SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA Naskah asli: Henry Bayman http://home.att.net/~nungan/sufism/ Diterjemahkan: R. Sunarman ATHEISME LUNAK VS ATHEISME KUAT Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana iman kepada Allah itu berlandaskan proses-proses rasional dari pemikiran dan renungan. Karena itu, ini menunjukkan bahwa kita harus melihat di tempat lain jika kita ingin memahami dakwaan atheisme, karena jika kriterianya adalah rasionalitas, tiada satupun dalam contoh-contoh di atas yang menghalanginya. Atheisme mempunyai beberapa corak, tetapi untuk kepentingan kita di sini, kita dapat membedakan antara: atheisme lunak (practical) dan atheisme kuat (obsessive). Atheisme lemah merupakan kelompok yang mayoritas di masa kini. Ternyata kelompok ini tidak begitu atheis seperti golongan sekuler; orang hanya peduli dengan kehidupan dan kegiatan rutin sehari-hari, dan tidak meluangkan waktu untuk memikirkan keberadaan atau ketiadaan Allah. Mereka sibuk dengan urusan duniawi; jika ada pertandingan sepakbola, mereka akan menontonnya di TV pada hari Minggu. Ini merupakan bentuk atheisme yang lunak: bahkan dapat disebut suatu bentuk dari 'tidur terlelap'. Jika kita tanyai mereka untuk membangunkannya, kita akan menemukan bahwa mereka lebih bersifat agnostik dari pada atheis. Mereka tidak mempunyai komitmen emosional yang mendalam untuk menolak atau menyanggah Allah, dan mungkin saja kita menemukan bahwa di dalam lubuk hati mereka terdapat iman kepada Allah biarpun tidak begitu jelas dan masih tertidur. Ini berbeda dengan atheisme yang kompulsif. Di sini, seseorang dengan keras menolak Allah; seberapa keras pun kita mencoba, kita tidak akan mampu meyakinkan orang-orang itu mengenai Allah. Dalam menolak Allah, jika seseorang bersikukuh pada rasionalitas hingga mencapai keadaan irrasional, kita mungkin bertanya kepada diri sendiri mengapa seseorang memiliki argumen yang menyala-nyala dalam membantah keberadaan Allah. Sebuah contoh historis ialah Nietzsche, yang ayahnya (seorang pendeta) meninggal ketika ia masih bayi, dan yang tumbuh dalam lingkungan religius yang ketat dari nenek dan saudara-saudaranya. Ia menolak dan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengobati lukanya. Kasus lain terjadi ketika orang memandang para tokoh agama, namun menemukan bahwa tokoh-tokoh itu tidak melaksanakan sendiri apa-apa yang mereka khotbahkan. Hal ini menjadi aspek penting dalam proyek kaum atheis. Perkataan mereka lebih bersifat emosional dari pada rasional. Ini juga merupakan indikasi bahwa perintah agama harus lembut, bukan dipaksakan. Penggunaan paksaan tidak boleh digunakan dalam hal yang peka yang menyangkut nilai dan emosi yang terdalam. "Tiada paksaan dalam agama." Ini tidak berarti bahwa semua argumen kaum atheis aliran keras tidak rasional atau salah; beberapa di antara kesimpulan mereka benar adanya. Misalnya, mereka yang dengan sungguh-sungguh melakukan mistik dan meditasi New Age membawa bencana di antara mereka sendiri. Banyaknya metode dan guru-guru palsu menyebabkan banyak orang yang memulai dengan harapan muluk-muluk namun berakhir dengan kekecewaan. Selain itu, kita harus menyadari bahwa mereka tertipu dengan menerima hal yang sebaliknya. Kita menemukan lebih banyak mursyid-mursyid palsu dari pada mursyid yang sejati; dan tanpa benar-benar tercerahkan, mursyid itu sia-sia belaka, bahkan berbahaya. Pencerahan merupakan proses dua jalur. Bukan hanya Mursyid yang salah jika terjadi sesuatu kekeliruan, tetapi juga muridnya. Stasiun pemancar TV mungkin baik-baik saja, tetapi jika pesawat TV kita rusak, bagaimana kita menyalahkan stasiun TV atas tidak adanya gambar pada pesawat TV? Mereka yang menjadi berilmu atau sebaliknya menjadi kecewa akibat petualangan mereka kadang-kadang jatuh ke dalam materialisme, naturalisme atau rasionalisme sebagai sesembahan mereka. Ada kalanya atheisme mereka disusun untuk tujuan yang baik karena mereka ingin mencegah orang lain agar tidak mengalami kekecewaan seperti mereka. Dalam kasus itu, kembalinya mereka ke materialisme dan naturalisme merupakan penyelamat dari kehancuran atau kematian ego. Ini merupakan regresi ke dalam hidup sehari-hari dari bahaya perkembangan diri. Tujuannya ialah melindungi ego dari tercerai berai. Panolakan lain kaum atheis ialah bahwa agama hanya menimbulkan perpecahan umat manusia. Namun, agama sejati mana yang menganjurkan "Engkau harus membunuh" dan bukan "Engkau tidak boleh membunuh"? Jantung dari semua agama sejati adalah cinta, kebajikan, kasih sayang, dan kedermawanan, sama dengan yang dianjurkan kaum skeptik dalam filosofi New Age. Semua keburukan yang terus dilakukan dalam nama agama-agama bukanlah kebenaran yang terkandung di dalam agama, melainkan kekeliruan dalam pelaksanaannya. Bayangkan: jika agama tidak mengaturnya, pasti sudah lebih banyak keburukan yang dilakukan terhadap satu sama lain? Masalahnya bukankah mengenyahkan iman dengan menempatkan "dasar moral yang lebih tinggi," karena iman sering keliru dipahami dalam pembicaraan. Tiada orang beriman yang mampu menopang argumentasi sebanyak hal-hal di luar iman dalam menyebut "dengan nama Allah." Bagi para rasionalis yang menyesali kebangkitan irrasionalisme dan pseudo-spiritualitas, kita berkata: "Kami berada di pihak anda. Kita semua berpihak pada rasionalitas. Iman merupakan komponen yang tak terpisahkan dari sifat manusia." Kebanyakan kasus tidaklah membuktikan kematian iman, melainkan hanya penolakan iman. Perbuatan-perbuatan itu dilakukan oleh mereka yang hanya memiliki sedikit nilai kecerdasan sebagai landasan, dan perlu ditandaskan bahwa ini sering merupakan kekeliruan mereka yang menjadi korban dari dikotomi yang salah antara iman dan akal. Kita harus menyadari bahwa ini disebabkan oleh ketiadaan iman yang rasional dan spiritualitas yang rasional sehingga dorongan spiritual dalam manusia dibelokkan, terbias, terganggu dan destruktif, dan menimbulkan aliran kematian, aliran bunuh diri, dan takhayul yang liar. Dua jebakan umum harus dihindari dalam setiap upaya untuk memisahkan isi dari kulit. Pertama, mengumpulkan agama, fenomena paranormal, magic, UFO, astrologi, takhayul dll. dalam satu paket bersama dan membuang mereka jauh-jauh. Dengan demikian, sesuatu yang bernilai tinggi disamaratakan dengan sesuatu yang tak bernilai menjadi sama-sama tak bernilai, mengabaikan setiap keselamatan yang ada. Jebakan kedua, memperlakukan semua agama dengan penilaian yang sama satu sama lain, misalnya mempersamakan Taoisme dengan aliran 'Cargo' di Amerika Selatan. Meskipun semua agama tampak sama di mata orang yang tidak terlatih, relativisme agama merupakan kekeliruan yang besar. Agama-agama dapat disusun dalam sebuah spektrum mulai dari yang paling primitif hingga yang paling canggih. Pilihan kita seharusnya jatuh ke agama yang paling maju, yang paling mendidik. Tiada sesuatu dalam konsep Keesaan Allah yang bertentangan dengan logika atau rasionalitas, meskipun hipotesis lain yang ditempelkan pada konsep ini mungkin saja rasional atau tidak rasional. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
