Note: Some recipients have been dropped due to syntax errors.
Please refer to the "$AdditionalHeaders" item for the complete headers.






> * MBOK YA ANUMU ITU JANGAN DIANUKAN KE ANUNYA ANU
>
> Komunikasi itu gampang-gampang sulit, atau sulit-sulit gampang.
> Maksudnya, tampaknya gampang tapi ternyata sulit, tampaknya sulit tapi
> lha kok gampang. Itu tergantung macam-macam faktor: bahasa yang
> digunakan, situasi, dan konteks komunikasi, latar belakang komunikasi,
> latar belakang komunikator dan komunikan. Bahkan bergantung lebih
> banyak hal lagl: bergantung canthelan, senggot, dan lain sebagainya.
>
> Markesot terkadang merasa dirinya adalah pakar komunikasi, di saat
> lain ternyata ia tolol setolol-tololnya dalam berkomunikasi.
>
> Nabi Sulaiman bisa berkomunikasi dengan segala macam makhluk. Artinya
> beliau kenal betul hakikat gerak daun-daun, gelagat para jin, di arah
> mana semut mencium sesuatu, dan apa saja. Dengan kata lain Nabi
> Sulaiman itu ilmuwan komplet, beliau mengerti hakikat dan syariat
> segala macam makhluk. Sebagaimana para astronom paham watak dan
> perilaku bintang-bintang, para dokter hewan tahu sifat dan kelakuan
> binatang, para sosiolog mafhum apa saja yang 'diucapkan' oleh gerak
> masyarakat dan
> sejarah, para kiai, dan psikolog tahu persis 'bunyi suara', sorot mata
> Anda, atau kerut-merut kulit wajah Anda. Atau seorang dokter bisa
> berkomunikasi dengan penderitaan tubuh Anda cukup dengan menatap
> wajah, atau menyentuh kulit tangan atau kening Anda. Para ilmuwan itu
> kalau digabung jadi satu, lengkap dengan segala makrifat dan kekayaan
> harta-bendanya: akan menjadi Nabi Sulaiman minus kenabian resminya.
>
> Tapi bagi orang-orang awam seperti Markesot, komunikasi itu bisa
> merupakan masalah yang ruwet. Markesot mungkin terbiasa berkomunikasi
> dengan pengemis atau gelandangan, tapi belum tentu ia bisa berdialog
> dengan seorang bupati, dengan ahli paranormal, juga pasti akan serba
> salah kalau berkomunikasi dengan wewe gombel, thok-thok kerot, atau
> seekor kambing.
>
> Memang komunikasi itu kelihatannya sepele, tapi kalau gagal, bisa
> fatal akibatnya. Seorang penumpang kereta api yang bindheng suaranya
> bertanya  kepada penumpang di sebelahnya: "Mas, jam berapa
> sekarang?"-Ia langsung diajak berkelahi oleh orang itu, karena
> ternyata ia juga bindheng.
>
> Anda pasti sudah hapal anekdot itu. juga ketika seseorang yang berdiri
> berdesak-desakan di bus terinjak kakinya oleh seseorang di sebelahnya.
> Sebelum memprotes, ia merasa perlu dulu mengadakan penelitian terhadap
> aspek-aspek sosiologis historis dari orang yang hendak diajaknya
> berkomunikasi.
>
> "Mas, Mas, saya boleh tanya?" ia bertanya sangat halus.
>
> "Silakan...," jawab si penginjak dengan heran.
>
> "Mas ini putranya perwira ABRI?"
>
> "O, bukan, bukan..."
>
> "Punya paman atau sedulur yang ABRI?"
>
> "Ndak...ndak..."
>
> "Punya tetangga atau kenalan seorang ABRI?"
>
> Dan ketika orang itu menjawab 'tidak' juga, maka suara kawan kita itu
> mendadak agak keras: "Kalau begitu jangan injak kaki saya ! "
>
> Pengenalan konteks, kerangka dialog, bahkan latar belakang sosiologis
> historis, sangat penting dalam komunikasi. Kalau tidak, seseorang bisa
> babak belur. Paling tidak, yang terjadi kemudian bukan dialog,
> melainkan monolog.
>
> Dulu di masa muda Markesot, sebagai anak sulung ia banyak dibebani
> tanggung jawab oleh orangtuanya untuk mengurus adik-adiknya . Suatu
> hari sang Bapak memanggilnya dan berkata: "Sot, tolong si Anu itu
> dianu, mbok ya anunya itu jangan dianukan ke anunya anu!
>
> "Ya, Pak," jawab Markesot, "nanti saya anunya si anu itu!"
>
> Tapi kemudian ia terlupa. Sehingga beberapa hari kemudian ketika sang
> Bapak menegurnya. "Bagaimana Sot ? Si Anu sudah kamu anu atau belum?"
>
> Tergagap Markesot menjawab-"Sudah Pak. Saya bilang: Anumu itu mbok ya
> jangan dianukan ke anunya anu... Dan tampaknya si Anu sudah
> benar-benar anu kok..."
>
> "O, ya sudah kalau si Anu sudah anu...," sahut Bapaknya dengan
> perasaan puas.
>
> Komunikasi sangat gampang. Tapi yang terjadi pada Markesot dengan
> bapaknya itu bukanlah komunikasi: mereka hidup dalam imajinya
> sendiri-sendiri. Masing-masing bermonolog.
>
> Namun bisa juga hanya dengan mengandalkan 'anu'-komunikasi
> berlangsung, asal 'anu' di situ merupakan kesepakatan kode yang telah
> memiliki latar belakang konvensi antara komunikator dan komunikan.
> Jangankan 'anu': tanpa kata pun komunikasi bisa berlangsung.
> 'Kata'-bentukan ucapan-
> bahkan dikenal sebagai media komunikasi yang paling dangkal, meskipun
> justru karena itu ia malah praktis.
>
> Ada banyak bahasa komunikasi yang lain: pandangan mata, mimik wajah,
> gerak, kode-kode, atau 'komunikasi sunyi'. Dalam metode-metode latihan
> teater ada dikenal verbal- communication, ada verbal communication,
> serta ada silent cornmunication. Ada komunikasi verbal, ada yang
> fisikal, serta yang sunyi. Dalam dimensi-dimensi kehidupan
> tertentu-tanyakan kepada pakar kasepuhan, kaum sufi, ahli kebatinan,
> orang yang  bercinta, dan seterusnya-komunikasi paling efektif justru
> dengan menggunakan 'bahasa' diam. Kalau istri Anda purik, ngambeg, gak
> wawuh:  ketahuilah bahwa ia justru sedang menggunakan bahasa yang
> paling efektif  untuk menyatakan perasaannya kepada Anda. Kalau dengan
> kata-kata, malah  perasaan itu tak sampai.
>
> Dulu Markesot pernah bercerita tentang seorang temannya: dalam
> perjalanan bersama keliling kota-kota Filipina dalam rangka ikut
> mendukung Cory Aquino-ada seorang teman yang Bahasa Inggrisnya
> terbatas
> pada 'yes', 'no', 'what', atau "yes no what-what" (yo gak opo-opo).
> Tapi dialah yang paling berhasil komunikatif dengan penduduk desa-desa
> dan kampung-kampung, berkat kemampuannya menggunakan gerak tubuh,
> mimik muka, serta inisiatif-inisiatif komunikasi yang lain meskipun
> tak menggunakan kata-kata.
>
> Di tengah pergaulan sehari-hari, ada teman yang bisa komunikatif di
> obrolan, tapi gagap di podium. Ada yang fasih di ruang ceramah, tapi
> glagepen dalam paugeran. Ada yang maha orator di panggung, tapi
> ndlahom  di depan cewe. Ada yang pintarnya ngobrol dengan anak kecil,
> ada yang dengan orang 'bawah', ada yang bisa komunikasi nyogok uang
> untuk keperluan tertentu, pokoknya macam-macam.
>
> Tapi yang paling inti dan substansial dalam peristiwa komunikasi
> sesungguhnya bukan 'bagaimana bahasa yang digunakan', melainkan apakah
> kedua belah pihak terbuka atau tidak untuk berkomunikasi. Kalau
> seseorang terbuka untuk berdialog, maka bahasa gampang dicari. Tapi
> kalau ia tertutup, maka pakai bahasa apa pun akan salah kedaden.
>
> Ketertutupan komunikasi dalam masyarakat kita biasanya disebabkan oleh
> penyakit-penyakit seperti feodalisme, hirarkisme, atau segala macam
> posisi perhubungan sosial yang mendorong sikap apriori.
>
> Contoh feodalisme komunikasi misalnya ketika seorang bapak hanya
> sanggup untuk 'mengomongi' dan tak sanggup 'diomongi'. Kalau dia
> mengomongi, segalanya 'betul'. Kalau dia 'diomongi', segalanya
> 'salah'.
>
> Juga dalam kondisi hirarkisme tata sosial misalnya yang terjadi di
> tubuh birokrasi, atau bahkan ketika 'rasa birokrasi' melebar keluar
> konteks formal birokrasi itu sendiri. Seorang atasan tak bisa
> diomongi, ia hanya punya 'kewajiban' untuk mengomongi. Kondisi seperti
> itu membuat orang menjadi antikritik, tak bisa mendengarkan apa pun
> yang dia anggap mengkritiknya atau menyalahkannya. Saking tak biasanya
> mendengarkan, bahkan terkadang ia tak tahu bahwa sesungguhnya ia
> dipuji. Ia terbiasa
> memerintah, terbiasa 'berkuasa' dan 'paling benar', sehingga kalimat
> pujian ia takutkan sebagai perongrong kekuasaan dan kebenaran dia.
> Bandingkan dengan tokoh besar kita Dr. Soedjatmoko yang barusan
> dipanggil Allah: ketika beliau menjadi Duta Besar Indonesia di Amerika
> Serikat, beliau selalu meminta saran dan kritik dari stafnya sebelum
> tampil berbicara atau berpidato.
>
> Tapi jangan salah paham. Kalau Markesot bilang soal feodalisme dan
> hirarkisme, sehingga lantas Anda ingat 'mental kepegawaian' atau
> birokrat: itu tidak lantas berarti semua birokrat atau pegawai itu
> punya
> penyakit seperti itu. Sangat banyak birokrat dan aparat negara yang
> wajib kita acungi jempol.
>
> Markesot paling takut terjadi miskomunikasi. Mentang-mentang dia
> bilang  penyakit feodalisme dan hirarkisme, lantas sebagai birokrat
> Anda tersinggung dan merasa Anda yang dituding. Bedakan dong antara
> pemahaman  konteks global dengan kasuskasus formal lokal.
>
> Kata orang-orang pintar, komunikasi itu mesti rasional dan
> kontekstual, juga obyektif. Kalau subyektif, apa pun saja yang
> Markesot katakan akan dianggap salah. Kalau konteks komunikasi kita
> misalnya adalah "sepak bola profesional", itu tidak harus inklusif
> 'Asyabaab'. Dalam konteks itu bisa kita sebut van Basten atau Heguita,
> dan bisa sama sekali tak ada urusan dengan Asyabaab.
>
> Mungkin karena pusing oleh beberapa kasus diskomunikasi, akhir-akhir
> ini  Markesot sering nglindur dan sambat: "Owalah! mbok ya kalau anu
> itu dilihat dulu anunya, supaya ndak salah anu.. !"[]
>
> BUKAN GLOBALlSASI, TAPI NEO-SENTRALISASI
>
> Markembloh didaulat oleh para warga KPMb (Konsorsium Para Mbambung)
> untuk pidato tentang globalisasi. Markesot bertindak sebagai protokol
> alias MC, juga moderator kalau nanti terjadi perdebatan.
>
> "Saudara-saudara sekalian. Globalisasi. Apakah globalisasi? Tahukah
> saudara-saudara apa gerangan globalisasi?"
>
> "Wah, pakai gaya Al-Quran...," seletuk Markedet, "Al-qari'atu mal
> Qari' ah wa maa adroka mal qori'ah..."
>
> "Mengertikah saudara-saudara apa itu globalisasi?"  Kata Markembloh
> lagi.
>
> "Tidaaaaak!" jawab anak-anak KPMb serentak
>
> "Jadi untuk apa saya berbicara kepada orang-orang yang tidak
> mengerti?"
>
> "Mengertiiiii!" jawab mereka lagi.
>
> "Jadi tidak perlulah saya menjelaskan sesuatu kepada orang yang toh
> sudah mengerti."
>
> "Gendheng "
>
> "Gendheng tapi lak jujur! Gendheng tapi lak gak tahu mbujuki! Gak tahu
> korupsi! Gak tahu ngramrok! Gak tahu nggusur!..."
>
> Palu diketokkan ke meja keras-keras oleh Markesot. "Gendheng. Jangan
> gendheng. Gendheng tak ada gunanya. Gendeng boleh saja, asal ada
> perlunya."
>
> "Lho itu 'kan lagu Begadang!" teriak anak-anak.
>
> Markesot memukulkan palu lagi. "Markembloh boleh saja gendheng, asal
> tidak merugikan forum dan tetap disesuaikan dengan era globalisasi.
> Ayo cepat mulai lagi pidatonya!"
>
> Markembloh mulai lagi.
>
> "Globalisasi, Saudara-saudara!" katanya, "adalah mengumpulkan lombok,
> brambang, bawang, garam, dan terasi, jadi satu di cowek atau layah,
> kemudian diuleg sampai campur dan merata semua. Atau, globalisasi
> adalah  menuangkan air panas, gula, kopi campur keringat sedikit,
> lantas diaduk  sampai larut satu sama lain."
>
> "Oooooo...!" anak-anak koor.
>
> "Globalisasi adalah dibukanya pintu-pintu dunia sehingga bulatan
> kehidupan di muka bumi ini campur menjadi satu. Globalisasi ialah
> dirobohkannya sekat-sekat yang semula memisahkan suatu kelompok
> masyarakat dengan kelompok lainnya. Globalisasi adalah berperannya
> sarana-sarana informasi dan komunikasi sehingga semua manusia di dunia
> saling bersentuhan, bergaul, mempengaruhi satu sama lain. Take and
> give. Mengambil dan memberikan. Menerima dan menyodorkan."
>
> "Oooooo...!" koor anak-anak lagi.
>
> "Yang satu take, lainnya tinggal give!"
>
> "Lho, lho, lho, lho...," anak-anak terperangah.
>
> "Yang satu memberikan, lainnya tinggal menerima. Yang satu
> mempengaruhi,  lainnya dipengaruhi. Adil, bukan?"
>
> "Adil dengkulmu mlicet!"
>
> "Sama dengan antara hak dan kewajiban yang dibagi rata. Sekelompok
> masyarakat memperoleh hak kelompok lainnya mendapatkan kewajiban."
>
> "Lho, lho, lho, lho...."
>
> "Nilai-nilai dari negara kuat, modal kuat, ekonomi kuat, militer kuat,
> disodorkan kepada yang lemah. Barat mempengaruhi Timur. Utara
> menentukan Selatan. Atas mengatur Bawah. Pusat menggiring Pinggiran.
> Film-film Hollywood diputar di TV Surabaya, tapi ludruk dan jaran
> kepang tak perlu dipertunjukkan di Los Angeles.
>
> "Supermarket, Mc. Donald, Kentucky, Honda, Bellini, dibyuk-kan ke
> kampung-kampung kita, tapi supaya adil warung pecel, clurit, jajan
> rondho kemul, bolcino, gledekan, cikar, gludug meduro, tak usah
> dipopulerkan di Kyoto dan Stockholm.
>
> "Pokoknya yang satu saja yang memberi, lainnya tinggal menerima.
> Filsafat, ideologi, pola strategi dan arah tujuan pembangunan kita
> juga  harus meniru negara-negara Utara; jangan mereka yang disuruh
> meniru kita. Pokoknya globalisasi itu edisi berikut dari westernisasi,
> baju baru dari hegemoni kekuatankekuatan Utara, restorika baru dari
> keadikuasaan yang menimpa kita semua.
>
> "Mau tidak mau kita harus diperkosa. Lha daripada dan merasa
> tersiksa,'kanmending menikmati pemerkosaan. Dengan kata lain,
> Saudara-saudara, yang kita lakukan sekarang ini sesungguhnya bukan
> globalisasi, melainkan neo-sentralisasi..."
>
> "P" ELU KAYAK "M" GUA...!
>
> Markesot bercerita tentang seorang Direktur Perusahaan yang naik pitam
> kepada saingan dagangnya. Musuhnya itu, seorang Direktur Perusahaan
> juga, dianggap melakukan kompetisi yang tidak fair.
>
> Maka pagi itu sebelum ke kantor ia menyuruh sopirnya untuk langsung
> melajukan mobil menuju kantor sang musuh. Wajahnya cemberut sepanjang
> jalan. Terkadang keluar satu-dua kata makian yang keluar tanpa
> sengaja.  Si supir ngeri juga. Apalagi air muka si Bos makin lama
> makin berwarna kemerah-merahan seperti orang kebelet buang air besar
> pas tengah-tengah rapat partai.
>
> Begitu tiba di kantor musuh, si Bos langsung turun mobil dan tanpa
> babibu langsung masuk. Satpam di pos penjagaan depan kebingungan. Mau
> menahan atau membentak tidak berani, soalnya si Bos pakaiannya bagus,
> pakai dasi segala, dan sepatunya mengkilat.
>
> Sebentar kemudian terdengar suara-suara dari dalam bagaikan teater
> Shakespeare, Bengkel Rendra, atau setidaknya Sakerah. Bahkan terdengar
> pula meja dipukul-pukul.
>
> Sesaat kemudian pintu kantor mendadak dibuka dengan kasar. Si Bos
> keluar dengan wajah merah legam dan mata melotot seperti sogok telik.
> Berjalan agak miring karena kepalanya masih menghadap ke arah si
> musuh. Sambil menuding-nudingkan tangan, si Bos memaki: "Pantat Lu
> kayak muka Gua!"...
>
> Kemudian tergopoh-gopoh sopirnya membukakan pintu mobil si Bos masuk,
> duduk menghempaskan tubuhnya sambil menarik napas lega. Tapi sebelum
> berangkat, sang supir memberanikan diri mengemukakan sesuatu.
>
>
> "Maaf ya Pak Bos...," ujarnya terbata-bata.
>
> "Apa!" bentak si Bos.
>
> "Maaf, sekali lagi maaf... tapi kalimat makian Pak Bos tadi itu apa
> tidak terbalik...?"
>
> Betapa kagetnya si Bos. "O ya.. Terbalik ya?"
>
> Mendadak ia buka pintu mobil, turun, dan kembali menuding-nuding wajah
> musuhnya sambil mengulang makian: "Muka Gua kayak pantat Lu!"...
>
> Lemaslah sang supir. Makian yang pertama terbalik, kemudian Pak Bos
> telah berusaha membaliknya kembali, dan begitulah hasilnya. Hampir
> saja terlontar dari mulutnya kata-kata untuk mengingatkan Pak Bos
> bahwa bukan begitu caranya membalik kalimat. Tapi setelah diliriknya
> si Bos sudah duduk dengan wajah lega, ia urungkan niatnya itu.
>
> "Biarlah Pak Bos pulang dengan puas dan lega...," bisiknya kepada
> dirinya sendiri.
>
> "Sekarang ini kebanyakan manusia memang merasakan kepuasan dan
> kelegaan dengan sesuatu yang sesungguhnya terbalik-balik," kata
> Markesot selanjutnya, memberi ular-ular atas kisahnya sendiri, "Dan
> sering kita akhirnya tidak tega atau tidak lagi punya jalan untuk
> mengingatkan. Karena kalau kemudian mereka tahu bahwa itu
> terbalik-balik, jangan-jangan mereka nanti malah jadi stres.'Kan
> kasihan. Mbok biar saja".
>
> "Maksud Cak Sot, terbalik-balik  bagaimana?" bertanya salah seorang
> yang mendengarkan.
>
> "Wah, terlalu banyak contohnya," jawab Markesot.
>
> "Coba tho," ia memberi contoh, "Misalnya saja yang semestinya
> berwenang menilai seseorang berkelakuan baik atau tidak itu 'kan kiai,
> ulama, pastor, ruhaniwan, atau kaum moralis lainnya. Merekalah
> institusi akhlaqul karimah. Lha sekarang malah mereka-mereka itu yang
> harus punya
> Surat Berkelakuan baik yang ditetapkan oleh lembaga yang entah apa
> hubungannya dengan kelakuan baik.
>
> "Contoh lain, harga bintang film pamer paha dan susu lebih mahal dari
> Zainuddin M.Z. Banyak orang korupsi malah dianggap paling berjasa
> kepada negara. Rakyat dianggap sebagai bawahan yang paling rendah,
> padahal merekalah pemilik kedaulatan tertinggi. Merekalah yang
> menggaji kepala negara, gubernur, bupati, dan semua birokrat lain.
> Jadi rakyat itu Bos. Tapi ya itu tadi: Kalau rakyat coba marah, malah
> kata-katanya terbalik: 'Pantat Lu kayak muka Gua!'..."
>
> MATI KETAWA GAYA GUS DUR
>
> Kalau ada panitia dan sponsor yang berminat, pada suatu hari Markesot
> ingin tampil dalam pertandingan melawak melawan Kiai Haji Abdurrahman
> Wahid alias Gus Dur.
>
> "Sama-sama binatang pemakan nasi, apa yang saya takutkan pada cucu
> K.H. Hasyim Asy'ary," tantang Markesot, ''Bahkan saya berani melahap
> godhong kates mentah-mentah, berani makan silet, beling, atau kalau
> perlu gado-gado campur paku..."
>
> "Gus Dur juga berani!" Markenyut memotong, "Wong makan ulama saja dia
> berani kok!"
>
> "Husss!!!" bentak Markesot, "Jangan nglantur. Gus Dur memang saya
> jarnin tak berani makan beling, soalnya ndak mungkin ketua Tanfidziyah
> NU berlaku seperti Jaran Kepang. Gus Dur juga pasti kalah lomba lawak
> sama saya, karena sebagai tokoh nasional dia tak bisa menuturkan
> lawakan-lawakan yang ndlodog atau saru. Kalau saya 'kan bebas. Wong
> saya cuma kepala gerombolan mbambung...!"
>
> Tetapi bagi Markesot, Gus Dur memang adalah kolega atau relasinya.
> Bukan di bidang politik atau keagamaan. Melainkan dalam sektor
> perlawakan.
>
> Kalau mereka bertemu, tak ada lain yang terjadi kecuali berlomba
> melawak. Saling memamerkan kulakon-kulakon terbarunya. Seluruh dunia
> dan kehidupan ini, bagi Gus Dur dan Markesot tidaklah punya fungsi
> apa-apa kecuali sekadar sebagai bahan berkelakar. Masalah politik,
> kekuasaan, diktator, militer, birokrasi, korupsi, ulama, kiai,
> organisasi sosial, konglomerat,atau apa pun saja hanyalah suku cadang
> lawakan di antara mereka.
>
> Tak pernah ada ceritanya, tak pernah ada kamusnya, bahwa pertemuan
> antara Gus Dur dengan Markesot adalah perjumpaan yang serius.
> Segala-galanya hanya lawakan dan kelakar. Hidup sangat melelahkan,
> sehingga setiap orang perlu metode untuk melawakkannya. Manusia sangat
> naif dan dungu, sehingga kita harus pandai-pandai menertawakannya.
> Sejarah sangat menggelikan, sehingga siapa saja yang mesti terampil
> meludrukkannya. Peradaban umat manusia sangat merupakan komedi,
> sehingga  tolollah siapa saja yang terlalu "mengambil hati" untuk
> terlampau memprihatinkannya.
>
> Ketika kuliah di Kairo, Gus Dur suka memlonco pendatangpendatang baru
> dari tanah air. Partnernya dalam panitia perploncoan biasanya adalah
> K.H. Mustofa Bisri dari Rembang yang kini terkenal sebagai
> kiai-penyair.
>
> Pada suatu hari K.H. Syukri Zarkasyi yang ketika itu pasti belum Kiai
> Haji dan menurut Gus Dur "pekerjaannya di Kairo hanya main band tapi
> pulang-pulang jadi kiai"-bertamu ke tempat kos Gus Dur dan Gus
> Mus(tofa). Tentu saja disambut dengan penuh keramahtamahan.
> Dipersilakan  duduk, saling menanyakan keselamatan, di-godog-kan air
> untuk membuat minuman teh dan seterusnya.
>
> Hanya saja karena namanya saja tempat kos: Jadi kamar, dapur, dan
> ruang  belajar ya jadi satu. Maka Gus Syukri melihat segala yang
> dilakukan oleh  tuan rumahnya. Gus Mus mempersiapkan cangkir dan lepek
> sambil bertanya kepada Gus Dur, "Di mana lapnya tadi?"
>
> Gus Dur berjalan ke sisi almari, mengambil "lap" yang ternyata adalah
> celana dalam alias kancut. Memberikannya kepada Gus Mus dan diterima
> dengan wajah dingin, kemudian langsung dipakai untuk ngelap cangkir
> sambil mengobrol dengan Gus Syukri.
>
> Merah-padamlah wajah calon kiai Gontor ini, sekaligus pucat-pasi.
> Ketika  teh sudah tersuguhkan, mau tak mau ia meminumnya, meskipun
> perasaan dan  lidahnya bercampur-aduk.
>
> Sekian lama kemudian baru mereka bertiga tertawa cekakakan. "Cangkir
> untuk kiai Rembang yang mungkin masih keturunan Sunan Kudus, harus
> dilap dengan kain istimewa yang paling bersih, di antara kain-kain
> yang ada. Dan cawet itu betul-betul gress dari toko, belum pernah
> dipakai sebagai cawet, sehingga belum bisa disebut cawet," kata Gus
> Dur.
>
> Tak jelas apakah kemudian Gus Syukri di tempat kosnya menyuguhi Gus
> Dur dengan tongseng sandal atau gule yang bumbunya diuleg dengan
> menginjak-injakkan sepatu. Tapi jangan lupa Gus Dur pulalah yang
> "mengajari" Gus Syukri nonton film dan acara-acara kesenian sehingga
> beliau mengenal kebudayaan dan menjadi berbudaya.
>
> *sumber  http://www.maga.net.id/emha/




---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke