Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Sungguh asyik pembicaraan imajiner antara Sdr Nadri dengan Pak Cik
itu. Sungguh mulia keinginan anda untuk membentuk sebuah jamaah yang
di dalamnya orang tidak bercerai berai, sebuah jamaah yang mempunyai
seorang imam sebagai tali pengikat.
Kebanyakan orang memang prihatin melihat kenyataan bahwa di atas
bumi ini manusia tampak bercerai berai. Masing-masing individu
berangan-angan, "Seandainya semua orang berpikiran seperti saya,
pastilah seluruh umat manusia ini bersatu padu." Maka mulailah orang
mencari kawan-kawan yang cocok, lalu membentuk kelompok atau jamaah.
Kemudian kelompok itu berangan-angan, "Seandainya semua orang masuk
golongan saya, alangkah damainya bumi ini." Lalu kelompok itu mulai
menarik-narik orang dari kelompok lain agar bergabung pada
kelompoknya sendiri.
Sayangnya, kenyataan menunjukkan bahwa biarpun rambut boleh sama
hitam, tetapi yang di bawah rambut ini tidak sama. Maka terbentuklah
jutaan kelompok, masing-masing dengan ciri tersendiri. Sebagian dari
mereka main tarik anggota dengan mengklaim bahwa kelompoknya
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kelompok lain. Sebagian dari
mereka berubah menjadi 'penyembah kelompoknya', mereka mempertuhan
kelompok, dan timbullah fanatisme kelompok. Persaingan dan benturan
antar kelompok tak dapat dihindari.
Untunglah, tidak semua orang terbawa ke arah fanatisme kelompok.
Sebagian dari kita menyerukan perdamaian antar kelompok dengan cara
menonjolkan persamaan antar kelompok dan "menyembunyikan"
perbedaan-perbedaan untuk mereka sendiri. Mereka tidak memamerkan
kelebihan-kelebihan kelompoknya. Mereka mencari 'something in
common' di antara kelompok-kelompok manusia. Mereka menghargai
perbedaan-perbedan yang ada sebagai rahmat yang perlu disyukuri.
Al Qur'an berkali-kali menyebut "tali Allah". Inilah tali pengikat
yang kokoh yang merupakan titik temu dari semua golongan manusia.
Dengan pemahaman yang dalam, tali ini mempertemukan bukan hanya
semua kepentingan umat Islam, tetapi mencakup seluruh umat manusia.
Tali Allah ini, jika dijelaskan dengan bahasa yang universal, akan
mampu menjadikan seluruh manusia tidak lagi bercerai-berai.
Jadi, daripada kita mengupayakan persatuan dalam kelompok-kelompok,
apakah dalam forum tasawuf ini kita tidak lebih baik mengupayakan
persatuan dalam skala yang lebih besar? Biarlah kelompok-kelompok
dan aliran-aliran itu tetap eksis sebagaimana adanya sebagai
perwujudan yang realistik, sementara kita mengupayakan komunikasi
yang saling menghargai dan saling menghormati.
Saya tampil dengan keyakinan yang tak dapat diusik, bahwa firqah
yang benar bukan terletak pada kelompok, jamaah atau aliran yang
mana, tetapi firqah itu merupakan kelompok imajiner yang terdiri
dari individu-individu yang berpegang pada tali pengikat yang
mutlak, tali Allah. Masuk ke dalam suatu aliran tidak secara
otomatis memberi hak kepada seseorang untuk disebut sebagai anggota
'firqah yang benar', ia terlebih dahulu harus menemukan makna tali
Allah itu dengan mata hatinya, dan menghayatinya.
Sebagai tali yang mutlak, tidak pantas kalau ia dibatasi oleh
kotak-kotak duniawi, tali itu memanjang melampaui batas aliran,
kelompok, ras, suku bangsa, negara, dan agama. Sayang sekali makna
ini tidak mudah dipahami dengan semata-mata menggunakan rasio;
seseorang perlu terlebih dahulu mengalami Lailatul Qadar sebelum
dapat menerimanya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]