Note: Some recipients have been dropped due to syntax errors. Please refer to the "$AdditionalHeaders" item for the complete headers. > * MBOK YA ANUMU ITU JANGAN DIANUKAN KE ANUNYA ANU > > Komunikasi itu gampang-gampang sulit, atau sulit-sulit gampang. > Maksudnya, tampaknya gampang tapi ternyata sulit, tampaknya sulit tapi > lha kok gampang. Itu tergantung macam-macam faktor: bahasa yang > digunakan, situasi, dan konteks komunikasi, latar belakang komunikasi, > latar belakang komunikator dan komunikan. Bahkan bergantung lebih > banyak hal lagl: bergantung canthelan, senggot, dan lain sebagainya. > > Markesot terkadang merasa dirinya adalah pakar komunikasi, di saat > lain ternyata ia tolol setolol-tololnya dalam berkomunikasi. > > Nabi Sulaiman bisa berkomunikasi dengan segala macam makhluk. Artinya > beliau kenal betul hakikat gerak daun-daun, gelagat para jin, di arah > mana semut mencium sesuatu, dan apa saja. Dengan kata lain Nabi > Sulaiman itu ilmuwan komplet, beliau mengerti hakikat dan syariat > segala macam makhluk. Sebagaimana para astronom paham watak dan > perilaku bintang-bintang, para dokter hewan tahu sifat dan kelakuan > binatang, para sosiolog mafhum apa saja yang 'diucapkan' oleh gerak > masyarakat dan > sejarah, para kiai, dan psikolog tahu persis 'bunyi suara', sorot mata > Anda, atau kerut-merut kulit wajah Anda. Atau seorang dokter bisa > berkomunikasi dengan penderitaan tubuh Anda cukup dengan menatap > wajah, atau menyentuh kulit tangan atau kening Anda. Para ilmuwan itu > kalau digabung jadi satu, lengkap dengan segala makrifat dan kekayaan > harta-bendanya: akan menjadi Nabi Sulaiman minus kenabian resminya. > > Tapi bagi orang-orang awam seperti Markesot, komunikasi itu bisa > merupakan masalah yang ruwet. Markesot mungkin terbiasa berkomunikasi > dengan pengemis atau gelandangan, tapi belum tentu ia bisa berdialog > dengan seorang bupati, dengan ahli paranormal, juga pasti akan serba > salah kalau berkomunikasi dengan wewe gombel, thok-thok kerot, atau > seekor kambing. > > Memang komunikasi itu kelihatannya sepele, tapi kalau gagal, bisa > fatal akibatnya. Seorang penumpang kereta api yang bindheng suaranya > bertanya kepada penumpang di sebelahnya: "Mas, jam berapa > sekarang?"-Ia langsung diajak berkelahi oleh orang itu, karena > ternyata ia juga bindheng. > > Anda pasti sudah hapal anekdot itu. juga ketika seseorang yang berdiri > berdesak-desakan di bus terinjak kakinya oleh seseorang di sebelahnya. > Sebelum memprotes, ia merasa perlu dulu mengadakan penelitian terhadap > aspek-aspek sosiologis historis dari orang yang hendak diajaknya > berkomunikasi. > > "Mas, Mas, saya boleh tanya?" ia bertanya sangat halus. > > "Silakan...," jawab si penginjak dengan heran. > > "Mas ini putranya perwira ABRI?" > > "O, bukan, bukan..." > > "Punya paman atau sedulur yang ABRI?" > > "Ndak...ndak..." > > "Punya tetangga atau kenalan seorang ABRI?" > > Dan ketika orang itu menjawab 'tidak' juga, maka suara kawan kita itu > mendadak agak keras: "Kalau begitu jangan injak kaki saya ! " > > Pengenalan konteks, kerangka dialog, bahkan latar belakang sosiologis > historis, sangat penting dalam komunikasi. Kalau tidak, seseorang bisa > babak belur. Paling tidak, yang terjadi kemudian bukan dialog, > melainkan monolog. > > Dulu di masa muda Markesot, sebagai anak sulung ia banyak dibebani > tanggung jawab oleh orangtuanya untuk mengurus adik-adiknya . Suatu > hari sang Bapak memanggilnya dan berkata: "Sot, tolong si Anu itu > dianu, mbok ya anunya itu jangan dianukan ke anunya anu! > > "Ya, Pak," jawab Markesot, "nanti saya anunya si anu itu!" > > Tapi kemudian ia terlupa. Sehingga beberapa hari kemudian ketika sang > Bapak menegurnya. "Bagaimana Sot ? Si Anu sudah kamu anu atau belum?" > > Tergagap Markesot menjawab-"Sudah Pak. Saya bilang: Anumu itu mbok ya > jangan dianukan ke anunya anu... Dan tampaknya si Anu sudah > benar-benar anu kok..." > > "O, ya sudah kalau si Anu sudah anu...," sahut Bapaknya dengan > perasaan puas. > > Komunikasi sangat gampang. Tapi yang terjadi pada Markesot dengan > bapaknya itu bukanlah komunikasi: mereka hidup dalam imajinya > sendiri-sendiri. Masing-masing bermonolog. > > Namun bisa juga hanya dengan mengandalkan 'anu'-komunikasi > berlangsung, asal 'anu' di situ merupakan kesepakatan kode yang telah > memiliki latar belakang konvensi antara komunikator dan komunikan. > Jangankan 'anu': tanpa kata pun komunikasi bisa berlangsung. > 'Kata'-bentukan ucapan- > bahkan dikenal sebagai media komunikasi yang paling dangkal, meskipun > justru karena itu ia malah praktis. > > Ada banyak bahasa komunikasi yang lain: pandangan mata, mimik wajah, > gerak, kode-kode, atau 'komunikasi sunyi'. Dalam metode-metode latihan > teater ada dikenal verbal- communication, ada verbal communication, > serta ada silent cornmunication. Ada komunikasi verbal, ada yang > fisikal, serta yang sunyi. Dalam dimensi-dimensi kehidupan > tertentu-tanyakan kepada pakar kasepuhan, kaum sufi, ahli kebatinan, > orang yang bercinta, dan seterusnya-komunikasi paling efektif justru > dengan menggunakan 'bahasa' diam. Kalau istri Anda purik, ngambeg, gak > wawuh: ketahuilah bahwa ia justru sedang menggunakan bahasa yang > paling efektif untuk menyatakan perasaannya kepada Anda. Kalau dengan > kata-kata, malah perasaan itu tak sampai. > > Dulu Markesot pernah bercerita tentang seorang temannya: dalam > perjalanan bersama keliling kota-kota Filipina dalam rangka ikut > mendukung Cory Aquino-ada seorang teman yang Bahasa Inggrisnya > terbatas > pada 'yes', 'no', 'what', atau "yes no what-what" (yo gak opo-opo). > Tapi dialah yang paling berhasil komunikatif dengan penduduk desa-desa > dan kampung-kampung, berkat kemampuannya menggunakan gerak tubuh, > mimik muka, serta inisiatif-inisiatif komunikasi yang lain meskipun > tak menggunakan kata-kata. > > Di tengah pergaulan sehari-hari, ada teman yang bisa komunikatif di > obrolan, tapi gagap di podium. Ada yang fasih di ruang ceramah, tapi > glagepen dalam paugeran. Ada yang maha orator di panggung, tapi > ndlahom di depan cewe. Ada yang pintarnya ngobrol dengan anak kecil, > ada yang dengan orang 'bawah', ada yang bisa komunikasi nyogok uang > untuk keperluan tertentu, pokoknya macam-macam. > > Tapi yang paling inti dan substansial dalam peristiwa komunikasi > sesungguhnya bukan 'bagaimana bahasa yang digunakan', melainkan apakah > kedua belah pihak terbuka atau tidak untuk berkomunikasi. Kalau > seseorang terbuka untuk berdialog, maka bahasa gampang dicari. Tapi > kalau ia tertutup, maka pakai bahasa apa pun akan salah kedaden. > > Ketertutupan komunikasi dalam masyarakat kita biasanya disebabkan oleh > penyakit-penyakit seperti feodalisme, hirarkisme, atau segala macam > posisi perhubungan sosial yang mendorong sikap apriori. > > Contoh feodalisme komunikasi misalnya ketika seorang bapak hanya > sanggup untuk 'mengomongi' dan tak sanggup 'diomongi'. Kalau dia > mengomongi, segalanya 'betul'. Kalau dia 'diomongi', segalanya > 'salah'. > > Juga dalam kondisi hirarkisme tata sosial misalnya yang terjadi di > tubuh birokrasi, atau bahkan ketika 'rasa birokrasi' melebar keluar > konteks formal birokrasi itu sendiri. Seorang atasan tak bisa > diomongi, ia hanya punya 'kewajiban' untuk mengomongi. Kondisi seperti > itu membuat orang menjadi antikritik, tak bisa mendengarkan apa pun > yang dia anggap mengkritiknya atau menyalahkannya. Saking tak biasanya > mendengarkan, bahkan terkadang ia tak tahu bahwa sesungguhnya ia > dipuji. Ia terbiasa > memerintah, terbiasa 'berkuasa' dan 'paling benar', sehingga kalimat > pujian ia takutkan sebagai perongrong kekuasaan dan kebenaran dia. > Bandingkan dengan tokoh besar kita Dr. Soedjatmoko yang barusan > dipanggil Allah: ketika beliau menjadi Duta Besar Indonesia di Amerika > Serikat, beliau selalu meminta saran dan kritik dari stafnya sebelum > tampil berbicara atau berpidato. > > Tapi jangan salah paham. Kalau Markesot bilang soal feodalisme dan > hirarkisme, sehingga lantas Anda ingat 'mental kepegawaian' atau > birokrat: itu tidak lantas berarti semua birokrat atau pegawai itu > punya > penyakit seperti itu. Sangat banyak birokrat dan aparat negara yang > wajib kita acungi jempol. > > Markesot paling takut terjadi miskomunikasi. Mentang-mentang dia > bilang penyakit feodalisme dan hirarkisme, lantas sebagai birokrat > Anda tersinggung dan merasa Anda yang dituding. Bedakan dong antara > pemahaman konteks global dengan kasuskasus formal lokal. > > Kata orang-orang pintar, komunikasi itu mesti rasional dan > kontekstual, juga obyektif. Kalau subyektif, apa pun saja yang > Markesot katakan akan dianggap salah. Kalau konteks komunikasi kita > misalnya adalah "sepak bola profesional", itu tidak harus inklusif > 'Asyabaab'. Dalam konteks itu bisa kita sebut van Basten atau Heguita, > dan bisa sama sekali tak ada urusan dengan Asyabaab. > > Mungkin karena pusing oleh beberapa kasus diskomunikasi, akhir-akhir > ini Markesot sering nglindur dan sambat: "Owalah! mbok ya kalau anu > itu dilihat dulu anunya, supaya ndak salah anu.. !"[] > > BUKAN GLOBALlSASI, TAPI NEO-SENTRALISASI > > Markembloh didaulat oleh para warga KPMb (Konsorsium Para Mbambung) > untuk pidato tentang globalisasi. Markesot bertindak sebagai protokol > alias MC, juga moderator kalau nanti terjadi perdebatan. > > "Saudara-saudara sekalian. Globalisasi. Apakah globalisasi? Tahukah > saudara-saudara apa gerangan globalisasi?" > > "Wah, pakai gaya Al-Quran...," seletuk Markedet, "Al-qari'atu mal > Qari' ah wa maa adroka mal qori'ah..." > > "Mengertikah saudara-saudara apa itu globalisasi?" Kata Markembloh > lagi. > > "Tidaaaaak!" jawab anak-anak KPMb serentak > > "Jadi untuk apa saya berbicara kepada orang-orang yang tidak > mengerti?" > > "Mengertiiiii!" jawab mereka lagi. > > "Jadi tidak perlulah saya menjelaskan sesuatu kepada orang yang toh > sudah mengerti." > > "Gendheng " > > "Gendheng tapi lak jujur! Gendheng tapi lak gak tahu mbujuki! Gak tahu > korupsi! Gak tahu ngramrok! Gak tahu nggusur!..." > > Palu diketokkan ke meja keras-keras oleh Markesot. "Gendheng. Jangan > gendheng. Gendheng tak ada gunanya. Gendeng boleh saja, asal ada > perlunya." > > "Lho itu 'kan lagu Begadang!" teriak anak-anak. > > Markesot memukulkan palu lagi. "Markembloh boleh saja gendheng, asal > tidak merugikan forum dan tetap disesuaikan dengan era globalisasi. > Ayo cepat mulai lagi pidatonya!" > > Markembloh mulai lagi. > > "Globalisasi, Saudara-saudara!" katanya, "adalah mengumpulkan lombok, > brambang, bawang, garam, dan terasi, jadi satu di cowek atau layah, > kemudian diuleg sampai campur dan merata semua. Atau, globalisasi > adalah menuangkan air panas, gula, kopi campur keringat sedikit, > lantas diaduk sampai larut satu sama lain." > > "Oooooo...!" anak-anak koor. > > "Globalisasi adalah dibukanya pintu-pintu dunia sehingga bulatan > kehidupan di muka bumi ini campur menjadi satu. Globalisasi ialah > dirobohkannya sekat-sekat yang semula memisahkan suatu kelompok > masyarakat dengan kelompok lainnya. Globalisasi adalah berperannya > sarana-sarana informasi dan komunikasi sehingga semua manusia di dunia > saling bersentuhan, bergaul, mempengaruhi satu sama lain. Take and > give. Mengambil dan memberikan. Menerima dan menyodorkan." > > "Oooooo...!" koor anak-anak lagi. > > "Yang satu take, lainnya tinggal give!" > > "Lho, lho, lho, lho...," anak-anak terperangah. > > "Yang satu memberikan, lainnya tinggal menerima. Yang satu > mempengaruhi, lainnya dipengaruhi. Adil, bukan?" > > "Adil dengkulmu mlicet!" > > "Sama dengan antara hak dan kewajiban yang dibagi rata. Sekelompok > masyarakat memperoleh hak kelompok lainnya mendapatkan kewajiban." > > "Lho, lho, lho, lho...." > > "Nilai-nilai dari negara kuat, modal kuat, ekonomi kuat, militer kuat, > disodorkan kepada yang lemah. Barat mempengaruhi Timur. Utara > menentukan Selatan. Atas mengatur Bawah. Pusat menggiring Pinggiran. > Film-film Hollywood diputar di TV Surabaya, tapi ludruk dan jaran > kepang tak perlu dipertunjukkan di Los Angeles. > > "Supermarket, Mc. Donald, Kentucky, Honda, Bellini, dibyuk-kan ke > kampung-kampung kita, tapi supaya adil warung pecel, clurit, jajan > rondho kemul, bolcino, gledekan, cikar, gludug meduro, tak usah > dipopulerkan di Kyoto dan Stockholm. > > "Pokoknya yang satu saja yang memberi, lainnya tinggal menerima. > Filsafat, ideologi, pola strategi dan arah tujuan pembangunan kita > juga harus meniru negara-negara Utara; jangan mereka yang disuruh > meniru kita. Pokoknya globalisasi itu edisi berikut dari westernisasi, > baju baru dari hegemoni kekuatankekuatan Utara, restorika baru dari > keadikuasaan yang menimpa kita semua. > > "Mau tidak mau kita harus diperkosa. Lha daripada dan merasa > tersiksa,'kanmending menikmati pemerkosaan. Dengan kata lain, > Saudara-saudara, yang kita lakukan sekarang ini sesungguhnya bukan > globalisasi, melainkan neo-sentralisasi..." > > "P" ELU KAYAK "M" GUA...! > > Markesot bercerita tentang seorang Direktur Perusahaan yang naik pitam > kepada saingan dagangnya. Musuhnya itu, seorang Direktur Perusahaan > juga, dianggap melakukan kompetisi yang tidak fair. > > Maka pagi itu sebelum ke kantor ia menyuruh sopirnya untuk langsung > melajukan mobil menuju kantor sang musuh. Wajahnya cemberut sepanjang > jalan. Terkadang keluar satu-dua kata makian yang keluar tanpa > sengaja. Si supir ngeri juga. Apalagi air muka si Bos makin lama > makin berwarna kemerah-merahan seperti orang kebelet buang air besar > pas tengah-tengah rapat partai. > > Begitu tiba di kantor musuh, si Bos langsung turun mobil dan tanpa > babibu langsung masuk. Satpam di pos penjagaan depan kebingungan. Mau > menahan atau membentak tidak berani, soalnya si Bos pakaiannya bagus, > pakai dasi segala, dan sepatunya mengkilat. > > Sebentar kemudian terdengar suara-suara dari dalam bagaikan teater > Shakespeare, Bengkel Rendra, atau setidaknya Sakerah. Bahkan terdengar > pula meja dipukul-pukul. > > Sesaat kemudian pintu kantor mendadak dibuka dengan kasar. Si Bos > keluar dengan wajah merah legam dan mata melotot seperti sogok telik. > Berjalan agak miring karena kepalanya masih menghadap ke arah si > musuh. Sambil menuding-nudingkan tangan, si Bos memaki: "Pantat Lu > kayak muka Gua!"... > > Kemudian tergopoh-gopoh sopirnya membukakan pintu mobil si Bos masuk, > duduk menghempaskan tubuhnya sambil menarik napas lega. Tapi sebelum > berangkat, sang supir memberanikan diri mengemukakan sesuatu. > > > "Maaf ya Pak Bos...," ujarnya terbata-bata. > > "Apa!" bentak si Bos. > > "Maaf, sekali lagi maaf... tapi kalimat makian Pak Bos tadi itu apa > tidak terbalik...?" > > Betapa kagetnya si Bos. "O ya.. Terbalik ya?" > > Mendadak ia buka pintu mobil, turun, dan kembali menuding-nuding wajah > musuhnya sambil mengulang makian: "Muka Gua kayak pantat Lu!"... > > Lemaslah sang supir. Makian yang pertama terbalik, kemudian Pak Bos > telah berusaha membaliknya kembali, dan begitulah hasilnya. Hampir > saja terlontar dari mulutnya kata-kata untuk mengingatkan Pak Bos > bahwa bukan begitu caranya membalik kalimat. Tapi setelah diliriknya > si Bos sudah duduk dengan wajah lega, ia urungkan niatnya itu. > > "Biarlah Pak Bos pulang dengan puas dan lega...," bisiknya kepada > dirinya sendiri. > > "Sekarang ini kebanyakan manusia memang merasakan kepuasan dan > kelegaan dengan sesuatu yang sesungguhnya terbalik-balik," kata > Markesot selanjutnya, memberi ular-ular atas kisahnya sendiri, "Dan > sering kita akhirnya tidak tega atau tidak lagi punya jalan untuk > mengingatkan. Karena kalau kemudian mereka tahu bahwa itu > terbalik-balik, jangan-jangan mereka nanti malah jadi stres.'Kan > kasihan. Mbok biar saja". > > "Maksud Cak Sot, terbalik-balik bagaimana?" bertanya salah seorang > yang mendengarkan. > > "Wah, terlalu banyak contohnya," jawab Markesot. > > "Coba tho," ia memberi contoh, "Misalnya saja yang semestinya > berwenang menilai seseorang berkelakuan baik atau tidak itu 'kan kiai, > ulama, pastor, ruhaniwan, atau kaum moralis lainnya. Merekalah > institusi akhlaqul karimah. Lha sekarang malah mereka-mereka itu yang > harus punya > Surat Berkelakuan baik yang ditetapkan oleh lembaga yang entah apa > hubungannya dengan kelakuan baik. > > "Contoh lain, harga bintang film pamer paha dan susu lebih mahal dari > Zainuddin M.Z. Banyak orang korupsi malah dianggap paling berjasa > kepada negara. Rakyat dianggap sebagai bawahan yang paling rendah, > padahal merekalah pemilik kedaulatan tertinggi. Merekalah yang > menggaji kepala negara, gubernur, bupati, dan semua birokrat lain. > Jadi rakyat itu Bos. Tapi ya itu tadi: Kalau rakyat coba marah, malah > kata-katanya terbalik: 'Pantat Lu kayak muka Gua!'..." > > MATI KETAWA GAYA GUS DUR > > Kalau ada panitia dan sponsor yang berminat, pada suatu hari Markesot > ingin tampil dalam pertandingan melawak melawan Kiai Haji Abdurrahman > Wahid alias Gus Dur. > > "Sama-sama binatang pemakan nasi, apa yang saya takutkan pada cucu > K.H. Hasyim Asy'ary," tantang Markesot, ''Bahkan saya berani melahap > godhong kates mentah-mentah, berani makan silet, beling, atau kalau > perlu gado-gado campur paku..." > > "Gus Dur juga berani!" Markenyut memotong, "Wong makan ulama saja dia > berani kok!" > > "Husss!!!" bentak Markesot, "Jangan nglantur. Gus Dur memang saya > jarnin tak berani makan beling, soalnya ndak mungkin ketua Tanfidziyah > NU berlaku seperti Jaran Kepang. Gus Dur juga pasti kalah lomba lawak > sama saya, karena sebagai tokoh nasional dia tak bisa menuturkan > lawakan-lawakan yang ndlodog atau saru. Kalau saya 'kan bebas. Wong > saya cuma kepala gerombolan mbambung...!" > > Tetapi bagi Markesot, Gus Dur memang adalah kolega atau relasinya. > Bukan di bidang politik atau keagamaan. Melainkan dalam sektor > perlawakan. > > Kalau mereka bertemu, tak ada lain yang terjadi kecuali berlomba > melawak. Saling memamerkan kulakon-kulakon terbarunya. Seluruh dunia > dan kehidupan ini, bagi Gus Dur dan Markesot tidaklah punya fungsi > apa-apa kecuali sekadar sebagai bahan berkelakar. Masalah politik, > kekuasaan, diktator, militer, birokrasi, korupsi, ulama, kiai, > organisasi sosial, konglomerat,atau apa pun saja hanyalah suku cadang > lawakan di antara mereka. > > Tak pernah ada ceritanya, tak pernah ada kamusnya, bahwa pertemuan > antara Gus Dur dengan Markesot adalah perjumpaan yang serius. > Segala-galanya hanya lawakan dan kelakar. Hidup sangat melelahkan, > sehingga setiap orang perlu metode untuk melawakkannya. Manusia sangat > naif dan dungu, sehingga kita harus pandai-pandai menertawakannya. > Sejarah sangat menggelikan, sehingga siapa saja yang mesti terampil > meludrukkannya. Peradaban umat manusia sangat merupakan komedi, > sehingga tolollah siapa saja yang terlalu "mengambil hati" untuk > terlampau memprihatinkannya. > > Ketika kuliah di Kairo, Gus Dur suka memlonco pendatangpendatang baru > dari tanah air. Partnernya dalam panitia perploncoan biasanya adalah > K.H. Mustofa Bisri dari Rembang yang kini terkenal sebagai > kiai-penyair. > > Pada suatu hari K.H. Syukri Zarkasyi yang ketika itu pasti belum Kiai > Haji dan menurut Gus Dur "pekerjaannya di Kairo hanya main band tapi > pulang-pulang jadi kiai"-bertamu ke tempat kos Gus Dur dan Gus > Mus(tofa). Tentu saja disambut dengan penuh keramahtamahan. > Dipersilakan duduk, saling menanyakan keselamatan, di-godog-kan air > untuk membuat minuman teh dan seterusnya. > > Hanya saja karena namanya saja tempat kos: Jadi kamar, dapur, dan > ruang belajar ya jadi satu. Maka Gus Syukri melihat segala yang > dilakukan oleh tuan rumahnya. Gus Mus mempersiapkan cangkir dan lepek > sambil bertanya kepada Gus Dur, "Di mana lapnya tadi?" > > Gus Dur berjalan ke sisi almari, mengambil "lap" yang ternyata adalah > celana dalam alias kancut. Memberikannya kepada Gus Mus dan diterima > dengan wajah dingin, kemudian langsung dipakai untuk ngelap cangkir > sambil mengobrol dengan Gus Syukri. > > Merah-padamlah wajah calon kiai Gontor ini, sekaligus pucat-pasi. > Ketika teh sudah tersuguhkan, mau tak mau ia meminumnya, meskipun > perasaan dan lidahnya bercampur-aduk. > > Sekian lama kemudian baru mereka bertiga tertawa cekakakan. "Cangkir > untuk kiai Rembang yang mungkin masih keturunan Sunan Kudus, harus > dilap dengan kain istimewa yang paling bersih, di antara kain-kain > yang ada. Dan cawet itu betul-betul gress dari toko, belum pernah > dipakai sebagai cawet, sehingga belum bisa disebut cawet," kata Gus > Dur. > > Tak jelas apakah kemudian Gus Syukri di tempat kosnya menyuguhi Gus > Dur dengan tongseng sandal atau gule yang bumbunya diuleg dengan > menginjak-injakkan sepatu. Tapi jangan lupa Gus Dur pulalah yang > "mengajari" Gus Syukri nonton film dan acara-acara kesenian sehingga > beliau mengenal kebudayaan dan menjadi berbudaya. > > *sumber http://www.maga.net.id/emha/ --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
