On 11/21/05, didik achmadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > (Itulah sebabnya saya jadi mikir2 ingin melamar jadi country managernya > > Google di Indonesia supaya bisa bayarin programmer/tukang utak atik > > di Indonesia untuk ngoprek open source.) > > ooo.. kenapa cuman mikir pak budi.. langsung apply aja deh. Tanggung lagi.
Ada beberapa alasan mengapa saya tidak melamar ke Google (or other big companies for that matter, eg: Microsoft, IBM, Schlumberger, etc.) Nanti akan saya tuliskan lengkapnya di blog. Hal yang paling mengganjel: saya sudah punya komitmen di perusahaan saya, ... kecuali perusahaan ini dibeli Google! he he he. Then, I'll work for Google. ... > Opini ini mungkin terbentuk karena proses pengembangan industri perangkat > lunak sungguh kurang mendapatkan iklim yang kondusif, terutama dalam hal > pendanaan dan segala informasi yang sekiranya terkait. Saya pernah iseng2 > menanyakan bagaimana support pihak banking untuk industri perangkat lunak > yang masih muda. ... Ini tidak betul. 1. Dahulu, saya sering (saya ulangi: SERING) kedatangan orang yang punya duit (baca: investor) yang mencari tempat untuk menanam modal. Hanya, mereka belum menemukan orang IT yang bisa diberi dana. Range dananya bervariasi antara Rp 500 juta sd Rp 10 milyar. (Waktu itu kebanyakan Rp 2 milyar, yang dalam pandangan saya *terlalu besar* untuk skala starup sehingga para founder yang kebanyakan mahasiswa malah tidak berani) 2. Dalam hal pendanaan untuk start-up, JAUHI BANK! Kalau saya lihat referensi, buku, sejarah, dan yang saya alami sendiri ... lebih baik pada tahap awal adalah dengan yang disebut "angel investor", yaitu kawan, sodara, dll. dulu. Setalah itu masih banyak sumber finansial lain. Bank itu alternatif terakhir kalau sudah mentok dan benar2 mentok. Pendekatan dengan bank sangat beresiko untuk kita pribadi. Saya sangat tidak setuju kalau anda menggadaikan rumah (warisan) untuk start-up. Lebih baik share risk dengan orang lain, dengan imbalan kepemilikan di perusahaan. Mudah2an manfaat. -- budi
