SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF
PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA

Naskah asli: Henry Bayman 
http://home.att.net/~nungan/sufism/
Diterjemahkan: R. Sunarman

NATURALISME

Satu masalah naturalisme muncul dari definisi kata "nature." Sekali
kita mendefinisikan "nature" hanya dalam makna dunia material saja,
sesuatu selain fisik secara otomatis menjadi "supranatural." Tetapi
dalam realita, alam terdiri dari alam material dan alam spiritual,
masing-masing dengan hukumnya sendiri. Era Pencerahan, misalnya,
memahami alam bukan sebagai keberadaan benda-benda fisik tetapi
sebagai asal dan fondasi kebenaran. Ia tidak memperlawankan material
dengan spiritual; istilah itu mencakup bukan hanya alam fisik tetapi
juga alam intelektual dan moral. Kenyataan bahwa hukum alam spiritual
tidak diketahui ialah karena kita selama berabad-abad tidak pernah
peduli untuk mempelajarinya. Jika seseorang tinggal di dalam rumah
yang mempunyai dua kamar tetapi ia selalu hanya berada di dalam kamar
yang satu, tidak pernah menginjak kamar yang lain, bahkan menyangkal
keberadaan kamar di sebelahnya, maka ia tidak akan mengetahui sesuatu
pun tentang kamar di sebelahnya itu. Mengenai alam spiritual yang
tidak muncul dalam panca indera kita: pernahkah kita mengukur listrik
dengan penggaris; atau mengukur intensitas cahaya dengan sebuah jam?
Segala sesuatu harus dipelajari dengan alat yang sesuai. 

MENGKOSMOSKAN DUNIA

Mircea Eliade, ahli sejarah perbandingan agama, menarik perhatian
kepada fakta bahwa semua orang mengkosmoskan dunia mereka; yaitu
mereka menjadikannya terpahami dengan menggunakan agama atau mitos.
Bidang yang dapat mereka jelaskan menjadi "kosmos"; apa yang ada di
balik itu, bagi mereka adalah kekacauan, keadaan yang perlu ditakuti
dan dihindari.

Demikian pula, atheisme yang kompulsif telah mengkosmoskan dunianya,
dan mencoba mempertahankan hasil pemikirannya. Di sini mereka tidak
berbeda dari orang-orang religius yang berupaya untuk mempertahankan
kosmos mereka dari disintegrasi ke dalam kekacauan. Kasus ini berlaku
baik bagi atheisme maupun bagi agama, atau tepatnya sebagai suatu
agama palsu, yang di dalamnya, suatu sistem keyakinan dibentuk dan
dipertahankan. Keyakinan bahwa Allah itu tidak ada, sama kuatnya
dengan keyakinan bahwa Allah itu ada.

Ironinya, semua itu dilakukan dalam nama pikiran. Bryan S. Turner
mendebat dalam pengantar Theories of Modernity and Postmodernity
(1990), rasionalisasi dapat membuat dunia teratur dan aman, tetapi tak
dapat membuatnya bermakna. Turner menarik perhatian pada "erosi makna"
dan kebangkitan kebersahajaan yang mengikuti modernisasi, yang pada
akhirnya mengarah kepada dunia yang dikendalikan oleh orang-orang tak
berhati dan tak berjiwa. Pada awal abad ini, Max Weber mengumumkan
"pembebasan dunia dari pandangan keliru" (entzauberung), yang hasilnya
berupa hidup di dalam "sangkar besi." Reduksi dunia dan manusia
menjadi benda yang hanya mungkin dalam dimensi pikiran, adalah
bagaikan mematikan sirkit gambar dalam sebuah pesawat TV dan hanya
mendengarkan suaranya saja. Rasionalisasi mungkin saja merupakan
pengkosmosan dunia bagi kaum atheis, tetapi dengan kehilangan makna
kehidupan. Baik dunia maupun kaum atheis menjadi lebih miskin.
Alih-alih memperkaya dan membebaskan manusia, modernitas dan
post-modernitas menenggelamkan mereka dalam permainan material, sambil
memiskinkan mereka dengan menurunkan derajatnya. Karena itulah pikiran
hanya merupakan langkah awal keluar dari harapan. 

FILSAFAT

Meskipun "filsafat religius" atau bahkan "agama filosofis" itu ada,
kita harus tahu bahwa filsafat dan agama, seperti filsafat dan sains,
merupakan dua hal yang berbeda, terutama karena filsafat yang
didefinisikan dan dipahami pada masa kini. Penekanan dalam filsafat
adalah pada pikiran, pada intelek, dan pemahaman abstrak dari dunia
tempat kita hidup. Agama adalah mengenai iman, cinta, keruhanian, dan
lebih dari itu, mengalami, meskipun inipun tak dapat meninggalkan
intelek.

Memang boleh saja kita membuat filosofi tentang agama, namun harus
dimengerti bahwa sampai titik tertentu, filsafat bukan lagi merupakan
alat yang untuk menelaah agama. Masalah muncul ketika filsafat dipakai
untuk menelaah agama di luar batas, misalnya jika dipakai untuk
menggantikan pengalaman dengan peta dari pengalaman itu. Bali mungkin
suatu tempat yang indah, tetapi peta Bali tidak dapat menggantikan
keberadaan seseorang di sana.

Pemakaian filsafat dalam atheisme kira-kira sbb. Dengan penekanan pada
bahasa, (sering bernada tinggi) istilah-istilah  digunakan untuk
menjelaskan fenomena dengan cara yang sepenuhnya "rasional", sehingga
terjadi reduksi yang bukan merupakan hasil dari alat itu. Dalam
membahas masalah seperti iman yang multi-dimensi, ia cenderung ke arah
kegelapan, atau malah tidak relevan. Bernard Shaw berkata: "Ketika
agama dari akal atas diberikan kepada akal bawah, akal bawah tidak
mampu mencernanya, ia malah menariknya ke tingkat di bawah dengan
mengabaikannya." Ini berlaku baik bagi penentang maupun penganut
agama.

Akibat keraguan dalam pandangan atheis, para jenius mungkin menemukan
dirinya sendiri sering tidak mampu mengutarakan pemikirannya dengan
jelas kepada akal bawah. Namun pada saat lain, timbul kesan bahwa
suatu kebingungan telah sengaja dimasukkan untuk menutupi fakta bahwa
penulis adalah seperti kita juga, karena permasalahan kita tidak mau
diperlakukan seperti itu dan apapun komentar kita, haruslah
dikemukakan dengan gamblang dan sederhana. Seorang anak mungkin
disuruh menyebar berita bahwa kaisar tidak mengenakan selembar pakaian
pun. Seperti dalam sihir, pengucapan mantra-mantra diharapkan untuk
menyingkirkan 'ruh-ruh' yang berlawanan dan membuat penonton percaya.
Ini mirip dengan ritual pengusiran ruh yang jika berhasil akan membuat
aman pahlawan pengkosmosan. Dalam kasus demikian, beberapa pembela
atheisme suka mempertunjukkan tukang sihir yang merajut jala ilusi
mata, suatu jala juga -sialnya- mereka sendiri jatuh sebagai korban.



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke