(http://www.iiman.co.id/artikeldetail.cfm?ArtikelID=132)

Tasawuf 
------------------------------------------------------------------------


Perjalanan Menuju Dunia Tasawuf 


Tasawuf Islam terbagi menjadi dua bagian. Pertama, berkaitan dengan
pemeliharaan dan pembersihan jiwa. Berhias dengan budi yang luhur lagi
sempurna. Dalam bahasa istilah disebut Ilmu Mu'amalah. 

Pada bagian ini menjadi titik pusat akhlak dan ilmu ruhani, bahkan tidak
berlebihan jika dikatakan bahwa, orang-orang sufi adalah guru besar ilmu
ruhani di dunia ini, Mereka benar-benar memahami dan mendalami penyakit
ruhani serta pemusnahnya, sehingga berhasil menyingkap hijab (tabir) penutup
ruhani. 

Sekalipun Eropa telah menggunakan peralatan moderen di dalam ilmu jiwanya,
dan di bawah teori-teorinya berhasil membuka ikatan-ikatan jiwa, akan tetapi
masih saja tidak mampu mengentasnya dari kebodohan bertingkat atau berganda.
Berbeda dengan orang-orang sufi yang telah menemukan sesuatu yang lebih
mengagumkan dalam persoalan ruhani mereka. Mereka berhasil menggapai
pengetahuan yang sempurna. Mereka bawa terbang tinggi menerobos medan cahaya
yang bersinar terang, menuju fithrah serta teladan yang membangkitkan
kemanusiaan yang mulia nan suci, yang tidak mengenal pertikaian dan saling
mencela, tidak mengenal dnegki, marah, dan permusuhan, tidak pula mengenal
kefasikan, perdebatan dan dekadensi moral. 

Kedua, berkaitan dengan penggemblengan ruhani, ibadah dan mahabbah (cinta),
beserta segala aktifitasa yang ada dalam ibadah dan mahabbah. Yaitu pribadi
yang bersih bersinar, munculnya ilham dan anugerah Ilahi. 

Dalam meneliti bagian kedua ini ada beberapa syarat. Syarat utama ialah
mendalami al-Quran dan as-Sunnah. Ia disebut Thariq (jalan) dan terdiri dari
empat perjalanan. 

1. Perjalanan gerak (amaliah) lahir, yaitu perjalanan ibadah dan berpaling
dari gemerlap dunia. Membersihkan diri dari daya tarik dunia. Menyendiri
(uzlah) untuk beribadah, dzikir dan istighfar serta selalu melaksanakan
kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya. 

2. Perjalanan amaliah batin dan senantiasa menelitinya, dengan memurnikan
akhlak, menyucikan hati, menyucikan ruh, mengintai dan menekan nafsu,
berhias dengan akhlak dan sifat-sifat yang suci serta perilaku yang
senantiasa memancar dari Nur Muhammad. 

3. Perjalanan penggemblengan dan training jiwa. Dalam hal ini Rasulullah
pernah memberikan ilustrasi dalam sabdanya, "Kita telah kembali dari jihad
kecil, menuju jihad akbar." Dengan ujian yang akbar ini, kekuatan dan
kekuasaan ruh akan semakin bertambah. Jiwa lalu memisah dari debu-debu,
menjadikannya bersih murni, hingga hakikat dan rahasia alam terpateri di
dalamnya. Cahaya Ilahi memancar di dalam hatinya. Nampak keindahan dan
kebesaran alam, kehalusan dan rahasianya. Dengan demikian bangkitlah rasa,
yang kemudian membentuk gerak hidup dalam indera yang umum, yang dapat
merasakan kelezatan yang tinggi. Ilmu yang cemerlang di dalam jiwa ini lalu
menjadi sifat yang tetap, berikut terbukanya tabir penutup secara sedikit
demi sedikit sehingga sampailah keoada ridha dan cahaya utama. 

4. Perjalanan menuju fana yang sempurna. Yaitu dengan sampainya ruh kepada
tingkat menyaksikan Allah dengan sebenarnya. Terbuka (kasyaf)nya alam yang
samar dan rahasia-rahasia Allah. Kemudian silih berganti muncul cahaya dan
terbukanya tabir, hingga kelezatan jiwa dengan ketenteraman. Puncaknya
adalah bayangan suci di hadapan Ilahi. 

Perjalanan-perjalanan spiritual itu tidak dapat di tulis atau diceritakan,
karena berada di luar bayangan dan fantasi manusia, di alam mana Allah SWT
Maha Agung dan tercinta dapat dilihat mata hati. Benar-benar pemandangan
yang di luar kerja mata wadak. Tiada pernah didengar oleh telinga dan tidak
sekalipun terbersit di dalam sanubari. 

Perjalanan ini merupakan perjalanan yang sangat berbahaya. Pernah seorang
sufi kehilangan keseimbangannya, kehilangan ingatan, dan akhirnya terjerumus
kepada kondisi yang memang sudah menjadi suratan takdir. 

Adapun bagi mereka yang telah sampai dan berhasil bertahan di sana. Sungguh
dia telah memperoleh kemantapan beribadah, penyaksian yang luhur,
kenyenyakan yang melelapkan jiwa, tenteram dan menguasai alam. 

Sahal bekata, "Seseorang yang berhasil menemukan jati dirinya, adalah orang
yang salat di tempat terbuka. Ketika selesai dari salatnya, bubarlah pula
bersamanya beribu-ribu malaikat yang ia saksikan." 

Sementara Ibnu Abqari mengatakan, "Seseorang yang benar-benar menemukan jati
dirinya, adalah orang yang salat di tempat terbuka. Begitu bubar dari
salatnya, tidak satupun malaikat yang mengikuti orang tersebut, karena tidak
tahu kemana perginya." 

Taha A. Baqi Surur 


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke