Temans,
 
Ini mungkin bisa jadi bahan bacaan buat nambahin info dari Mas Toto tentang World Water Forum di Kyoto, di luar konteks teknis pengolahan air dan sumber dayanya (tapi nyerempet2 sih...).
 
rgds,
eka
 
http://www.suarapembaruan.com/News/2003/03/18/Nasional/nas02a.htm

Indonesia Perjuangkan Utang Diganti Penyelamatan Lingkungan

KYOTO - Indonesia akan memperjuangkan program debt to nature swap (konversi
utang dengan program-program penyelamatan lingkungan), terutama untuk
sektor pertanian, pada Senior Official Meeting (SOM) Forum Air Dunia di
Kyoto, Jepang, Selasa (18/3).

SOM yang membahas masalah air untuk pangan dan pertanian dimulai dalam
Forum Air Dunia di Balai Sidang Internasional, Kyoto, Jepang. Dalam
pertemuan yang akan menyiapkan deklarasi bersama para menteri dalam masalah
air tersebut, Indonesia diwakili oleh Direktur Jenderal Departemen
Pertanian, Dr Ir Ato Suprapto, dan Staf Ahli Menteri Bidang Pengembangan
Keahlian dan Tenaga Fungsional, Departemen Kimpraswil, Ir Siswoko.

Menurut Ato, juru bicara delegasi Indonesia dalam SOM tersebut, ada tiga
usulan program yang diperjuangkan dalam pertemua kali ini.

Usulan pertama adalah peningkatan keamanan dan ketahanan untuk jangka waktu
tiga tahun. Indonesia mengusulkan total dana sebesar US$ 34 juta.

Usulan selanjutnya adalah tentang manajemen irigasi untuk daerah-daerah
Lampung, Jateng, NTB, Jabar, Jatim, dan Bali. Jika disetujui, program ini
akan di danai sebesar 460 ribu dolar untuk jangka waktu tiga tahun.
Sedangkan program yang ketiga adalah program pengembangan dan peningkatan
produksi tanaman hortikultura yang meliputi Banten, Jabar, Jatim, Jateng,
Yogyakarta, dan Bali.

Selain itu, Indonesia juga akan membahas masalah kehilangan produksi akibat
kekeringan, pendapatan petani, dan peluang kerja di sektor pertanian.
Sektor pertanian merupakan konsumen air tertinggi saat ini di seluruh
dunia. Menurut Daniel Zimmer, Direktur Badan Air Dunia yang berbicara pada
sesi Virtual Water Trade and Geopolitics, kemarin, sektor pertanian
merupakan konsumen air terbesar saat ini.

"Sekitar 70 persen konsumsi air dunia di serap oleh sektor pertanian," ujar
Daniel seperti dilaporkan wartawan Pembaruan Setia Lesmana dari Kyoto,
Jepang. Sebagai contoh untuk memproduksi satu kilogram beras dibutuhkan
3.000-5.000 liter air untuk menumbuhkan padi hingga panen.

Artinya jika setiap hari, satu keluarga mengkonsumsi beras sebanyak tiga
kilo gram maka air yang dikonsumsi melalui padi sebanyak 9.000 - 15.000 liter.

Sementara itu Depkimpraswil menurut Siswoko akan membahas lima topik dalam
pertemuan tersebut. Hal pertama meliputi masalah air minum yang aman bagi
kesehatan serta sanitasi, kemudian masalah air untuk pangan dan
pengembangan permukiman, dan ketiga mengenai pencegahan pencemaran air dan
konservasi ekosistem.

Selanjutnya masalah keempat mengenai mitigasi bencana dan manajemen risiko
akibat bencana. serta kelima masalah manajemen sumber daya air dan
pembagian keuntungan atas pengelolaan air. Rencananya menurut Siswoko,
Menkimpraswil Sunarno akan memimpin pembahasan topik keempat yang diikuti
beberapa delegasi dari Negara lain.

Hal-hal yang dibahas dalam pertemuan pagi ini selanjutnya akan dibahas
dalam ministerial meeting besok (19/2) dan akan dijadikan bahan untuk
deklarasi para menteri tanggal 23 Februari nanti.

Beberapa kalangan berharap pemerintah dapat menyuarakan dan memperjuangkan
kepentingan rakyat Indonesia untuk mendapatkan akses atas air secara adil
dan murah.

"Kita harus berani bersikap independen dari kepentingan negara-negara maju
dan raksasa air global yang menginginkan pengelolaan air di Indonesia",
ujar Nila Ardianie Direktur Indonesia Forum on Globalization (Infog). Salah
satunya mengenai privatisasi air yag akan menguntungkan kepentingan pemodal
besar dunia.

Sementara itu Nadia Hadad dari International NGO forum on Indonesia (Infid)
menyayangkan ketiadaan koordinasi antardepartemen terkait dalam forum air
dunia yang ketiga ini. Ketiadaan koordinasi itu nampak dari terpencarnya
delegasi Indonesia berdasarkan kepentingan masing-masing. "Sangat sulit
memperjuangkan kepentingan Indonesia jika masing-masing departemen berjalan
dengan program sendiri-sendiri," ujarnya kepada Pembaruan.*


Kirim email ke