baskara wrote: > On 12/7/05, Trias Adijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Sebenernya untuk menyuburkan lahan tandus itu apa harus mengikuti gaya > > india, china,singapur > > kalo melihat sukses mereka memang bisa diambil benang merahnya sehingga kita > > bisa ngikutin proses tersbut sampe akhir nya paling tidak menyamai > > kisah sukses mrk > > di bidang hitech, tapi bukannya mrk juga bergerak cepat ? walhasil > > kita tetep dibelakang > > dan ini akan terus berulang .. > > > > gimana kalo kita sendiri membangun konsep yang beda sesuai dengan > > "ketandusan"nya > > paling tidak membuat benang biru yg lain syukur2x bisa dibuat jadi > > rujukan negara lain. > > model bikin "poros haitek" baru gitu lah . gimana ? apa mungkin ? > > Saya termasuk yang suka model seperti itu. Kalau di oase lain orang2 > menanam gandum, apakah kita perlu ikut-ikutan menanam gandum? > > Sejauh ini saya lihat belum banyak terlihat orang yang bisa memberikan > ide apa yang sebaiknya kita buat. Any idea? he he he.
Saya pribadi in favour dengan ide Pak Armien mengenai industri hitek yang berbasis "negara dalam negara". > Kalau ikut2an, kita hanya bisa "bermain" di Jakarta dan sekitarnya > saja yang konsumen hitek-nya tidak begitu banyak, karena berbagai > paten milik orang lain sudah didaftarkan di luar sana. Jangan > dibandingkan dengan Jepang yang dengan membuat apapun bisa dijual > karena konsumen hitek di dalam negrinya banyak. ;-) Yang di-inginkan dari industri hitek global tersebut secara long term adalah output dari produknya (misalnya berupa obat dari industri biotek atau software dari industri IT) yang dapat digunakan secara luas oleh masyrakat __dunia__ (jadi bersifat global dan tidak terbatas pada negara atau kelas tertentu saja). Setelah ini tentunya pada bertanya,aah apakah kita bisa membuat produk dengan kualitas global ? Nah disini pentingnya peran creative-class dari developed country yang bisa menjadi outsourcer (untuk outsourcing) atau "guru" untuk memberikan pembelajaran kepada SDM di Indonesia how-to-produce the stuff. Salah satu yang saya amati,untuk bisa membuat produk,kita mesti tahu know-how-nya dulu,misalnya melalui proses outsourcing. Contoh realnya,sorry kalau ini saya ambil beberapa kali,misalnya Indonesia buat sedemikian rupa sehingga Pak Pantas/Marvell Inc buka Semikonduktor Industri pertama di Indonesia. Carlos
