Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Kita berani nggak, ya, menyebut amalan Kang Sejo itu bid'ah karena
terasa 'tidak biasa'?
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
RS
Bambang Edy wrote:
> Kang Sejo yang bersahaja, namun keikhlasan hatinya dalam menapaki jalan
> yang lurus telah mengantarkan menuju kepada-NYA. Kisah kang Sejo ini
> sangat menyentuh hati saya, betapa masih jauhnya perjalanan yang harus
> saya tempuhi untuk mendapatkan-NYA ??
> Agus Haryono wrote:
> > Saya coba kirimkan ke mailist ini untuk berbagi cerita, mudah-mudahan
> > ada yang berkenan terhadap tulisan ini. Dan mohon maaf bila kurang/tidak
> > berkenan di hati rekan-rekan.
> > Isi tulisan itu berupa cerita pengalaman pengarang dengan tukang pijit
> > tunanetra.
> >
> > Judulnya " Kang Sejo melihat Tuhan"
> >
> > Kang Sejo pendek doanya.. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa:
> > Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu.
> > Zikir ia kuat. Soal ruwet apapun yang dihadapi, wiridnya satu: "Duh,
> > Gusti, Engkau yang tak pernah tidur ..." cuma itu.
> > "Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana," katanya,
> > sambil memijit saya.
> > Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini,
> > antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar
> > Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia
> > bilang, "Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di
> > manapun, doanyaya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas di tangan.
> > "Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya.
> > "Tidak saya hitung."
> > "Lho, apa tak ada aturannya ? Para santri kan dituntun kiai, baca ini
> > sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya.
> > "Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya. "Tuhan memberi kita rezeki
> > tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan."
> > "Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.
> > "Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.
> > Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat,
> > mentraktirnyake Tanah Suci tiga tahun yang lalu.
> > "Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?"
> > "Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga,"
> > katanya.
> > "Ayat menyebutkan itu, Kang."
> > "Monggo mawon. Saya tidak tahu."
> > Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.
> > "Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab."
> > "Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."
> > "Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."
> > Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena
> > disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, ang tak pernah tidur...."
> > Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu
> > memang kurang halal. Ia minta maaf.
> > "Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram?" tanya saya.
> > "Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."
> > "Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"
> > "Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.
> > Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan,kau telah sampai. Dalam
> > kegelapan matamu kau telah melihat-Nya. Dan aku? Aku masih dalam taraf
> > terpesona. Terus-menerus.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)