Assalamu 'alaikum wr. wb.
Saya sangat berterima kasih kepada Pak R. Sunarman (semoga tetap dalam
Rahmat ALLAH ), dan tentunya juga dari para hambah Allah lainnya, yang telah
berupaya memberikan peta perjalanan spiritual bersama bahasan yang sangat
mudah menyentuh akal jasmani dan akal hati.
Seperti perjalanan jasmani untuk mencapai sesuatu target, katakanlah untuk
meraih
suatu kebaikan atau kesuksesan duniawi, tentunya apa yang
diangankan/dibayangkan
tidak selalu tercapai 100 % dalam kenyataannya, sebab didalam perjalanan
tersebut
terbentang dihadapan berbagai tantangan, resiko, dan ujian/cobaan yang
bermacam
macam sesuai dengan tingkat kesulitan dari pada perjalanan tsb.
Nah saya selalu membayangkan bahwa Perjalanan Spiritual (Thuluq) ini,
tentunya harus melalui kelas/tingkat/level yang dimulai dari yang terendah
(pertama) ketingkat yang lebih tinggi, atau ketingkat yang tertinggi,
seperti tingkat2 secara berurut sbb:
1. KEDUDUKAN DIRI (Nafs)
2. QALB (Hati)
3. RUH (Ruh)
4. SIRR (Rahasia)
5. SIRR AL SIRR (Rahasia dari Rahasia)
6. KHAFI (Tersembunyi)
7. AKHFA (Yang paling tersembunyi)
8. NAFS AL HATIQA ( Diri manusia)
- - - - - - - -
9. KURSI (Singgasana)
10. ARSY (Langit tertinggi)
bahwa saya berasumsi dan berkeyakinan, didalam menempuh setiap tingkat
kesulitan
perjalanan spiritual ini, tak terlepas dari ujian kenaikan tingkat, makin
tinggi tingkat/level perjalanan semakin besar pula faktor kesulitannya, dan
semakin besar pula ujian atau cobaannya, disamping itu peserta/pejalan
spiritual makin berkurang pula sebab ada yang tidak tahan ujian, ada yang
mengalami kesulitan karena medan perjalanan cukup berat sedangkan perbekalan
kurang memadai, dan lain sebagainya.
Seperti pesan sebuah ayat QS :
" Janganlah kamu katakan sudah beriman padahal kamu belum diuji"
(QS: An-Khabut)
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa bentuk ujian Allah kepada
hambah-hambah
nya yang beriman itu bermacam-macam; ada ujian musibah, ada ujian
kemiskinan, ada ujian kekayaan (harta benda), ada ujian kematian orang2 yang
dicintai, dsb.
Nah seperti halnya Pak R. Sunarman dan Pak Abah Hilmy yang tanpa disebut
juga, para milis dalam lahan tasawuf ini sudah berani mengatakan bahwa
beliau-beliau ini, sudah tahu betul akan rasa buah mangga yang dipanjat
sendiri, dipetik sendiri, dikupas sendiri, dan dimakan sendiri, artinya jika
beliau katakan buah mangga ini manis atawa asem, pohonnya tinggi banget,
licin dan banyak semutnya, buahnya diujung ranting, sehingga susah banget
mengambilnya, maka saya 100 % mempercayainya kerana beliau-beliau sudah
merasakan proses perolehannya secara langsung.
Kalau saja perjalanan spiritual ini boleh memilih seperti memilih buah mana
yang kita sukai, dan enak dimakan,...maka sebagai manusia biasa, saya pasti
memilih buah semangka...
sebabnya..?, lha kalau buah semangka itu..walau buahnya gede seperti buah
kelapa,..
saya ndak kerepotan mengambilnya,..gak usah dipanjat,..wong batangnya kaya'
lidi kok,
letak buahnya terhadap ranting/batang, hanya setinggi mata kaki, pokokke
cari yang
gampang deh..he he,, aman, dan tak perlu takut jatuh dari pohon semangka.
Sejauh ini rambu2 pemberian yang kita dapat dari para Mursyid adalah masih
bagian-bagian yang sifatnya positif (yang baik-baiknya) saja, sedangkan sisi
negatifnya yaitu
berupa ujian2 dan cobaan2 selama dalam perjalanan, rasanya belum ada yang
mem
bahasnya dalam milis ini.........adakah para Mursyid yang telah mengalami
dan merasa
kan cobaan pahit dan cobaan yang manis, bersedia mengutipkan pengalamannya
untuk para calon salik...?
Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan....
Wassalamu 'alaikum wr.
H.Nading
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)