> ----------
> From: R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>
> Kalau memang dapat membuat mas Ali lega, baiklah saya katakan dengan
> sejujurnya: YA. Bahkan lebih dari itu, karena mursyid bekerja pada
> sumbernya. Mursyid mengkerdilkan semua bibit keburukan dan menyuburkan
> semua bibit kebaikan yang ada pada setiap diri murid-muridnya. Kita
> perlu menyadari amalan zikir, puasa dll bukanlah untuk amalan itu
> sendiri, tetapi dirancang khusus untuk pada satu sisi berfungsi
> sebagai pestisida yang membasmi penyakit-penyakit hati, dan pada sisi
> lain sebagai pupuk dan air untuk menyuburkan tanah agar bibit kebaikan
> dapat tumbuh dan berbuah [diaktualisasikan dalam perbuatan nyata].
>
>
Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Saya yakin kita semua juga setuju bahwa Hati adalah titik utama perhatian
seorang Mursyid. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa Zikir dan Puasa dll
(kelompok amalan pribadi) itu dirancang sedemikian rupa untuk membersihkan
penyakit-penyakit hati. Nah sekarang yang menjadi masalah adalah, saya
menganggap Rasulullah Muhammad SAAW itu sebagai seorang Mursyid juga. Dan
saya ingin mengetahui amalan apa yang dianjurkan Rasululullah SAAW untuk
mengikis penyakit hati dari sebagian shahabatnya tersebut. Nah yang saya
lihat, Rasulullah Muhammad SAAW memang menganjurkan Zikir dengan bilangan
tertentu, Puasa sunnat, Sholat Malam dll (kelompok amalan pribadi) kepada
beberapa shahabatnya. Tetapi selain itu pada saat yang bersamaan juga beliau
menganjurkan mengunjungi tetangga, bersedekah, bahkan memberi minum anjing
kurap yang kehausan, bahkan juga perang dll (yang saya kelompokkan sebagai
amalan sosial). Jadi rada beda (meski bukan berarti berlawanan) dengan
pendekatan yang selama ini umum diterangkan yaitu dengan Amalan pribadi maka
akan membersihkan hati, sehingga bibit kebaikan dapat berbuah dalam
perbuatan nyata (amalan sosial). Saya bahkan melihat bukan tidak mungkin
bahwa Rasulullah Muhammad SAAW juga menggunakan perang sekalipun (contoh
ekstreem dari amalan sosial) sebagai latihan membersihkan jiwa bagi
sahabatnya.
Barangkali lebih baik saya ubah jadi bentuk pertanyaan saja ya? Kita tahu
bahwa amalan pribadi (berupa zikir, puasa dll) itu bertujuan untuk
membersihkan pelakunya dari penyakit hati. Pertanyaannya adalah: Apakah
kelompok amalan sosial juga mampu membersihkan pelakunya dari penyakit hati?
Kalau jawabannya 'Ya' maka itulah yang sangat melegakan saya.
Saya jadi ingat cerita ektreem tentang amalan pribadi dibandingkan dengan
amalan sosial.
Cerita pertama ini tentang seorang manusia dari desa sekar jalak -- konon
manusia ini sudah masuk kategori wali juga. Ketika itu sang sufi sedang
berwudhu untuk sholat ashar di masjid. Mohon dimaklumi di desa kalau
berwudhu tidak pakai keran dari PDAM tapi dari semacam kolam. Dilihatnya
ketika itu ada banyak semut yang terapung-apung diatas kolam tersebut.
Kemudian sang sufi ini mulai menolong semut ini dari dalam kolam. Dengan
berhati-hati diambilnya semut itu dan diletakkannya di tempat yang kering.
Terus begitu sang sufi melakukannya sebagian demi sebagian makhluk Allah ini
diselamatkannya dari tenggelam ke dasar kolam. Tak terasa berjam-jam telah
berlalu dan akhirnya waktu asharpun habis dan sang sufi masih terus berusaha
menyelamatkan ratusan makhluk Allah ini dari tenggelam ke dasar kolam.
Hingga ketika selesai seluruh semut ini diselamatkan dari dasar kolam maka
sang sufi melihat bahwa waktu ashar telah lewat. Manusia inipun kemudian
melaksanakan sholat ashar dengan di qadha.
Cerita kedua tentang Imam Husein cucu Rasulullah SAW. Imam Husein sedang
melakukan ibadah haji ketika menerima ribuan surat dari umat islam di kufah
yang merindukan kedatangannya untuk mengajarkan kepada mereka tentang ilmu
Allah. Imam Huseinpun menghentikan rangkaian ibadah haji tersebut dan
kemudian mengajak keluarganya untuk segera pergi ke kufah memenuhi undangan
penduduk kufah ini (dan akhirnya terbantai di Karbala).
Cerita lainnya ketika membaca jurus-jurus yang diajarkan Rasulullah SAAW
kepada Abu Dzar, dimana Rasulullah SAAW mengatakan bahwa bila kamu
melaksanakan amalan-amalan ini maka insyaallah kamu memperoleh Kiflaini min
Rahmatihi (yang dalam tasawuf diartikan sebagai 2 Rahmat yaitu Rahmat Taubat
dan Rahmat bertemu diri), atau juga jurus-jurus yang diajarkan kepada Salman
AlFarisi maka saya tidak dapat berpikiran lain bahwa Rasulullah Muhammad
SAAW membersihkan penyakit hati dari shahabat-shahabatnya dengan
menganjurkan amalan pribadi dan amalan sosial sekaligus.
Ah, saya yakin sebenarnya pak Sunarman jauh lebih tahu daripada saya
mengenai cerita-cerita ekstreem seperti ini dimana dalam banyak kejadian
seakan amalan sosial lebih dipentingkan daripada amalan pribadi dalam rangka
membersihkan jiwa. Saya tidak hendak mengatakan bahwa amalan pribadi ini
tidak penting dalam pembersihan jiwa, cuman barangkali akan jauh lebih
efektif bila disertai dengan amalan sosial. Hihihi... tapi itu semua kan
cuman barangkali saja.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)