Mas Rifai bertanya kepada Pak Imam Suhadi:
> 1. Apakah perbedaan antara syariat dan tarekat ?
Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Perkenankan saya nimbrung menjawab pertanyaan tersebut dengan bahasa
populer:
Syariat dan Tariqat, kedua-duanya bertujuan untuk mendekatkan diri
kepada Allah, tetapi dengan menggunakan alat dan cara yang berbeda.
Syariat mengandalkan iman (percaya tanpa melihat) agar kita patuh
kepada hukum-hukum agama, dan menggunakan akal untuk mencerna.
Ritual-ritual agama dan kaidah sosial banyak ditekankan dalam
syariat. Hasil yang dicapai dengan syariat adalah pengetahuan
mengenai Allah secara ilmul yaqin. Sebagian besar pelajaran agama
yang diberikan di depan umum adalah syariat.
Tariqat mirip dengan syariat yang menggunakan iman dan akal, tetapi
lebih menekankan pada sikap hati dan perilaku. Hati (siir) diasah
agar peka dalam menangkap isyarat-isyarat Ilahi. Hasil yang dapat
dicapai dari tariqat ini adalah pengetahuan mengenai Allah secara
ainul yaqin dan [akhirnya] haqqul yaqin. Pelajaran ini, menurut
tradisi, hanya diberikan secara lisan langsung dari mursyid kepada
salik, tetapi kini terdapat kecenderungan ke arah pemberian
pelajaran ini secara lebih terbuka. Pelajaran tariqat adalah
pelajaran yang bersifat personal (pribadi); mursyid memberi
instruksi-instruksi khusus kepada tiap salik berdasarkan kondisi
perorangan salik yang bersangkutan.
Perbedaan lain: pelajaran syari'at dilakukan dengan mengandalkan
bahasa akal dan menggunakan perkataan; sedangkan pelajaran tariqat
dilakukan melalui komunikasi hati, relatif hanya sedikit sekali
perkataan yang terlibat.
Tariqat adalah sebuah perjalanan ruhani (spiritual journey) menuju
Allah. Dalam setiap perjalanan, ada tahapan-tahapan yang perlu
ditempuh sebelum kita mencapai tujuan akhir, yaitu ma'rifat dengan
Allah. Tahapan-tahapan dalam perjalanan itu dapat kita sebut maqam.
Banyak sekali cara orang membagi tahapan-tahapan itu. Mirip orang
yang menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jakarta, tiap orang atau
rombongan boleh menentukan sendiri di mana saja menetapkan titik
pemberhentian, tergantung dari jalur mana yang ditempuh dan
kendaraan apa yang dipakai.
Banyak orang bertanya, apakah untuk menjalani tariqat, orang
terlebih dulu harus menguasai syariat. Saya jawab dengan tegas:
TIDAK HARUS. Syariat itu, sambil berjalan, akan dikuasai pula oleh
para salik. Kalau diibaratkan perjalanan Surabaya-Jakarta, syariat
adalah peta perjalanan dan peraturan lalu lintas (larangan,
perintah, petunjuk). Karena perjalanan selalu dipimpin oleh seorang
guide yang berpengalaman, maka --kalau terpaksa-- kita boleh hanya
mengandalkan guide itu untuk memberi petunjuk sambil kita belajar
dalam perjalanan nyata (perbuatan nyata, tariqat).
Perlu diketahui pula bahwa syariat memuat deskripsi dalam bentuk
perkataan mengenai tempat tujuan (Allah). Kalau ketika masih di
Surabaya kita membaca deskripsi tertulis mengenai tugu Monas,
misalnya, kita hanya dapat menduga-duga bentuk Monas. Tetapi, sejauh
mana kata-kata mampu menggambarkannya? Sejauh itulah syariat mampu
menjelaskan (mendekatkan kita kepada) Allah; hanya sebatas ilmu
[ilmul yaqin]. Sebaliknya, biarpun tanpa pernah membaca deskripsi
apapun tentang Monas itu, kita dapat menempuh jalan [tariqat] untuk
datang melihat [tahu secara ainul yaqin], mendekati dan meraba dll
[tahu secara haqqul yaqin].
Dari perumpamaan tersebut dapatlah kita menyimpulkan bahwa tariqat
dikembangkan untuk melengkapi kekurangan/keterbatasan yang ada pada
syariat. Kalaupun kita menemukan perbedaan ucapan antara ahli
syariat dan ahli tariqat, perbedaan itu timbul karena adanya
perbedaan sudut pandang, perbedaan pengalaman, dan keterbatasan
kata-kata untuk menjelaskan sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan
mata. Itulah sebabnya sebagian besar ahli tariqat tidak banyak
bicara.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]