Assalamu'alaikum Wr.Wb MENDIDIK NAFSU Hati yang jinak dengan berdzikir kepada Allah Azza wa Jala sibuk dengan mentaatinya. Sebaliknya mereka yang berbuat dengan nafsu syahwat mirip dengan apa yang diperbuat oleh burung liar, apabila dimaksudkan dari mendidiknya, serta mengubahnya dari melompat-lompat liar, kepada menuruti dan terdidik. Maka pertama-tama, bahwa burung itu dikurung dalam sangkar yang gelap dan ditutup kedua matanya. Kemudian ia berhasil terputus dari darat lalu terbang lagi di udara lepas. Dan ia lupa dari naluri lepas bebas yang disukainya selama ini, kemudian disayangi sehingga ia jinak kepada tuannya serta disukainya benar-benar. Apabila dipanggil, ia menyahut. Dan manakala ia mendengar suara tuannya, ia kembali kepadanya. Begitulah jiwa, tidak jinak kepada Tuhannya dan tidak selalu berdzikir kepadaNya, selain apabila jiwa itu terlepas dari kebiasaanya. Pertama-tama dengan khalwah dan uzlah (mengasingkan diri) supaya terpelihara pendengaran dan penglihatan dari segala yang disukai. Kedua, jiwa itu dibiasakan dengan memuji Allah, berdzikir dan berdo�a di dalam khalwah tadi, sehingga sangat jinaknya dengan berdzikir kepada Allah �Azza wa Jalla, sebagai ganti dengan dunia dan keinginan-keinginan yang lain. Dengan demikian maka nafsu dididik, sebagaimana mendidik burung dan binatang piaraan. Mendidiknya ialah mencegahnya daripada memandang, menyukai dan merasa senang dengan nikmat dunia, bahkan dengan semua yang diceraikannya bila mati. Karena akan dikatakan kepadanya : �CINTAILAH APA YANG ENGKAU CINTAI. SESUNGGUHNYA ENGKAU AKAN BERPISAH DENGAN DIA.� Apabila ia tahu, bahwa siapa yang mencintai sesuatu, yang harus akan berpisah dengan dia dan sudah pasti merasa tidak berbahagia dengan perpisahan itu, niscaya hatinya akan sibuk dengan mencintai sesuatu yang tiada akan berpisah, yaitu : DZIKIR (menyebut, mengingat) Allah Ta�ala. Sesunguhnya dzikir itu akan menemaninya dalam kubur dan tiada akan berpisah dengannya. Komentar : Di dalam Tasawuf dan Thariqat Khalwat atau Uzlah dilaksanakan dengan SULUK. Orang yang melaksanakan suluk disebut SALIK. Pelaksanaan suluk dengan BERIKTIKAF selama 40 (empat puluh) hari atau 20 (dua puluh) hari atau 10 (sepuluh) hari diperuntukkan waktu tersebut semata-mata untuk beramal saleh serta bertaubat karena Allah SWT. Jaman sekarang yang serba sibuk ini Iktikaf cukup dilakukan selama 10 hari. Di dalam Suluk/Iktikaf inilah terjadi PERANG BESAR, yaitu perang melawan Hawa Nafsu dan perang melawan Iblis yang ada di dalam diri. Para Salikin diharuskan untuk mengurangi makan & minum, mengurangi tidur, mengurangi bicara dan memperbanyak DZIKRULLAH dan ibadah-ibadah lainnya. Pelaksanaan Suluk/Iktikaf ini mutlak diperlukan seorang MURSYID untuk membimbing secara Ruhani (dan jasmani), supaya Salikin dapat menang dalam perangnya melawan Iblis dan dapat mencapai ke hadirat Allah SWT. Di dalam Suluk/Iktikaf ini Salikin dilatih dan dibiasakan untuk menundukkan hawa nafsu-nya dan jiwanya dilatih untuk senantiasa ber-Munajat ke hadirat Allah SWT. Para Nabi dan Rasul terdahulu sebelum di angkat oleh Allah dipersiapkan dan disucikan oleh Allah. Seperti Nabi Muhammad SAW suka berkhalwat di Gua Hira dalam waktu yang tidak singkat, yang pada akhirnya beliau menerima wahyu pertama dan diangkat menjadi Rasul dan Nabi. Begitu juga Nabi Musa sebelum menerima Kitab Taurat diperintahkan oleh Allah untuk ber-Khalwat selama 40 hari. Tentunya bagi umat, untuk dapat menerima NUR ILLAHI harus dipersiapkan dan disucikan terlebih dahulu (dengan ber-Iktikaf). Wassalamu'laikum Wr.Wb
--------------------------------------------------------------------- Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
