On Sat, 18 Dec 2004 08:28:52 +0100, Ikhlasul Amal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>         Beberapa kali teman-teman saya yang menekuni penelitian terutama
>         ilmu hayati menyebutkan bahwa "perebutan" bahan-bahan penelitian
>         dari Indonesia memang ramai. Sebagian "mengesalkan", terutama
>         jika ujung-ujungnya pada klaim identitas peneliti atau -- lebih
>         parah lagi -- jika larinya ke industri yang ujungnya lisensi.

Beberapa minggu lalu sempat ngalamin kejadian seperti ini.

Di "Canadian Centre for Architecture", Montreal ada koleksi bagus dan
lengkap foto2 arsitektur Indonesia abad 18.

Mencari informasi seperti ini di Indonesia susahnya minta ampun, eh
tahu2 di seberang samuderat, 12 jam perbedaan waktu ada koleksi yang
sangat lengkap.

Tadinya sempet kesel juga kok bisa2nya mereka dapat dan menyimpan
koleksi ini tapi begitu melihat 'vault' tempat penyimpanan mereka yang
high-tech plus punya sistem anti kebakaran yang canggih (- bukan
dengan air tapi menyedot oksigen, sehingga kalau ada alarm kebakaran
harus cepat2 lari keluar vault, kesannya manusia tidak apa-apa mati
asal koleksinya aman =P), saya jadi agak bersyukur juga masih ada yang
peduli dengan koleksi seperti ini.

Soalnya saya punya pengalaman membantu teman membuat CD presentasi
Museum Gajah di Jakarta dan melihat bagaimana koleksi-koleksi museum
ditelantarkan begitu saja terbasahi air rembesan hujan dan sebagainya.

Dilematis memang, disatu sisi bersyukur masih ada yang 'peduli' tapi
disisi lain miris karena yang 'peduli' bukan bangsa sendiri.

-- 
boy avianto @ gmail account
http://avianto.com/ - the archive

Kirim email ke