baik menyikapinya secara kritis, daripada
menjadikannya serangkaian “mitos” dalam bentuk baru. Mungkin masih banyak data
(artefak) yang terserak dan hingga kini belum ditemukan. Penelitian-penelitian
selanjutnya masih ditunggu. Penulis buku ini pun mengharap demikian. Sayangnya,
peminat bidang semacam ini terbilang langka. (*)
Judul : Gajah Mada: Biografi Politik
Penulis : Agus Aris Munandar
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : Pertama, Maret 2010
Tebal : xiv + 162 halaman
*Abimardha Kurniawan, penikmat buku, tinggal di Surabaya.