> ahutapea wrote: > > > 3. Masalahnya mungkin saya lihat ada pada level pengusaha IT di > > > Indonesia,cara mereka bisnis masih seperti cara "Old Way" a-) > > > manufacturing (seperti bikin atau setup komputer semurah-murahnya) > > > atay b-) industri services/service provider. Jarang banget (mudah2an > > > saya yang kuper) yang melakukan bisnis IT seperti outsourcing yang > > > selain lucrative market juga secara tidak langsung mengembangkan SDM di > > > tanah air. > > > > > > > Nah inilah om, bisnis outsource kan modal utamanya koneksi dan reputasi > > (bisnis lain juga gitu sih). Misalnya saya datang ke Cisco dan ngomong > > "kasih saya proses x kamu ke saya. lihat nih teknologi call-center > > saya, pegawai saya yg ccie dll". Tetap aja bakalan dianggap sebelah > > mata. > > > > Lain kalau om carlos dateng ke bos juniper terus bilang saya mungkin > > belum punya pegawai, belum punya dokumentasi proses tapi kasih saya > > proses Q&A ke saya dan akan saya jamin SLA x%. Mereka mungkin agak > > ngasih proses ke om carlos untuk dibawa dan dikembangin di Indonesia. > Betul sekali, sebetulnya proses outsourcing awalnya memang sesederhana itu. (Gak perlu nunggu 20 tahun kalau banyak kontak/orang Indonesia di pusat industri hitek)
Case Study I: Biasanya cerita abstraknya begini: SW director memperkirakan untuk maintenance stable software release butuh resources 5 developer baru,tapi dana dari management sangat sedikit(misalnya hanya 50K/yr/engineer sedangkan market price buat developer adalah 150K/yr),direktor ini bingung,mana ada di valley yang mau digaji segitu sebagai developer.Terus direktor ini meeting dengan stafnya/manager engineering: Gimana nich,kita cuman punya budget segini,ada usulan ? Jawab para manager: di outsourcing ke India saja Bos,disono kita bisa bari 30K/yr/engineer, pasti banyak yang mau,akhirnya selesai,proyek outsourcing dipindahkan ke India. Mau ke Indonesia bukanya mereka gak mau,kalau lebih murah dan can-get-the-job-done kenapa tidak,tapi masalahnya gak ada kontaknya,gak tahu resourcenya di Indonesia bagaimana. Case Study II: Ini yang aktual dan kisah nyata.Di pengembangan software network management di Vendor XXX Technologies,mereka sudah punya software stable dengan jumlah customer yang solid,masalah mereka sekarang: karena produk sudah solid,tidak ada penambahan new features kecuali updating MIBS table dengan network device yang baru-baru di market.Alhasil management merasakan gak perlu punya 20 full-dev-team untuk maintenance software ini,cukup 5 dev. saja di US(yang 15 dipindahkan ke proyek lain),sedangkan untuk keperluan engineer yang men-update MIBS table,disimpulkan bisa dikerjakan dari negara lain.Terus masuk beberapa proposal,kalau di India dev costnya adalah 1:4 , di Vietnam 1:8.Akhirnya jadilah untuk keperluan MIBS update ini prosesnya dibikin di Vietnam. Kalau ditanya: Apakah orang malaysia mampu mengerjakanya ? tentu bisa,masalah updating mibs table itu urusan kecil ... orang Indonesia mampu tidak ? sama jawabanya seperti orang malaysia. Lalu kenapa indonesia gak kebagian order ?? karena kagak ada kontak dengan yang ingin melakukan outsourcing, as simple as that. > > > Jadi moral of the storynya buat yg ada di HQ sana, kalau balik jangan > > ngebuka bisnis yg marketnya orang Indonesia tapi coba bawa pulang > > proses2 dari luar untuk dikerjaiin di Indonesia ;) > > Setuju 268 persen > > > > > > Hah?! Philipina, iya bener Philipina...... Nah lho ....btw, ini > > pekerjaan untuk hitek yang lowtech lho,seperti data-entry (read: yap > > data entry dooang). :))) > > > > Philipina kan emang udah bagus bahasa inggrisnya om. Banyak banget > call-center disana dan bukan untuk regional Asean atau asia lagi tapi > udah khusus amerika atau europe. Menurut pak Hutapea: Apakah susah cari orang Indonesia yang jago english di Indonesia untuk phone-based call center ? tarohlah cuman butuh 20 orang saja, menurut saya sich tidak.Kita masih punya daya saing koq,entry level salary di Indonesia masih cukup bersaing,dibanding di Bangalore fresh-graduate call center dibayar 8-10 juta/bulan. Masih banyak lagi jenis outsourcing yang Indonesia secara teknis bisa kerjakan,seperti web-based TAC. Harusnya kita bisa diskusikan model lain ini secara lebih komprenship,nunggu input dari yang lain juga, nanti saya summary deh. Carlos
