Muhamad Carlos Patriawan wrote:
Yang jauh lebih penting sebenrnya adlah bagaimana hasil riset tsb bisa
menjadi produk alias fulus.

Pendapat Pak Carlos ada benarnya, tapi ini lebih tepat ditujukan pada
applied research. Sekedar mensitir pendapat Grinnel di "The Scientific
Attitude" (The Guilford Express, 1992),  riset ada dua : basic research
yang target produknya adalah paper, kalau applied target akhir
produknya berupa patent. Keduanya tidak perlu dipertentangkan,
karena saling mendukung & sama-sama penting. Fulus datangnya
dari produk yang aplikatif. Tapi aplikasi tidak mungkin terwujud
kalau tidak ada fondasi teori yang kuat. Repotnya kadangkala
signifikansi dari riset dasar ini kadang sulit diterima dan
dicerna oleh umum. Basic research kadangkala perlu menunggu
waktu lama untuk dipetik, karena visinya jauh memandang ke depan.
Sekedar contoh : riset di bioinformatics sudah cukup lama
dilakukan, dan map dari human genome sudah diperoleh dua tiga
tahun yll. Tapi jalan masih panjang untuk bisa diaplikasikan
ke dunia kedokteran (tailored made medicine, dsb.). Prof. Sangkot
(Eijkman Inst.) pernah mengeluhkan mengenai kurangnya dukungan dari
dunia industri (bio & farmasi) di Indonesia terhadap riset dasar,
padahal dana besar sangat diperlukan untuk riset dasar. Tak mungkin
bisa lompat ke applied yang menghasilkan fulus tanpa riset dasar.
Kesimpulannya : jangan tinggalkan dua-duanya. :-)

_____________________________________________________________________________________________
Anto Satriyo Nugroho, Dr.Eng
E-mail :  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
URL :     http://www.asnugroho.net/   Tel. +81-565-46-6638 Fax. +81-565-46-1299
- School of Life System Science & Technology, Chukyo University, Toyota-Japan 
(Visiting Prof.)
- Agency for the Assessment and Application of Technology (P3TIE-BPPT), 
Jakarta-Indonesia

Kirim email ke