MEDAN - Anggota DPRD Sumut, Taufan Agung Ginting, mengecam keteledoran 
unsur Pemkab Tanah Karo, termasuk bupati, Daulat Daniel Sinulingga 
dalam  menangani bencana Gunung Sinabung, sehingga mengakibatkan 35.000 
pengungsi yang tersebar di sejumlah kecamatan tercerai-berai.

“Ini
 sudah yang kedua kali pengungsi dibuat kucar-kacir dan terpisah dari 
keluarganya akibat keteledoran bupati Tanah Karo dan jajarannya,” jelas 
Taufan, pagi ini.

Menurut politisi Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan  (PDIP) ini, pihaknya menyesalkan kebijakan bupati Tanah Karo
 yang menghimbau para camat agar memerintahkan para pengungsi yang 
terdapat di 35 titik segera kembali ke rumah, karena situasinya sudah 
aman.

“Itu saya tanyakan langsung dan dijawab camat Kabanjahe, 
Lian Karo-karo. Namun, ketika saya tanyakan mana surat dari bupati, yang
 bersangkutan tidak bisa memperlihatkannya,” beber anggota dewan dari 
daerah pemilihan Tanah Karo itu.

Harusnya, tandas anggota Komisi B
 ini, himbauan itu disertai keterangan para ahli gunung api agar 
masyarakat tidak ragu-ragu.  “Yang pertama, himbauan beberapa hari 
setelah gunung Sibanung meletus tidak efektif, karena terjadi lagi 
letusan susulan,” katanya.

Kini himbauan itu, menurutnya, tidak 
memberi rasa nyaman, karena Gunung Sinabung yang pertama meletus akhir 
Agustus lalu, kembali memuntahkan lava pada Jumat (3/9) sekitar  pukul 
04.40 WIB.

Akibatnya, para pengungsi tunggang langgang mencari 
tempat aman. “Mereka jadi tercerai-berai dari keluarga mereka, berlarian
 entah ke mana,” tukas Taufan yang baru saja kembali dari lokasi 
bencana.

Sehingga, sulit dikontrol lagi penanganan terhadap para 
sekitar 35.000 pengungsi yang terdapat di sejumlah kecamatan, seperti 
Kabanjahe, Berastagi, Tiga Binanga, Kuta Buluh dan Sei  Bingai.

Taufan
 juga melihat banyak kekurangan dan langkah yang harus diambil terkait 
nasib pengungsi yang masih menunggu uluran bantuan. Misalnya, update 
data pengungsi terkini, yang menurut Taufan tidak tersedia di posko 
pengungsian. 

Kemudian, terjadi penumpukan bantuan yang tidak 
tersalurkan. Sehingga ada donatur yang langsung menyampaikan kepada para
 pengungsi. "Ini kan sudah ada semacam ketidakpercayaan terhadap Pemkab 
Tanah Karo," pungkasnya.

Selanjutnya, tidak tersedianya tenaga 
dokter untuk menangani pengungsi yang mungkin butuh penanganan medis. 
“Yang ada hanya perawat. Karenanya, kita berharap Dinkes Sumut 
menurunkan dokter dan tim medis menangani pengungsi,” paparnya.

Selain
 itu, lanjutnya, saat ini para pengungsi membutuhkan selimut dan 
obat-obatan, karena peralatan ini digunakan sehari-hari di tenda 
pengungsian. Terkait pengamanan, Taufan meminta Kapolda dan Pangdam I/BB
 untuk menambah personil guna mengamankan harta benda pengungsi dan 
warga dari pencurian.

Sumber: 
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=141280:dprdsu-kecam-pemkab-tanah-karo&catid=14:medan&Itemid=27

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke