Bambang Edy wrote:

> Artinya bukan suatu yang mustahil apabila seseorang bermimpi mengunjungi
> kota Mekah (walaupun belum pernah kesana), dan tatkala suatu ketika sso
> itu menjalankan ibadah haji ke kota Mekah maka dia merasa bahwa beberapa
> tempat itu serasa pernah dikunjunginya, jadi apa yang dia lihat dalam
> mimpi sebelumnya dibandingkan dengan kenyataan ternyata = sama ??

Mungkin saja. 
Banyak orang yang dikaruniai kemampuan memandang dengan 'mata Allah',
pandangan yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu, dan mimpi
adalah salah satu sarana 'melihat dengan pandangan Allah' itu. Makin
tinggi derajad (maqam) orang itu, makin jernih penglihatannya;
artinya, ia mampu melihat sesuatu persis seperti bagaimana adanya.
Orang yang masih awam seperti saya ini masih melihat sesuatu dengan
kabur, dan kadang-kadang melihatnya melalui simbol-simbol. Tapi tidak
selalu begitu; kadang-kadang, jika jiwa kita kebetulan 'jernih', kita
yang awam pun memperoleh petunjuk yang sangat jelas. Kita serasa
melihat tempat-tempat atau benda-benda yang belum pernah kita lihat,
kita serasa melihat kejadian masa lalu, masa kini atau masa mendatang
dengan sangat jelas, kita serasa memperoleh tuntunan Allah dengan
'kalimat' yang jelas dan mudah dimengerti. 

Sebagai orang yang hidup dalam tradisi Jawa, saya mengenal beberapa
petunjuk umum cara menafsirkan suatu isyarat yang muncul dalam mimpi.
Misalnya, mimpi berak [maaf] mengisyaratkan orang itu akan kehilangan,
demikian pula seorang lelaki yang bermimpi bermesraan dengan wanita
yang bukan isterinya. Saya sendiri menafsirkan mimpi berak itu mengacu
kepada tubuh yang tidak mampu menyerap semua makanan yang kita telan,
sebagian harus dikeluarkan lagi. Begitupun, rezki yang kita terima,
sebagian harus dinafkahkan kepada orang lain di luar keluarga sendiri
(=zakat). Karena itu maka munculnya mimpi itu disebabkan oleh
kelalaian kita dalam membayar zakat. Telah saya coba, kalau mimpi
seperti itu muncul lalu secepatnya bersedekah, ternyata saya tidak
kehilangan apa-apa.
Mimpi bergandengan dengan wanita lain, dalam benak saya, mengacu
kepada adanya orang lain yang menuntut untuk dibagi kesenangan
(rizki). Cara mengatasinya sama dengan di atas: relakan menafkahkan
harta kita sebelum kita dipaksa oleh Allah dengan kehilangan. Karena
itu, pencopet atau perampok itu kadang-kadang berjasa dalam
membersihkan rezki kita meskipun ia akan menyandang gelar 'berdosa'.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
RS

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke