Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiimi Meskipun rata-rata adegan di film ini bercerita, tapi pertemuan Neo dengan The Oracle itulah menurut saya inti cerita. Kalau Kyainya Mas Leo menyuruh kita untuk me-nol-kan diri, Oracle juga mengajar Neo untuk itu. Tapi selain percakapan Oracle dengan Neo itu, dimana terjadi peruntuhan-peruntuhan dan pe-nol-an pemahaman, ada hal menarik lain yang ingin saya ketengahkan di sini. Yaitu Oracle sebagai tukang kue, dan saliknya yang kebanyakan anak kecil. Saya membayangkan bahwa pada saat itu manusia demikian dicengkeram oleh Matrix. Matrix versi mutakhir, dimana segalanya hadir sedemikian realistis. Berbeda dengan Matrix versi sebelumnya, yang terlalu ideal sehingga hanya ada kebahagiaan. -- Kita boleh tersenyum membayangkan bahwa dunia ini ada versinya. Versi 1.1, 2.0, 98, 2000, dst. :D Pada saat itu kebanyakan manusia sama sekali tak punya ide ttg kehidupan selain kehidupan di dalam dunia Matrix. Tentu sulit ya, berda'wah di dunia yang seperti itu. Dunia yang jenius, kata seorang agent. Oracle sebagai seorang mursyid, mengerti sekali kondisi ini. Karena itu dia memilih tampil sebagai seorang tukang kue. Kenapa? Karena dia tahu persis, peluang da'wahnya hanya ada di anak-anak kecil. Dengan menjadi tukang kue, dia tentu bisa bergaul dan menarik perhatian anak-anak kecil tsb. Dan anak-anak itu seperti lembaran putih, tergantung siapa yang menulis. Dan ternyata Oracle tukang kue, berhasil membentuk pribadi-pribadi cilik yang mampu berkata, "There is no spoon". Luar biasa. Tentu bukan orang sembarangan yang mampu berbuat seperti itu. Dia bekerja, tanpa orientasi hasil. Dia hanya mempersiapkan bibit-bibit The One, sehingga siap tumbuh sendiri. Dan dia memiliki keyakinan dan pengetahuan penuh bahwa tindakannya sebagai tukang kue tidak akan sia-sia. Kerjanya tidak dibatasi waktu. Keberserahannya luar biasa. Ke-nol-annya maksimal. Pembinaan, bimbingan dan da'wah seperti inilah yang sesungguhnya diperintahkan di Al-Qur'an. Ud'uu ilaa sabiili robbika bi al-hikmah, Serulah mereka ke jalan Robb mu dengan Al-Hikmah. Sayangnya kita sering men-downgrade-kan makna kata al-hikmah. Padahal suatu kata di Al-Qur'an itu sungguh tidak main-main. Apalagi pake lam ta'rif didepannya. Tanpa Al-Hikmah, Oracle tak akan bisa menjadi tukang kue yang mursyid. Tanpa Al-Hikmah, Oracle tak akan bisa membimbing Neo dengan akurat dalam tempo yang singkat. Tanpa Al-hikmah, seorang Mursyid tak akan bisa menuntun salik menemukan kessejatiannya. Tanpa Al-Hikmah, seorang mursyid bukanlah seorang mursyid. Wassalamu'alaykum wr. wb. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
