Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.

Bertolak dari pengalaman pribadi, saya tak sanggup mengingkari
pendapat itu. Mengikuti suatu alitan thariqat bukan merupakan
keharusan, tetapi memiliki guru {pembimbing) itu mutlak. Tanpa guru,
kita tidak bisa sampai. Hanya saya, apa yang disebut guru itu tidak
harus seseorang yang tampak oleh mata. Allah membimbing
hamba-hamba-Nya dengan berbagai cara. Orang yang tampak menjalani
thariqat tanpa pembimbing, sesungguhnya tidak demikian. Ada juga orang
yang secara tak sadar menjalani thariqat meskipun ia sendiri tidak
tahu apa yang disebut thariqat itu; ini terjadi karena Allah
membimbingnya tanpa melalui seorang guru yang tampak.

Bagaimanapun, nasihat "Jangan menjalani thariqat tanpa pembimbing"
tetap berlaku dan tidak layak untuk dicabut. Nasihat ini merupakan
pengaman agar orang tidak tersesat bila menjalankan sesuatu amalan
secara sadar dengan meniru orang lain atau membaca buku, tetapi ia
tidak mengerti benar mengenai bahayanya.

Orang-orang yang memperoleh bimbingan yang 'invisible' memang
merupakan pengecualian, tetapi sebelum yakin mengenai hal itu, tak ada
ruginya mengecek kebenarannya kepada orang yang tahu. 

>         SEBAGIAN dari cara-cara tarikan Allah untuk menyampaikan seorang
>         hamba kepada-Nya antara lain adalah dengan cara membaca sholawat
>         paling tidak 10.000 kali tiap malam, dengan lafazh
>         Allahumma sholli'ala muhammadin nabiyyil ummiyyi wa'ala aalihi
>         washohbihi wasallim.
>         ( Kitab  Addurrun Nafis, Bab khotimah )

Pada hakikatnya, dengan memberi nasihat (bimbingan) seperti di atas,
orang telah mendirikan suatu aliran thariqat [tak bernama]. Agar lebih
terjamin keamanannya, sebelum mengikuti petunjuk di atas, kita perlu
menulis surat kepada penulisnya untuk memberi konfirmasi bahwa kita
akan mengikuti aliran itu, dan kemudian mengikuti bimbingannya. Harus
disadari bahwa tidak ada satu metode generik yang berlaku pada setiap
orang, karena tiap orang itu khas dan keadaannya berbeda-beda,
sehingga biarpun caranya sama, tetap saja diperlukan [sedikit]
modifikasi pada orang tertentu.

Saya menemukan beberapa kasus orang yang miring pikirannya setelah
beberapa waktu menjalankan amalan yang dibacanya dari sebuah buku.
Resiko seperti ini tak perlu terjadi bila ia mempunyai pembimbing yang
bertanggung jawab.

Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS

Agus Hasan wrote:
> 
> Assalamu' alaikum wr wb
> 
> Perjalanan menuju Allah sangatlah berat dan mengandung bahaya, sehingga
> kehadiran Mursyid sangatlah diperlukan. Tetapi apakah kehadirannya
> merupakan suatu keharusan bagi si salik ?
> Pertama-tama saya ingin mengutipkan pendapat Syekh Muhammad Nafis bin
> Idris Al Banjarie sebagai berikut :
> 
>         Al-arif Billah Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhary rahmatullah
>         'alaihi mengatakan : Berpegang teguh kepada Allah adalah suatu
>         keharusan untuk tetap mengikuti dan melaksanakan segala perintahNya
>         dan menjauhi segala laranganNya. BUKANLAH SUATU KEHARUSAN BAHWA
>         UNTUK SAMPAI KEPADA ALLAH HARUS DENGAN PERANTARAAN GURU, sebagaimana
>         umumnya yang DISANGKA OLEH BEBERAPA KALANGAN SUFI. Tentang perantaraan
>         guru itu HANYALAH SEKEDAR KEBIASAAN saja. Allah menyampaikan seseorang
>         hamba kepadaNya, atas kehendakNya sendiri, dengan beberapa macam
>         TARIKAN (JADZABAAT)
>         SEBAGIAN dari cara-cara tarikan Allah untuk menyampaikan seorang
>         hamba kepada-Nya antara lain adalah dengan cara membaca sholawat
>         paling tidak 10.000 kali tiap malam, dengan lafazh
>         Allahumma sholli'ala muhammadin nabiyyil ummiyyi wa'ala aalihi
>         washohbihi wasallim.
>         ( Kitab  Addurrun Nafis, Bab khotimah )
> 
> Demikianlah, Syekh Muhammad Nafis bin Idris mengikuti pendapat Syekh
> Muhammad bin Ahmad al Jauhary mengatakan bahwa bukanlah merupakan suatu
> KEHARUSAN bagi salik untuk mempunyai mursyid. Syekh Muhammad Nafis
> merupakan ulama besar tasawuf yang pernah dimiliki Indonesia dan bermukim
> di Mekkah pada abad 12 H. Selain Beliau, Indonesia pernah pula memiliki
> Syekh Ihsan Muhammad Dahlan, pendiri dan pengasuh pondok pesantren Jampes
> Kediri, yang mengarang kitab Sirajut Tholibin, sebuah kitab tasawuf
> terbesar yang dihasilkan ulama jawi abad 14 H, dan menurut Gus Dur kitab
> itu masih dijadikan pegangan di Timur Tengah sampai sekarang. Dan Syekh
> Ihsan sendiri pun tidak dikenal memiliki afiliasi ke tareqat tertentu,
> sehingga "secara formal" tidaklah memiliki mursyid. Demikian pula yang
> terjadi dengan Mulla Shadra, Guru Besarnya Imam Khomeini, dan Quthb
> Al Din Al Syirazi dikenal tidak memiliki dan memasuki tareqat apa pun.
> 
> Mungkin saja salik "secara formal" tidak memiliki mursyid, tetapi tanpa
> disadarinya ( atau mungkin juga sadar ) ia memiliki mursyid yang ghaib.
> Ibn Sab'in sewaktu menuliskan silsilah tareqatnya, semua sufi yang
> didaftarnya tidak ada satu pun yang hidup SEMASA dengan beliau. Beberapa
> sufi yang mengomentarinya mengatakan bahwa Ibn Sab'in CUKUP dengan membaca
> kitab-kitab saja. Ibn Sab'in adalah tokoh sufi Wahdat al Wujud Mutlak,
> yang paling kesohor.
> 
> Segala puji bagi Allah dari Awal hingga Akhir.
> 
> Wassalam
> aHassan


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke