On Thu, Jan 05, 2006 at 05:16:07AM +0700, Budi Rahardjo wrote: > Saya bingung karena untuk memancing pertanyaan saja membutuhkan usaha > yang keras. Apalagi membangun diskusi :(
seringkali orang mengambil snapshot dan lantas memvonis. cara berpikir cross-sectional begini sudah lama ditinggalkan dalam riset (aktif ditinggalkan sejak 80-an, tetapi masih digunakan sampai skrg). suatu peristiwa/fenomena perlu dipandang dan dikaji secara longitudinal berikut hukum sebab-akibat yang terjadi di dalamnya. > Tips? tricks? - seleksi - turunkan uang gedung - turunkan spp kenapa perlu diturunkan? untuk menjaring orang-orang yang berjiwa 'mandiri' sebanyak-banyaknya. kalau bermandiri ria dengan sekedar menjadi tukang cuci piring, tidak mungkin bisa menanggung beban ekonomi sebesar itu. jadi, mustinya ndak usah kaget lah, wong sebagian besar (hampir semua) _ngempeng_ ortu. dari sisi yang lain, sebenarnya kualitas dosen, kualitas prasarana dan sarana pendidikan, kurikulum, metode pendidikan, sedikit sekali sumbangannya bagi keberhasilan pendidikan. Q: kok sudah lulus tidak bisa menulis pakai WS4? A: belajar sendiri dong, enak aja! kan sudah dikasih dasar-dasarnya Q: kok sudah lulus tidak bisa bisa bikin program A: belajar sendiri dong, enak aja! kan sudah dikasih dasar-dasarnya Q: kok sudah lulus kerja masih kagak becus? A: belajar sendiri dong, enak aja! kan sudah dikasih dasar-dasarnya A: kalau itu mah perlu kursus A: no warranty A: use it with your own risk A: EGP A: idiot dilarang protes A: get lost Q: kalau saya bisa belajar sendiri, ngapain saya harus bayar? ngapain anda di depan saya? A: get lost seperti ada buku berjudul: physician is poison, jadi sama saja, dosen is poison. seperti aristoteles bilang: kenalilah dirimu sendiri :-) A: get lost :-)) Salam, P.Y. Adi Prasaja
