On Sun, 26 Dec 2004 06:14:38 +0700, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > On Sat, 25 Dec 2004 11:29:49 +0100, Made Wiryana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Nggak sreg nya dimana ? soalnya LyX berbeda cara kerjanya dg Word > > processor atau desktop publisher (seperti framemaker). Pakai LyX ini > > mengubah metoda penulisan dokumen dibanding pakai Wordprocessor, > > karena memang konsep yang dianut LyX berbeda. > > Bukan, bukan soal itu. > Saya sendiri lebih suka menulis pakai vi. > Jadi tidak masalah soal bukan wordprocessor.
Menulis document dg LyX, Word processor dan vi jelas memiliki paradigma yang berbeda. Di sini kita bicara antara kecepatan mengetik dokumen LaTeX vs keluwesan mengetik document LaTeX Mengacu ke pertanyaan mas Bud pertama (perangkat bantu menulis yg enak buat kerja kolaborasi, BUKAN buat mas Bud saja khan). LyX ini bisa menjembatani karean paradigma yang dianutnya diantara "word processor" (yg biasa digunakan utk menulis bebas) dan "text processor" (yg biasa digunakan utk menulis ketat bentuk). Jadi lebih mudah mengajarkan ke orang yang terbiasa memakai Wordprocessor (bagi para "macho" bisa juga masukin ERT dengan LyX, jadi tetap bisa menggunakan perintah LaTeXnya)- Bahkan pada modus matematika kita tetap bisa mengetik dengan perintah LaTeX (\sigma misalnya, dia akan langusng convert ke simbol sigma) Dalam hal penggunaan LyX vs vi, Saya tidak memasalahkan hasil akhirnya adalah sama-sama "tex" document, tetapi bagaimana menulis tex itu (beberapa kemungkinan yang ada) - Langsung dengan editor (emacs, vi,), sangat flexible - Editor tapi dg tool tambahan (misal KILE), sangat flexible dan agak mudah - Front end (misal dg LyX), kurang flexible (bagi LaTeX hacker, tapi mudah - Wordprocessor yg bisa export ke LaTeX, (OpenOffice, dsb), terbatas OH ya tool lainnya seperti GNU Texmacs bisa juga menghasilkan document TeX. > Yang saya suka adalah saya bisa coding di level HTML, dan > kemudian switch ke preview dengan cepat (tanpa perlu loading > browser, dll.) Terus kalau saya edit di level "wordprocessor-like" > dia tidak mengacaukan HTML yang sudah saya buat. Jadi saya > bisa go-back-and-forth antara low-level dan high-level. > Yang lainnya, biasanya kalau kembali ke low-level lagi ... > banyak yang sama toolsnya diproses. Ini saya yang tidak suka. > I know what I am doing, I don't want some tools to tell me > what to do :) Mungkin kembali lagi ke pertanyaan awal mas Bud, tool yg digunakan orang banyak (jadi pilihannya biar orang rame tersebut bisa menerimanya). Ada orang yg suka dengan tool level rendah (editor biasa) ada yang suka dengan level tinggi. Menurut saya LyX memberikan kemungkinan kita bermain dg level tinggi (edit secara wordprocessor) ataupun memberikan perintah level rendah (ERT istilahnya, jadi kita sisipkan perintah LaTeX langsung di document LyX, salah satu contoh adalah kalau kita pakai longtable, di LyX tidak bisa dibuat floating (floating otomatis memberikan caption dg numbering otomatis), untuk itu bisa ditrick pakai ERT ini). He he mungkin mas Bud perlu ngeliat saya "ngedit" pakai LyX he he he > LyX bagi saya terasa menghambat, karena saya lebih suka > pakai vi. Even di Windows saya pakai vi. Kalau mau bisa koq Lyx, insert command yg mas Bud ketik pakai vi, sedangkan untuk editing "normal" pakai modus GUI-nya. Tinggal ketik tuh perintah di vi masukin buffer, paste di ERTnya LyX. Saya juga biasa pakai editor (bukan vi saja, editor saya apa saja yg ada), tapi terus terang saya akui kalau untuk "kecepatan memproduksi dokumen" dengan front end LyX, jauh lebih tinggi dari pada di vi (walau sudah dibekali short cut macam-macam). Contoh kalau mau insert "table" atau picture. Bandingkan kemudahan dg LyX, vs ngetik tabel LaTeX dengan vi. > Ini setelah menghabiskan banyak duit beli buku TeX/LaTeX. > (Yang paling saya suka adalah buku "LaTeX Companion" > karangan Goossens, Mittelbach, Samarin. Banyak trick advance!) Buku LaTeX yg paling bagus menurut saya adalah yg bahasa Jerman, saya bisa mbandingin karena punya keduanya (versi Inggrisnya adalah versi lebih singkat dari bahasa Jermannya),. ada 4 (atu 5 tebel-tebel). Sebagai "staff" kita bisa dapat gratis, ndak perlu keluar duit he he he Karangan Gossens, Mittelbach, Samarin ini salah satunya, ada yg lebih tebal karangan Kopka (versi Inggrsinya lebih tipis dan sedikit), dan karangan Klock yg khusus tip dan trick lanjutan. Di Jerman LaTeX masih populer di kalangan mahasiswa dan dosen. > Nah ... sekarang saya nggak punya waktu lagi :( > Sementara style book yang standar, nggak suka. > > Jadi gimana ya? Ada Internet khan, banyak klass untuk buku yg cakep-cakep. Tinggal download dan coba-coba IMW
