> ---------------------------------------------------------- > Visit Indonesia Daily News Online HomePage: > http://www.indo-news.com/ > Please Visit Our Sponsor > http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 > ---------------------------------------------------------- > > Precedence: bulk > > > Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka > PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom > E-mail: [EMAIL PROTECTED] > Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp > Xpos, No 32/II/12-18 September 99 > ------------------------------ > > KARIR MULADI HABIS > > (POLITIK): Skandal Bank Bali terbukti sebagai skandal politik pemerintah > Habibie. Muladi dituntut mundur karena menggunakan jabatannya untuk > menyebar > kebohongan. > > Hari Kamis (9/9) memang hari istimewa. Istimewanya bukan karena ramalan > akan > hari kiamat, betul terjadi hari itu. Tetapi, di gedung DPR terjadi > pembukaan > sebuah aib besar yang dilakukan oleh pemerintah transisi Habibie. > Pengusutan > skandal Bank Bali memasuki titik terang. > > Adalah Rudy Ramli si pembuka aib itu. Di hadapan Komisi VIII DPR, dengan > alot akhirnya Rudy mengakui bahwa teks pengingkaran yang dibacakan oleh > Mensesneg Muladi adalah bukan ia yang membuatnya. > > "Saya tanda tangan. Saya membaca. Tapi saya tidak mau komentar soal ini. > Saya ingin bapak-bapak mengerti posisi saya," kata Rudy Ramli yang > kelihatan > ketakutan akan teror yang kemungkinan muncul setelah kesaksiannya di DPR. > > Seperti dalam pemberitaan Xpos sebelumnya, di masyarakat pernah beredar > catatan harian Rudy Ramli yang menyebutkan sejumlah pertemuan antara dia > dengan beberapa pejabat tinggi negara, membahas kasus pencairan dana Bank > Bali Rp 950 milyar. Selain Dirut PT EGP Setya NOvanto dan Djoko S Tjandra, > tersebut dalam catatan harian Rudy adalah Timmy Habibie, Hariman Siregar, > Marimutu Manimaren, Bambang Subiyanto, AA Baramuli, Tanri Abeng dan bahkan > presiden Habibie. > > Catatan harian itu beredar luas di masyarakat sehingga membuat gerah > kabinet > Habibie. Tak ayal lagi, Rudy Ramli akhirnya dikejar-kejar geng Hariman > untuk > mencabut fakta yang sudah beredar di masayarakat itu. Bahkan Rudy pun > dipaksa untuk berpindah pengacara dari Amien Aryoso yang dekat dengan > PDI-P > dan beralih ke Adnan Buyung Nasution dan kawan-kawan. > > Tak lama kemudian, skenario tim sukses Habibie pun dijalankan. Rudy > dipaksa > menandatangi pernyataan di atas segel bahwa ia tidak pernah membuat > catatan > harian seperti yang pernah diserahkan kepada Kwik Kian Gie dan Hartoyo > yang > kemudian beredar luas di masyarakat itu. Namun saking cerobohnya tim > sukses > Habibie, surat pernyataan bantahan itu yang membacakan bukan Rudy, > melainkan > Mensesneg/Menkeh Muladi, yang secara jabatan tidak ada hubungannya. > > Oleh berbagai kalangan Muladi, dalam kapasitasnya sebagai Menteri Negara > Sekretaris negara/Menteri Kehakiman dinilai telah menggunakan simbol > lembaga negara untuk mencoba menghalang-halangi upaya penegakan hukum > dalam > skandal Bank Bali. Selain tidak patut, membacakan surat seorang warga > negara > bukanlah pekerjaan Mensesneg. Apalagi surat yang dibacakan belum dicek > kebenarannya. > > Sebab menurut mereka, membaca naskah seperti itu, bukan pekerjaan > Mensesneg > dan bukan pula pekerjaan seorang Menteri Kehakiman. Mengapa seorang > setaraf > Muladi bisa membaca surat bantahan seperti itu. > > "Saya pikir akan lebih baik kalau Muladi mengundurkan diri," kata Ridwan > Johnny, dosen perguruan tinggi di Ujungpandang. Atau bahkan Mulya Lubis > menyatakan, dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah, > Muladi mesti dimintai keterangan. Untuk mengungkapkan masalah rumit itu. > Juga agar diketahui dari mana ia memperoleh naskah tersebut, mengapa ia > baca > dan apakah ia memahami bahwa apa yang dia bacakan itu bisa disebut > menghalang-halangi pemeriksaan. > > Dipandang dari sisi hukum tata negara, menurut praktisi hukum Satya > Arinanto, kejadian itu menunjukkan begitu dominannya lembaga sekretariat > negara. Sejak Orde Baru, Mensesneg seakan berperan sebagai juru bicara > kepresidenan. "Muladi harus menjelaskan, mengapa ia membacakan surat > pernyataan Rudy Ramli itu di Sekretariat Negara dan dari mana surat itu > datang," kata Satya. > > Dan ternyata benar, bahwa surat itu berasal langsung dari Habibie. Dan > menurut pengakuan Muladi, Habibie sendirilah yang memintanya untuk > membacakan setelah sidang kabinet 26 Agustus lalu. > > Ketika ditanya wartawan, Muladi sempat grogi dan berusaha membersihkan > diri. > "Kalau dia (Rudy Ramli) menyangkal tak membuat surat pernyataan itu, ya > itu > urusan dia. Saya tidak ada urusan dengan itu. Namun saya mendapatkan surat > pernyataan itu dari seseorang yang dapat dipercaya sebelum sidang kabinet. > Karena menyangkut sejumlah menteri, surat pernyataan itu pun dibahas dalam > sidang kabinet. Presiden Habibie pun memerintahkan supaya surat itu > dibacakan saja, tanpa diberi komentar apa pun. Anggota Kabinet yang lain > juga setuju," ungkap Muladi. > > Menurut Muladi, dia sudah membacakan surat pernyataan Rudy Ramli itu di > Bina > Graha dengan tanpa komentar. Jadi, kalau Rudy kini menyangkal surat > tersebut, maka itu bukanlah urusan pemerintah. Pembacaan surat pernyataan > itu oleh pemerintah, semata-mata karena dalam skandal Bank Bali ini selalu > dikaitkan dengan nama sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara. > > Saat wartawan mencoba mengkonfirmasikan keyakinan Muladi pada surat > tersebut, Muladi menegaskan, pada waktu itu ia sangat yakin, surat itu > berasal dari Rudy Ramli. "Tentang benar tidaknya, urusan polisi. Itu > polisi > harus mengusut, kalau perlu dengan lie detector. Tidak bisa orang bikin > pernyataan seenaknya sendiri, nyebut Pak Bambang Subianto juga di dalamnya > di situ, ya 'kan. Jadi saya baca tanpa bunga tanpa penjelasan, pokoknya > ada > surat, baca!" kata Muladi. > > Kini skandal Bank Bali telah beranak berupa skandal jabatan Mensesneg. > Bukti > baru bahwa pemerintahan Habibie amburadul. Dan jalan terakhirnya, adili > kabinet Habibie. (*) > > --------------------------------------------- > Berlangganan mailing list XPOS secara teratur > Kirimkan alamat e-mail Anda > Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS > Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda > ke: [EMAIL PROTECTED] > > > ---------- > SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html > > ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ > Didistribusikan tgl. 14 Sep 1999 jam 04:57:09 GMT+1 > oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> > http://www.Indo-News.com/ > ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ > ______________________________________________________________ >From "Heri, Susyanto" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
