Assalamu'alaikum wr wb Karena Mas Jaret ngotot minta agar saya cerita pengalaman yang berharga, berikut iki saya copykan arsip email yang saya kirim ke milis ini tahun lalu. Wassalamu'alaikum wr wb RS ------------ Subject: [paramartha] Kikir Date: Tue, 11 Aug 1998 09:09:37 +0700 From: "R. Sunarman" <[EMAIL PROTECTED]> To: Paramartha <[EMAIL PROTECTED]> ------------ Tadi malam saya mengunjungi seorang pembimbing spiritual untuk memperoleh bantuan dalam menghilangkan sifat buruk pada diri saya, di antaranya sifat kikir yang bagi saya terasa sulit terlepas darinya. "Sebetulnya sudah bagus kalau kamu menyadari adanya sifat itu pada dirimu, kamu tidak suka dengan sifat itu dan berusaha untuk menghilangkannya meskipun kamu belum mampu," katanya. "Kebanyakan orang malahan tidak menyadarinya, atau kalaupun menyadari, mereka membiarkannya dan menganggap sifat kikir itu sebagai hal yang biasa." Perasaan gusar karena merasa tidak mampu menghilangkan sifat buruk, adalah cahaya terang hidayah Allah yang perlu disyukuri, tetapi kita tidak boleh berhenti di situ; kita harus berusaha keras untuk melenyapkannya. Ini bukan pekerjaan yang mudah, karena syaitan selalu berusaha untuk menggagalkannya. Beliau menyebutkan beberapa contoh riel apa-apa yang saya alami: (1) tahun lalu ketika saya membeli kambing untuk qurban, saya merasa bahwa harganya terlalu mahal sehingga akhirnya saya hanya membeli kambing yang lebih kecil, (2) ketika mengeluarkan zakat yang terakhir kali, saya dibuat 'terpesona' dengan jumlahnya yang begitu besar [yang saya hitung sendiri]; timbul pikiran mengapa saya harus mengeluarkan uang sebanyak itu sementara kebutuhan saya sendiri belum semuanya terpenuhi; meskipun akhirnya jumlah itu saya bayarkan semuanya, tetapi karena disertai perasaan tidak ikhlas, maka zakat itu sia-sia. Kikir, kata beliau, pada dasarnya timbul karena kita terlibat dalam urusan duniawi. Kebutuhan sehari-hari, apa lagi anak-anak sudah meningkat dewasa dan membutuhkan pembeayaan yang besar, makin mendorong kita untuk kikir. Untuk itulah maka dalam agama Katholik ada golongan pastur dan suster yang tidak kawin, dan ini dimaksudkan agar mereka dapat sepenuhnya memikirkan agama tanpa beban urusan duniawi yang memberatkan. Islam tidak membenarkan itu, dan Nabi sendiri memberi contoh bahwa beliau dapat menjalani kehidupan spiritual yang sempurna tanpa harus meninggalkan urusan keluarga. Namun tidak dapat dibantah pula bahwa dalam hal ini Allah telah memberi kemudahan bagi sebagian manusia yang dipilih-Nya sendiri, misalnya dengan memberinya isteri atau suami dan anak-anak yang memahami dirinya sehingga tidak terlalu menuntut materi darinya; atau kadang-kadang menjadikan ia tidak menikah [dengan manusia!!!]. Dalam hal ini memang kita melihat kemudahan yang diberikan Allah kepada Nabi: beliau memulai karirnya dalam bidang spiritual ketika beristerikan seorang wanita yang kaya, sehingga tidak begitu ada masalah dalam urusan materiil. Urusan materiil (duniawi) dan spiritual itu saling bertentangan; dan kita umat Islam pada umumnya dituntut untuk berdiri di tengah-tengah antara keduanya. Janganlah kita mementingkan urusan spiritual dengan mengabaikan tanggung-jawab keluarga dan sosial, tetapi jangan pula kita mementingkan urusan duniawi hingga mengabaikan urusan spiritual. Ketika orang cenderung ke urusan spiritual dan membersihkan dirinya, maka Allah akan membantu dengan membersihkan hartanya: sebagian hartanya akan dilenyapkan apabila ia sendiri tidak menyadari kandungan kotoran di dalam [sebagian] hartanya dan membersihkannya secara sukarela. Karena itu seorang sufi tidak akan berusaha untuk memadamkan api yang membakar rumahnya; ia menganggap bahwa rumahnya itu kotor dan Allah hendak membinasakan kekotoran itu. Kalau ia meminjamkan uang kepada seseorang dan uang itu tidak dikembalikan, ia merelakannya [tidak mengharap lagi], meskipun ia harus menagih berulang-ulang untuk mengingatkan orang yang berhutang bahwa orang itu mempunyai kewajiban yang tidak dilaksanakan. Demikian pula kalau hartanya hilang dicuri orang, ia tidak berusaha mencarinya; ia mengikhlaskannya sebakai zakat yang ia telah lalai untuk membayarnya. Ini semua bertentangan dengan pandangan orang awam, bukan? Wassalamu'alaikum. RS
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
