Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.

Mas Arif,

Dalam hidup ini kita masing-masing diberi peran. Kita ini merupakan
tim, seperti tim sepak bola gitu lho. Kalau kita tidak melihat adanya
tim tersebut, maka mudah saja kita melihat seseorang itu tidak cocok
dengan kehendak kita.

Kalau orang memandang bahwa seorang pahlawan hanyalah dia yang
mencetak gol, maka orang itu melihat yang lain-lain sebagai pecundang
dan pengecut. Pemain belakang hampir tak pernah mencetak gol karena
tugasnya adalah bertahan. Penjaga gol tidak mungkin mencetak gol bagi
timnya; ia malah lebih banyak dicaci maki jika kemasukan gol. Demikian
pula non-playing captain, pelatih, manager, tim medis, wasit, hakim
garis, penonton, pemasang iklan dll -- semuanya tidak pernah mencetak
gol; mereka semua adalah pecundang di mata orang yang memandang bahwa
hanya pencetak gol-lah pahlawan itu.

Mungkinkah sebuah pertandingan sepakbola yang besar dapat berlangsung
tanpa penjual karcis meskipun ia tidak berurusan dengan cetak-mencetak
gol? Tidakkah kita juga perlu penyapu sampah setelah pertandingan
usai?

Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS

arief muLya wrote:
> 
> Assalaamu 'alaykum wR wB
> 
> maafkan rekan Saliks ysh,
> Dalam memahami tasawuf sebagai suatu jalan hidup ke arah yang (mungkin)
> lebih baik, kita dibawa kepada pemahaman-pengertian mengenai 'a better
> way of being religious', yang kesemuanya itu merupakan pengajaran 'self
> esteem' untuk mencapai Allah Swt.
> 
> But, isn't there something forgotten ? tidak adakah sesuatu yang
> terlewatkan ?
> Bagaimana dengan komitmen kita sebagai ummat (Islam) ? Dengan tidak
> memandang perbedaan antar aliran (afterall tasawuf kan lintas aliran, ya
> toh?), bisakah kita membawa *ummat* kearah yang lebih baik (Social
> esteem). Menuju Allah Swt.
> 
> Sekarang ini, kita sebagai ummat menghadapi tantangan besar, yang tidak
> dapat kita atasi secara terpisah. Pembodohan ummat, penyisihan ummat,
> bahkan pembantaian ummat telah terjadi, tanpa banyak yang bisa kita
> lakukan. Dan bahkan masih banyak lagi hal diluar itu. Rasulullah sebagai
> sufi yang terbaik, mengajarkan kepada kita 'Ukhuwah Islamiyah', dengan
> menganggap ummat Islam itu sebagai satu kesatuan tubuh, yang apabila
> bagian tubuh yang satu merasa sakit, maka bagian yang lain akan turut
> merasakannya.
> 
> Pendapat saya yang bodoh ini, janganlah sampai kita terjerumus kedalam
> usaha peningkatan diri kearah yang lebih baik, tanpa memandang sekitar
> kita. Memang dengan pembenahan diri kita, kita akan lebih mampu menolong
> orang lain, tetapi selama berjalan menuju arah yang lebih baik itu,
> mungkin ada baiknya kita juga tidak melupakan tetangga dan saudara kita
> yang membutuhkan pertolongan.
> 
> Bagaimana ? apakah ada cara-cara tasawuf yang dapat ditempuh untuk
> membantu permasalahan ummat ? Bukankah dulu para kaum sufi juga berjuang
> untuk kemerdekaan bangsa ini. Bukankah dulu Rasul bersama para sahabat
> juga berjuang untuk menegakkan kalimah Allah dimuka bumi ini,
> memperbaiki ummat, sambil tidak lupa mereka memperbaiki diri mereka
> masing-masing.
> 
> Being Sufi mungkin cenderung agak individualis (kalau dilihat sepintas
> lalu), tapi bukankah seorang sufi yang baik adalah sufi yang mampu
> mengejawantahkan nilai-nilai kesufiannya dalam kehidupan sehari-harinya
> ?
> 
> Wallahu'alam
> maafkan kalau saya salah,
> Wassalaamu 'alaykum wR wB
>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke