Hadits Tentang Nisfu Sya'ban dan Dalil-Dalilnya
Rabu, 05 Agustus 2009 06:01
Pertanyaan
Assalamualaikum Wr. Wb
Ustd yang di rahmati Allah. Saya mau tanya tentang Nisfu sya'ban, adakah nash
yang menjelaskan tentang hal ini, dan apa yang sering di lakukan oleh Rasullah
SAW pada bulan sya'ban.
Jazakallah atas jawabannya
Wassalamualaikum Wr. Wb
Ahmd
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya kalau dilihat dari kaca mata para ahli hadits, praktek ibadah ritual
yang dilakukan oleh sebagian saudara kita di malam ke-15bulan Sya'ban (nisfu
sya'ban), tidak didukung dengan hadits yang mencapai derajat shahih kepada
Rasulullah SAW.
Namun bukan berarti apa yang dikerjakan ituotomatis menjadi haram atau
kemungkaran yang harus diperangi. Sebab ternyata kita menemukan dalil-dalil
yang meski tidak sampai derajat shahih, tetapi juga tidak sampai dhaif apalagi
palsu. Hadits-hadits itu mencapai derajat hasan. Setidaknya, kesimpulan kita
adalah bahwa derajat kekuatan tiap hadits itu memang jadi perbedaan pandangan
kalangan ahli hadits.
Walhasil, perkara ini memang menjadi wilayah khilaf di kalangan ulama. Sebagian
mentsabatkan hal itu namun sebagian tidak. Dan selama suatu masalah masih
menjadi khilaf ulama, setidaknya kita tidak perlu langsung menghujat apa yang
dilakukan oleh saudara kita bila ternyata tidak sama dengan apa yang kita
yakini.
Dalil Tentang Keutamaan Bulan Sya'ban dan Khususnya Nisfu Sya'ban
Dalil-dalil yang diperselisihkan oleh para ulama tentang level keshahihannya
itu antara lain adalah hadits-hadits berikut ini:
Sesungguhnya Allah 'Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nisfu sya'ban
dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu
kabilah yang punya banyak kambing). (HR At-Tabarani dan Ahmad)
Namun Al-Imam At-Tirmizy menyatakan bahwa riwayat ini didhaifkan oleh
Al-Bukhari.
Selain hadits di atas, juga ada hadits lainnya yang meski tidak sampai derajat
shahih, namun oleh para ulama diterima juga.
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Rasulullah SAW bangun pada malam
dan melakukan shalat serta memperlama sujud, sehingga aku menyangka beliau
telah diambil. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari
shalatnya, beliau berkata, "Wahai Asiyah, (atau Wahai Humaira'), apakah kamu
menyangka bahwa Rasulullah tidak memberikan hakmu kepadamu?" Aku menjawab,
"Tidak ya Rasulallah, namun Aku menyangka bahwa Anda telah dipanggil Allah
karena sujud Anda lama sekali." Rasulullah SAW bersabda, "Tahukah kamu malam
apa ini?" Aku menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau
bersabda, "Ini adalah malam nisfu sya'ban (pertengahan bulan sya'ban). Dan
Allah muncul kepada hamba-hamba-Nya di malam nisfu sya'ban dan mengampuni orang
yang minta ampun, mengasihi orang yang minta dikasihi, namun menunda orang yang
hasud sebagaimana perilaku mereka." (HR Al-Baihaqi)
Al-Baihaqi meriwayatkan hadits ini lewat jalur Al-'Alaa' bin Al-Harits dan
menyatakan bahwa hadits ini mursal jayyid. Hal itu karena Al-'Alaa' tidak
mendengar langsung dari Aisyah ra.
Ditambah lagi dengan satu hadits yang menyebutkan bahwa pada bulan Sya'ban
amal-amal manusia dilaporkan ke langit. Namun hadits ini tidak secara spesifik
menyebutkan bahwa hal itu terjadi pada malam nisfu sya'ban.
Dari Usamah bin Zaid ra bahwa beliau bertanya kepada nabi SAW, "Saya tidak
melihat Andaberpuasa (sunnah) lebih banyak dari bulan Sya'ban." Beliau
menjawab, "Bulan sya'ban adalah bulan yang sering dilupakan orang dan terdapat
di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya
amal-amal kepada rabbul-alamin. Aku senang bila amalku diangkat sedangkan aku
dalam keadaan berpuasa." (HR An-Nasai)
Dari tiga hadits di atas, kita bisa menerima sebuah gambaran para para ahli
hadits memang berbeda pendapat. Dan apakah kita bisa menerima sebuah riwayat
yang dhaif, juga menjadi ajang perbedaan pendapat lagi. Sebab sebagian ulama
membolehkan kita menggunakan hadits dhaif (asal tidak parah), khususnya untuk
masalah fadhailul a'mal, bukan masalah aqidah asasiyah dan hukum halam dan
haram.
Anggaplah kita meminjam pendapat yang menerima hadits-hadits di atas, maka kita
akan mendapati bahwa memang ada kekhususan di bulan sya'ban khususnya malam
nisfu sya'ban. Di antaranya adalah Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang minta
ampun. Dan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat di malam itu dan memperlama
shalatnya. Dan bahwa bulan Sya'ban adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia.
Namun semua dalil di atas belum sampai kepada bagaimana bentuk teknis untuk
mengisi malam nisfu sya'ban itu.
Ritual Khusus Malam Nisfu Sya'ban
Yang menjadi pertanyaan, adakah anjuran untuk berkumpul di masjid-masjid
membaca doa-doa khusus di malam itu? Dan sudahkah hal itu dilakukan di zaman
nabi SAW? Ataukah ada ulama di masa lalu yang melakukannya di masjid-masjid
sebagaimana yang sering kita saksikan sekarang ini?
Anjuran untuk berkumpul di malam nisfu sya'ban memang ada, namun dari segi
dalilnya, apakah terkoneksi hingga Rasulullah SAW, para ulama umumnya menilai
bahwa dalil-dalil itudhaif. Di antaranya hadits berikut ini:
Dari Ali bin Abi Thalib secara marfu' bahwa Rasululah SAW bersabda, "Bila
datang malam nisfu sya'ban, maka bangunlah pada malamnya dan berpuasa lah
siangnya. Sesungguhnya Allah SWT turunpada malam itu sejak terbenamnya matahari
kelangit dunia dan berkata, "Adakah orang yang minta ampun, Aku akan
mengampuninya. Adakah yang minta rizki, Aku akan memberinya riki.Adakah orang
sakit, maka Aku akan menyembuhkannya, hingga terbit fajar. (HR Ibnu Majah
dengan sanad yang dhaif)
Sedangkan pemandangan yang seperti yang kita lihat sekarang ini di mana manusia
berkumpul untuk berdzikir dan berdoa khusus di malam nisfu sya'ban di
masjid-masjid, belum kita temui di zaman Rasulullah SAW maupun di zaman
shahabat. Kita baru menemukannya di zaman tabi'in, satu lapis generasi setelah
generasi para shahabat.
Al-Qasthalani dalam kitabnya, Al-Mawahib Alladunniyah jilid 2 halaman 59,
menuliskan bahwa para tabiin di negeri Syam seperti Khalid bin Mi'dan dan
Makhul telah ber-juhud (mengkhususkan beribadah) pada malam nisfu sya'ban. Maka
dari mereka berdua orang-orang mengambil panutan.
Namun disebutkan terdapat kisah-kisah Israiliyat dari mereka. Sehingga hal itu
diingkari oleh para ulama lainnya, terutama ulama dari hijaz, seperti Atho' bin
Abi Mulkiyah, termasuk para ulama Malikiyah yang mengatakan bahwa hal itu
bid'ah.
Al-Qasthalany kemudian meneruskan di dalam kitabnya bahwa para ulama Syam
berbeda pendapat dalam bentuk teknis ibadah di malam nisfu sya'ban.
1. Bentuk Pertama
Dilakukan di malam hari di masjid secara berjamaah. Ini adalah pandangan Khalid
bin Mi'dan, Luqman bin 'Amir. Dianjurkan pada malam itu untuk mengenakan
pakaian yang paling baik, memakai harum-haruman, memakai celak mata (kuhl),
serta menghabiskan malam itu untuk beribadah di masjid.
Praktek sepertiini disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih dan beliau berkomentar
tentang hal ini, "Amal seperti ini bukan bid'ah." Dan pendapat beliau ini
dinukil oleh Harb Al-Karamani dalam kitabnya.
2. Bentuk kedua
Pendapat ini didukung oleh Al-Auza'i dan para ulama Syam umumnya. Bentuknya
bagi mereka cukup dikerjakan saja sendiri-sendiri di rumah atau di mana pun.
Namun tidak perlu dengan pengerahan masa di masjid baik dengan doa, dzikir
maupun istighfar. Mereka memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak
dianjurkan.
Jadi di pihak yang mendukung adanya ritual ibadah khusus di malam nisfu sya'ban
itu pun berkembang dua pendapat lagi.
Al-Imam An-Nawawi
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, seorang ahli fiqih kondang bermazhab Syafi'i
yang punya banyak karya besar dan kitabnya dibaca oleh seluruh pesantren di
dunia Islam (di antaranya kitab Riyadhusshalihin, arba'in an-nawawiyah,
al-majmu'), punya pendapat menarik tentang ritual khusus di malam nisfu sya'ban.
Beliau berkata bahwa shalat satu bentuk ritual yang bid'ah di malam itu adalah
shalat 100 rakaat, hukumnya adalah bid'ah. Sama dengan shalat raghaib 12 rakaat
yang banyak dilakukan di bulan Rajab, juga shalat bid'ah. Keduanya tidak ada
dalilnya dari Rasulullah SAW.
Beliau mengingatkan untuk tidak terkecoh dengan dalil-dalil dan anjuran baik
yang ada di dalam kitabIhya' Ulumiddin karya Al-Ghazali, atau kitab Quut
Al-Qulub karya Abu Talib Al-Makki.
Ustadz 'Athiyah Shaqr
Beliau adalah kepala Lajnah Fatwa di Al-Azhar Mesir di masa lalu. Dalam
pendapatnya beliau mengatakan bahwa tidak mengapa bila kita melakukan shalat
sunnah di malam nisfu sya'ban antara Maghri dan Isya' demi untuk bertaqarrub
kepada Allah. Karena hal itu termasuk kebaikan. Demikian juga dengan ibadah
sunnah lainnya sepanjang malam itu, dengan berdoa, meminta ampun kepada Alla.
Semua itu memang dianjurkan.
Namun lafadz doa panjang umur dan sejenisnya, semua itu tidak ada sumbernya
dari Rasulullah SAW.
Dr. Yusuf al-Qaradawi
Ulama yang sering dijadikan rujukan oleh para aktifis dakwah berpendapat
tentang ritual di malam nasfu sya'ban bahwa tidak pernah diriwayatkan dari Nabi
SAW dan para sahabat bahwa mereka berkumpul di masjid untuk menghidupkan malam
nisfu Sya'ban, membaca doa tertentu dan shalat tertentu seperti yang kita lihat
pada sebahagian negeri orang Islam.
Juga tidak ada riwayat untuk membaca surah Yasin, shalat dua rakaat dengan niat
panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada
manusia, kemudian mereka membaca do`a yang tidak pernah dipetik dari golongan
salaf (para sahabah, tabi`in dan tabi’ tabi`in).
Kesimpulan
Dan memang masalah ini adalah mahallun-khilaf' sepajang zaman. Tidak akan ada
penyelesaiannya, karena masing-masing pihak berangkat dengan ijtihad dan dalil
masing-masing, di mana kita pun berhusnudzdzhan bahwa mereka punya niat yang
baik serta mereka memiliki kapasitas dan otoritas dalam berijtihad.
Lepas dari keyakinan kita masing-masing yang merupakan hak kita untuk
mengikutinya, namun hak kita dibatasi oleh adanya hak saudara kita dalam
kebebasan berekspresi dalam ijtihad mereka, selama masih dalam koridor manhaj
yang benar.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
taken from www.warnaislam.com
how colored are you?
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/