hehehe... Ikutan pak Agus Haryono mengirim kisah-kisah :-). Kali ini tulisan Muhamad Zuhri dari desa Sekarjalak Pati. Tulisan ini saya ambil dari site beliau di http://www.geocities.com/Athens/5739/main-i.htm. ============================================= KISAH SI UBAID ASSALAMU'ALAIKUM WR. WB. Pendatang baru itu bernama Si 'Ubaid. Lengkapnya 'Ubaidillah. Nama itu diberikan oleh kedua orangtuanya, dengan harapan dia bisa menjadi hamba kecil Allah. Ternyata memang demikian. Tubuhnya kecil, rezekinya kecil, martabat dan peran dirinya di tengah lingkungan kecil pula. Meskipun demikian dia selalu merasa beruntung di dalam hidupnya di dunia. Bahkan dia sering mengira dirinya tergolong orang yang paling disayangi Allah. Dia belum pernah mengalami stress di dalam menghadapi keruwetan hidupnya. Hal itu bukan berarti bahwa dia berbakat untuk bersikap masa bodoh terhadap dunianya. Dia sangat percaya kepada Tuhan dan tidak gampang berputus asa, meski sering mengalami kegagalan di dalam usahanya. Si 'Ubaid memiliki pemahaman yang unik tentang berikhtiar. Baginya berikhtiar tidak mengharuskan seseorang sampai kepada yang dituju, melainkan suatu cara yang mesti ditempuh. Pasalnya, manusia telah dikaruniai akal dan pikiran, juga potensi dan perabot tubuh yang memadai untuk dioperasikan di dalam semestanya. Hasilnya up to God. Kesadaran itulah yang membuat Si 'Ubaid tidak pernah merasa nelangsa dan tidurnya pun dapat nyenyak. Tentang nasib baik atau keberuntungan, dia telah memegang sedikit rahasianya. Sebagai hamba dia tetap bersabar di dalam menggapai cita-citanya, di samping mau memahami kesulitan orang lain. Untuk itu tangan dan hatinya selalu terbuka buat meringankan beban mereka. Tentu saja menurut kadar yang dimiliki. Oleh karena itu Si 'Ubaid selalu berhati-hati di dalam memerankan dirinya di tengah lingkungan, supaya tidak mencederai pihak lain. Semuanya dilakukan dengan ikhlas sebagai pengejawantahan salatnya di depan Rabbul-alamin. Itulah yang membuat hatinya selalu yakin bahwa keberuntungan akan menyertai setiap langkah. Dengan aset yang sederhana itu segalanya menjadi tampak indah di mata Si 'Ubaid. Peristiwa demi peristiwa kehidupan hinggap di atas pangkuannya tanpa ketegangan, dan menggubah simponi perjalanan yang menakjubkan. Lahirlah sebuah lagu. Lagu Si 'Ubaid, si hamba kecil yang berhasil menyunting kebahagiaan di dalam pengabdiannya. Sebagai pendatang baru, Si 'Ubaid ingin menyampaikan salam buat semua. Ya! Buat semua warga ibu kota dari yang paling lembut sampai yang paling kasar. "Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh." Sebuah ucapan yang membuat hatinya tenteram, bahkan bahagia; karena dia telah membuka hubungan dialogis dengan lingkungan barunya di bawah panji-panji yang terpuji. Yaitu, saling berjanji untuk menggelarkan kedamaian, rahmat Allah dan berkat-Nya. Begitulah bagi Si 'Ubaid, 'salam' merupakan tema komunikasi yang akurat antarpersona dan lingkungannya, yang dapat membatasi diri di dalam hal-hal yang baik dan maslahah. Sehingga apa yang dikehendaki Allah di dalam menciptakan manusia dari lelaki dan perempuan, bersuku dan berbangsa, dapat kembali utuh di dalam momen komunikasi yang kreatif dan saling mengembangkan, yang disebut ta'arruf (Al-Hujurat:13) Mudah-mudahan lagu Si 'Ubaid dapat didendangkan seterusnya pada hari-hari yang tetap di dalam rubrik ini, sehingga dapat mengawani pembaca menelusuri pelik-pelik kehidupan insan beriman di negeri tercinta ini. Insya Allah! Harian Terbit, 26 Maret 1996 --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
