Budi Rahardjo wrote:
> On 12/26/05, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > pak Budi punya analisa kenapa IPTN gak menghasilkan startup seperti kasus
> > lockhead?
>
> Ok. Disclaimer: ini analisa dari seorang analis amatiran :)
>
> Kenapa IPTN kurang berhasil? Mismanagement!
> - SDM yang masuk ke IPTN kurang selektif
> - Etos kerja (sisi soft skill) tidak muncul (dan tidak dikembangkan?)
>   Walhasil, orang yang rajin dan yang hanya baca koran gajinya sama.
> ...
>

Maaf Pak Budi,tapi itu dari sisi internal saja dan 'mismanagement' itu
masih satu hal kecil saja.

Walau bagaimanapun industri 'aircraft maker' setahu saya very-high
risk,modalnya sangat tinggi dengan return probabilitasnya untungnya
masih sangat gambling (karena terlalu banyak faktor non-teknis untuk
konfirmasi penjualan).

Artinya cukup spekulatif.Boeing sendiri saya dengern layoff mulu dan
mulai kalah bersaing dengan Airbus.Skrg industri pesawat terbang di
sebagian negara besar sedang jatuh karena harga minyak dan persh
kurangi bisnis travel karena sudah ada teknologi IT untuk
menggantikannya. (hehehe hidup IT :) )


Yang saya pikir Indonesia kudu bikin adalah industri bisnis hitek yang
low-mid risk,modalnya biasa saja,bisa menyerap SDM IT Indonesia yg
pinter2 sehingga brain drain ke LN bisa distop dan tentu saja: harus
pasti untung (meskpun apa sih yang pasti ? tapi kan ada probabilitas).

Pak Budi dulu sudah sempat menyinggung 'software customization' ,nah
sudah ketemu tuh salah satu jawabanya apa.Selanjutnya, industriawan
besar seperti M Riady dkk itu adalah mencarikan kontak dengan calon
investor atau calon buyer dari luar untuk pengusaha lokal IT,jadi ada
sinergi sehat antara pengusaha UKM  dan pengusaha kelas kakap.

Kembali ke hal Indonesia R&D,bagusnya industri ini muncul dengan
mengikuti pola yang ada di Malaysia yaitu **tidak menciptakan produk
langsung**, tapi ikut dalam manufaktur/contract manufactur/small scale
R&D seperti di Malaysia dan integrasi /customization/outsourcing produk
seperti di India.


Carlos

Kirim email ke