(Saya forward-kan dari milist Isnet) Assalamu 'alaikum wr.wb. Berkata Imam Al Ghazali Rahimahullah (dalam buku Misykat Cahaya-Cahaya, Edisi terjemahan - Penerbit Mizan Bandung, Halaman 41-43, di bawah sub judul "Berbagai Keadaan Kaum Arifin yang Mencapai Langit Hakikat") : "Kaum 'arifin, setelah mi'raj (pendakian) ke langit hakikat, bersepakat bahwa mereka tak melihat dalam wujud ini kecuali yang Maha Tunggal lagi Maha Benar. Namun di antara mereka ada yang mengalami keadaan ini secara ma'rifat dan ilmu, ada pula yang meraihnya dengan dzauq (citarasa batiniah) dan haal (suatu keadaan luar biasa yang meliputi diri seseorang). Pada saat seperti itu kemajemukan lenyap sama sekali dari mereka dan tenggelamlah mereka dalam ketunggalan yang murni (al-fardaniyah al-mahdhah), terpesona dalam keindahannya, kehilangan kesadaran diri sehingga tidak lagi tertinggal pada diri mereka kemampuan untuk mengingat sesuatu selain Allah, bahkan tidak pula untuk diri mereka sendiri. Dengan demikian, tiada lagi sesuatu dalam pikiran atau diri mereka selain Allah. Mereka pun menjadi "mabuk kepayang" dan hilang pula kekuasaan akal mereka karenanya. Sehingga ada di antara mereka yang - pada saat-saat seperti ini - pernah berkata : "Akulah al-Haqq". Yang lainnya berkata ! : "Maha Suci Aku! Alangkah agungnya keadaanku!" Atau "Tiada sesuatu di balik jubah ini selain Allah �!" Ucapan-ucapan para asyiq (orang-orang yang diliputi keasyikan atau kecintaan dan kerinduan) seperti ini, di saat-saat kemabukan, seharusnya disembunyikan dan jangan diceritakan. Sebab mereka sendiri ketika telah mulai sembuh dari keadaan mabuk itu dan telah kembali pula kekuasaan akal yang merupakan mizan (neraca) Allah di atas bumi-Nya, sadarlah mereka bahwa itu bukanlah ittihad (keadaan menyatu) yang sebenarnya dengan Allah, tapi itu hanya menyerupai ittihad, sebagaimana disenandungkan si asyik dalam keadaan keasyikannya yang amat sangat: Akulah dia yang kucintai Dia yang kucintai adalah aku Kami adalah dua ruh Bersemayam dalam raga yang satu Ibarat orang yang belum pernah melihat cermin, lalu tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah cermin dan melihat gambar dirinya di sana. Dikiranya bahwa gambar yang dilihatnya pada cermin itu adalah gambar cermin yang telah menyatu dengan gambar dirinya sendiri. Atau seorang melihat minuman anggur dalam sebuah gelas, lalu mengira bahwa anggur itu bukan anggur, tapi itu hanya warna si gelas. Jika kelak keadaan itu sudah menjadi terbiasa baginya dan kuat pula pengetahuannya, barulah ia akan menyadari keadaan sebenarnya, sebagaimana dalam untaian syair ini : Gelas bening dan anggur dan murni Keduanya serupa bercampur menyatu Seakan anggur tanpa gelas Atau gelas tanpa anggur Tentunya berbeda antara dua ucapan : "Anggur itu adalah gelas" dengan "Anggur itu seakan-akan gelas", seperti yang diucapkan oleh si penyair. Keadaan ini, bila telah memuncak, dan dikaitkan dengan orang yang dikuasai keadaan seperti itu, disebut "fana" (luluh, lenyap), bahkan adakalanya disebut "fananya kefanaan". Sebab orang tersebut telah fana dari dirinya, bahkan fana dari kefanaannya. Ia kini tidak menyadari bahwa dirinya dalam keadaan itu dan tidak menyadari pula "ketidaksadarannya akan keadaan dirinya itu". Sekiranya ia menyadari ketidaksadarannya itu, tentulah ia (telah) menyadari keadaan dirinya. Keadaan seperti ini - dalam kaitannya dengan orang yang tenggelam di dalamnya - dalam bahasa majaz dinamakah ittihad, dan dalam bahasa hakikat dinamakan tauhid. Namun di balik segala hakikat ini masih amat banyak rahasia yang tak seyogyanya kita arungi. Wassalam. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
