Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Untuk sekedar menguji sejauh mana kita [dalam tingkatan kita
masing-masing] dapat memahami takdir, kehendak bebas, pilihan dan
konsekuensi, mohon disimak kisah imajiner berikut, dan ditarik
pelajaran: mana yang takdir, mana yang kehendak bebas, dll.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
-----
Alkisah, musibah banjir mendatangi sebuah kampung di sebuah lembah.
Kala itu, di sebuah surau, seorang ustadz sedang mengajar beberapa
orang murid mengaji. Saking asyiknya memberi pelajaran, mereka tidak
menyadari bahaya yang datang, apalagi karena lantai bangunan surau
itu agak tinggi. Mereka baru sadar ketika seseorang datang dan
berteriak, "Pak Ustadz, Banjir! Mari kita menyingkir ke bukit!"
Maka ustadz itu segera memerintahkan murid-muridnya untuk
meninggalkan surau mengikuti orang itu, sedangkan ia sendiri masih
bertahan di surau. Melihat itu, dengan menyadari besarnya arus air
yang datang, orang yang datang tadi mengingatkan lagi,
"Airnya sangat besar, Pak Ustadz, mari kita segera pergi!".
Namun ia bersikeras untuk tinggal dan berkata,
"Berangkatlah kalian semua. Tinggalkan aku sendiri. Allah akan
menolongku!"
Maka berangkatlah murid-murid itu menuju bukit. Dengan tenangnya
ustadz itu melipat sajadah, dan menyimpan kitab-kitab yang
ditinggalkan murid-muridnya. Tiada sedikitpun kekhawatiran pada
dirinya. Ia sangat yakin bahwa Allah pasti akan menolong
menyelamatkan ia dan surau yang diurusnya. Namun air terus meninggi
dan mulai memasuki lantai surau.
Ketika air di lantai surau sudah setinggi lutut, datanglah seseorang
dengan mengayuh rakit dan berteriak. "Pak Ustadz, airnya sudah
sangat tinggi. Mari kita pergi!" Tetapi dengan tenang ia berkata,
"Bantulah orang yang lain untuk menyelamatkan diri. Biarkan aku di
sini. Allah akan menolongku!" Setelah yakin bahwa ustadz itu tidak
dapat dibujuk, maka pergilah orang itu.
Namun air terus bergerak naik, kali ini sudah setinggi pinggang.
Ustadz itu mulai memindahkan kitab-kitab ke loteng, dan ia sendiri
pun menunggu di loteng. Ia yakin bahwa sebentar lagi pasti air akan
segera surut. Ketika air pun mencapai loteng, ia tidak tahu lagi ke
mana memindahkan kitab-kitab yang sehari-hari ia pakai untuk memberi
pelajaran mengaji. Dibiarkannya kitab-kitab itu ditelan air, dan ia
sendiri naik ke atap surau.
Kala itu datang lagi seseorang dengan rakit hendak menolongnya,
tetapi ia tetap menolak dan berkata "Pergilah menolong yang lain.
Allah akan menolongku!" Di luar dugaannya, air terus meninggi dan
tenggelamlah ustadz itu. Ia mati karena ia tak dapat berenang.
Di alam akhirat, ketika bertemu Allah, ia mengajukan protes. "Ya
Allah, Engkau berjanji untuk menolong sesiapa yang percaya kepadamu,
tetapi mengapa Engkau tidak menolongku?"
Allah menjawab, "Aku sudah menyuruh orang untuk menjemputmu dengan
rakit, tetapi kamu menyia-nyiakannya."
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)