Bukan berita baru, tapi kalau sampai sekarang masih separah ini, kapan donk kita bisa mulai makan kerang lagi ???

 

 

> Zainal Arifin,Ph.D., peneliti dari Oseanologi LIPI

> menjelaskan bahwa pencemaran kerang di Indonesia

> Timur dibanding dengan pulau Jawa dan sekitarnya

> mencapai 10 hingga 20 kali lipat. Meski hasil

> penelitiannya belum tuntas, namun kondisi

> ini perlu membuat kita hati-hati terutama bagi

> penggemar kerang-kerangan.

>

> Kasus ditolaknya kerang-kerang Indonesia di

> negara-negara Uni Eropa menunjukkan bahwa kondisi

> perairan kita cukup memprihatinkan. Kerang, banyak

> dihasilkan di daerah sekitar teluk Jakarta, seperti

> Muara Angke (yang terbesar) dan Cilincing. Kerang

> hijau (Perna viridis) dan kerang darah (Anadara

> granosa) merupakan jenis kerang

> yang banyak penggemarnya. Namun, untuk ekspor, kali

> ini Indonesia banyak mendapat ganjalan karena

> indikasi banyaknya racun di kerang.

>

> Diketahui, kerang hijau lebih dikenal sebagai kerang

> yang bersifat "vacuum cleaner" karena ia menjaring

> logam-logam berat seperti : Pb timbal), kadmium

> (Cd), maupun tembaga (Cu).

>

> Sementara, kerang darah lebih parah lagi. Karena

> hidup di dalam> lumpur,ia bahkan dapat memakan

> sedimen. Logam-logam berat ini bila masuk ke dalam

> tubuh tidak bisa keluar. Ia akan terpendam di

> dalamnya. Logam-logam ini akan menjadi racun di

> dalam tubuh.

>

> Alumnus doktor dari Kanada bidang ekotoksikologi

> ini menjelaskan, racun-racun ini dapat membuat

> sistem syaraf lemah, IQ turun, dan berpengaruh ke

> tulang. Yang berbahaya, bila racun tadi dideposit

> tulang dan mengendap di dalamnya. Karena bisa

> terjadi salah tangkap, kadmium yang mengendap di

> sana bisa dianggap kalsium dan diserap tulang.

>

> Menurut Zainal Arifin, penelitiannya ini masih

> bersifat rahasia karena belum selesai. Namun, ia

> mengungkap sebagian yang perlu untuk kita ketahui.

> Dikatakannya, sebenarnya untuk dikonsumsi,

> kerang-kerang itu harus bebas logam-logam berat

> dalam jumlah nol (0%). Kalaupun ada ambang

> batasnya, biasanya sekitar 0,05. Itu, biasanya

> diterapkan di negara-negara maju.

>

> Sementara, di Indonesia, terutama di wilayah Muara

> Angke memiliki nilai konsentrasi yang cukup tinggi

> bahkan paling tinggi dibanding daerah-daerah

> Jakarta lainnya.

>

> Dari hasil penelitiannya, angka konsentrasi itu ada

> yang mencapai angka 1,8 atau hampir 2. Kebanyakan

> di atas 1 konsentrasinya. kondisi ini tentu

> memprihatinkan kita, dan, cukup untuk membuat kita

> berhati-hati dalam mengonsumsi makanan kerang.

>

> Seperti diketahui, pelaksanaan program langit biru,

> sebenarnya sudah dimulai November 2001- di mana

> bahan bakar bensin yang digunakan harus bebas

> timbal. Bahkan diharapkan 2003 seharusnya Jakarta

> sudah bebas bensin timbal. Namun, bila konsentrasi

> logam berat di kerang masih tinggi, ini

> menunjukkan adanya indikasi bahwa program bebas

> timbal masih perlu dipertanyakan berjalan tidaknya.

> Dalam artian, ada kemungkinan masih banyak yang

> belum menjalankannya.

>

> Logam berat, memang erat kaitannya dengan polusi

> udara. Terutama bensin bertimbal yang mempunyai

> sumbangan besar dalam melakukan pencemaran

> logam-logam berat. Masalahnya, seberapa jauhkah

> kepedulian dan keseriusan pemerintah dalam

> menjalankan program-program tersebut?.

>

> Sekedar dilaksanakan atau memang serius

> menjalaninya. Memang, masalah lingkungan bukan

> hanya tanggung jawab pemerintah. Tapi, pemerintah

> punya kekuatan atau katakanlah, tekanan agar niat

> baik itu dapat terwujud

> dan tidak hanya sekedar omdo (omong doang) saja.

>

>

>

>

 

Kirim email ke