Assalamu 'alaikum wr.wb.

Wah..wah...diam-diam Pak Deden rupanya banyak juga menyimpan topik2
yang dapat menggugah hati,...saya makin tertarik bila masih ada topik lain
yang menarik seperti ini,...Pak Deden...

Saya jadi teringat ketika pulang dari acara Maulidan di sebuah mesjid di
UPG.
bersama seorang sahabat, waktu itu memang kebetulan penceramah-nya
banyak kali menyelipkan dongengan yang mengundang tawa para jamaah.....
ketika kami pulang bareng, saya bertanya kepada sahabat tadi,...."ceramah
nya bagus ya,...kataku, lalu sahabat menimpali : " ia bagus...dan lucu ",
..kira2 bila dibanding antara "Lucu-nya dan isi ceramah" mana yang masih
membekas dibenak, saya sambung bertanya lagi,  " lucu-nya " katanya sambil 
tertawa terus...... , saya juga ikutan tertawa.........he he.., apa lagi
malam itu
diguyur hujan dan kami pulang agak kuyup sedikit.

" Yach ..sudah basah kuyup,..jauh jauh kemesjid, yang didapat cuma lucunya 
   saja.."

Wassalam bil maaf
H. Nading
  

> Assalamu'alaikum Wr.Wb.
> -----------------------------------------------------------
> 
>                       Don't take your organs to heaven
>                       Heaven knows we need them here.
> 
> 
> Pernahkah Tuhan tersenyum, atau melucu? Dalam kitab suci tak saya temukan
> dua hal itu. Begitu juga dalam hadis nabi. Pemahaman tekstual saya atas
> agama terbatas. Pengajian saya masih randah, kata orang Minang. Tapi kalau
> soalnya cuma "adakah khatib yang melucu, atau marah," saya punya data.
> 
> Di tahun 1978, seorang khatib melucu di masjid UI Rawamangun. Akibatnya,
> jemaah yang tadinya sudah liyep-liyep jadi melek penuh. Mereka menyimak
> pesan Jum'at, sambil senyum. Tapi khatib ini tak cuma menghasilkan senyum
> itu. Ia diganyang oleh khatib yang naik mimbar Jum'at berikutnya.
> "Agama bukan barang lucu," semburnya. "Dan tak perlu dibikin lelucon.
> Mimbar
> Jum'at bukan arena humor. Karena itu, sengaja melucu dalam khotbah
> dilarang......"
> Vonis jatuh. Marah khatib kita ini. Dan saya mencatat "tambahan" larangan
> satu lagi. Sebelum itu demonstrasi mahasiswa sudah dilarang "yang
> berwajib".
> Senat dan Dewan dibekukan. Milik mahasiswa yang tinggal satu itu, "melucu
> buat mengejek diri sendiri", akhirnya dilarang juga.
> 
> Kita memang perlu norma. Tapi juga perlu kelonggaran. Maka, saya khawatir
> kalau menguap di masjid bakal dilarang. Siapa tahu, dirumah Allah hal itu
> tak sopan. Buat jemaah yang suka menguap macam saya, belum adanya larangan
> itu melegakan.
> Saya dengar Komar dikritik banyak pihak. Soalnya, dalam ceramah agamanya
> ia
> melucu. Tapi Komar punya alasan sahih. Ia, konon, sering mengamati
> sekitar.
> Di kampung-nya, banyak anak muda tak tertarik pada ceramah agama.
>       "Mengapa ?" tanya Pak Haji Komar.
>       "Karena isinya cuma sejumlah ancaman neraka."
> 
> Wah...itu sebabnya ia, yang memang pelawak, memberi warna humor dalam
> ceramahnya. Dan remaja pun pada hadir.
> 
> Saya suka sufisme. Di sana Tuhan dilukiskan serba ramah. Dan bukannya
> marah
> melulu macam gambaran kita. 
> A'u dibaca angu, tidak bisa. Dzubi jadi dubi tidak boleh. Khotbah lucu,
> jangan. Lho ? Bukankah alam inipun "khotbah" Tuhan? Langit selebar itu
> tanpa
> tiang, bulan bergayut tanpa cantelan dan aman, apa bukan "khotbah" maha
> jenaka ? Apa salahnya humor dalam agama ?
> 
> Ditahun 1960-an, Marhaen ingin hidup mati dibelakang Bung Karno. Dalam
> humor, saya cukup dibelakang Bung Komar. Artinya, bagi saya, humor agama
> bikin sehat iman. Dus tidak haram jadah.
> 
> Di Universitas Monash saya temukan stiker: "jangan bawa organmu ke surga.
> Orang surga sudah tahu kita lebih memerlukannya disini". Imbauan ini bukan
> dari Gereja, melainkan dari koperasi kredit. Intinya: kita diajak
> berkoperasi. Dengan itu kita santuni kaum dhuafa, kaum lemah.
> 
> Ini pun "khotbah" lucu. Dalam kisah sufi ada disebut cerita seorang gaek
> penyembah patung. Ia menyembah tanpa pamrih. Tapi di usia ke-70 ia punya
> kebutuhan penting. Doa pun diajukan. Sayang, patung itu cuma diam. Kakek
> kecewa. Ia minta pada Allah. Dan ajaib: dikabulkan.
> Bukan urusan dia bila masalah kemudian timbul, sebab Allah-lah, bukan dia,
> yang diprotes oleh para malaikat.
>       "Mengapa ya, Allah, Kau kabulkan doa si kakek ? Lupakah Kau ia
> penyembah patung ? Bukankah ia kafir yang nyata ?"
> Allah senyum. "Betul," jawabnya, "Tapi kalau bukan Aku, siapa mengabulkan
> doanya? Kalau Aku pun diam, lalu apa bedanya Aku dengan patung?"
> 
> Siang malam aku pun berdoa, semoga humor kaum sufi ini tak dilarang.
> 
> --------------------------------------------------------------
> 
> Cerita diatas, saya kutipkan dari kolomnya Mohamad Sobary dalam bukunya
> "Kang Sejo melihat Tuhan".
> 
> Semoga bermanfaat, semoga bisa juga sebagai bahan diskusi dan akhirnya ada
> hikmah yang bisa dipetik darinya.
> 
> 
> Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
> Deden.T-Soroako
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke